BI Jaga Stabilitas Nilai Tukar Rupiah di Tengah Konflik AS-Iran
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti, menyebut bank sentral akan terus hadir di pasar dalam rangka menjaga stabilitas nilai tukar. Langkah ini dilakukan untuk mencegah dampak dari meluasnya konflik Timur Tengah.
"Intervensi yang tegas dan konsisten akan terus kami lakukan melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, disertai dengan pembelian SBN di pasar sekunder," kata
Destry mengatakan pelemahan rupiah masih aligned dengan kondisi regional, yang month to date melemah 0,51%. Pelemahan ini relatif lebih baik dibandingkan kondisi mata uang di regional.
Baca Juga
Rupiah Nyaris Tembus Rp 17.000 per US$, Tertekan Permintaan Aset 'Safe Haven'
"Cadangan devisa tetap terjaga di level US$ 154,6 miliar akhir Januari 2026 dan arus masuk modal asing di pasar keuangan domestik selama tahun 2026 tercatat sejumlah Rp 25,7 triliun," ujar dia.
Diberitakan sebepumnya, rupiah merangsek mendekati posisi Rp 17.000 per US$. Pada Rabu (4/3/2026) pukul 09.03 WIB, rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sebesar -0,35% dan bertengger di posisi Rp 16.931 per US$.
Dolar AS hampir sepenuhnya menguat terhadap mata uang negara-negara mitra dagang Indonesia. Dolar AS menguat terhadap dolar Singapura sebesar 0,10%, baht Tailan sebesar 0,35%, peso Filipina sebesar 0,29%, ringgit Malaysia sebesar 0,04%, rupee India sebesar 0,55%, dan dolar Hongkong sebrsar 0,05%.
Dolar AS hanya melemah terhadap won Korea Selatan sebesar 0,35% dan yen Jepang sebesar 0,09%.
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro mengatakan imbal hasil US Treasury10 tahun naik 2,49 bps ke 4,06% (-10,8 bps ytd). Aksi serangan antara Iran dan sekutu AS di Timur Tengah memasuki hari keempat, dengan serangan terhadap fasilitas energi di Teluk Persia serta peringatan resmi Iran atas potensi serangan terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz.
"Permintaan aset safe haven terhadap dolar AS meningkat. Investor juga memandang AS sebagai tempat berlindung yang relatif aman karena tingkat kemandirian energinya yang lebih tinggi, sehingga menopang penguatan mata uang tersebut," ujar dia.

