Saham BSDE Disebut masih Menarik dan Dipertahankan Beli, Berikut faktor Pendorong
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Saham PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) tetap menarik dengan rekomendasi dipertahankan beli, meskipun realisasi kinerja keuangan hingga September 2025 mengalami penurunan.
Phintraco Sekuritas dalam laporan riset yang dipublikasikan beberapa waktu lalu menyebutkan bahwa saham BSDE direkomendasikan beli dengan target harga Rp 1.140 per saham, bandingkan dengan harga penutupan akhir pekan ini Rp 955.
Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas Nurwachidah menjelaskan bahwa estimasi nilai wajar dihitung menggunakan metode discounted cash flow (DCF) dan revalued net asset value (RNAV).
Baca Juga
Tuntaskan Akuisisi CBDK hingga Peluang Masuk MSCI, Saham PIK2 (PANI) Jadi Pilihan?
“Kami mempertahankan rating buy untuk BSDE dengan estimasi nilai wajar Rp 1.140 per saham yang mencerminkan 10,55 kali expected P/E tahun buku 2025 dan diskon 65% terhadap net asset value,” tulis riset Nurwachidah dalam keterangan tertulis, dikutip Sabtu (24/1/2026).
Dari sisi fundamental, laba bersih BSDE turun 49,5% secara tahunan (yoy) menjadi Rp 1,36 triliun pada September 2025. Sementara pendapatan turun 13% yoy menjadi Rp 8,76 triliun, seiring melemahnya penjualan tanah dan bangunan.
Meski kinerja laba dan pendapatan tertekan, marketing sales BSDE justru meningkat 4% yoy menjadi Rp 6,84 triliun atau setara 71% dari target tahun buku 2025 sebesar Rp 10 triliun. Segmen residensial dan komersial masih menjadi kontributor utama.
Baca Juga
Realisasi Marketing Sales 71%, BSDE Optimistis Pertumbuhan Berkelanjutan Tahun Ini
Peningkatan marketing sales tersebut didorong oleh stabilnya permintaan segmen residensial menengah serta kontribusi dari sejumlah proyek utama Perseroan. Phintraco Sekuritas memperkirakan pendapatan BSDE pada 2025 dapat tumbuh sekitar 2,3% yoy menjadi Rp 14 triliun.
Prospek tersebut ditopang stimulus insentif loan to value (LTV), kebijakan PPN ditanggung pemerintah, serta kondisi moneter yang lebih longgar pasca penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia hingga 125 bps per Oktober 2025.
Satuan Tugas (Satgas) Perumahan memproyeksikan sektor properti tumbuh 8-10% pada era pemerintahan Prabowo Subianto. Selain telah melewati siklus terendah, sektor proerti bakal ditopang laju perekonomian yang ditargetkan tumbuh di atas 5%.
Baca Juga
Menurut anggota Satgas Perumahan Panangian Simanungkalit, pelemahan sektor properti telah terjadi dalam beberapa tahun terakhir akibat ekonomi yang tumbuh terbatas. Kini, sektor tersebut mulai bangkit.
“Properti itu kan sudah agak melemah sejak beberapa tahun lalu, terutama karena pertumbuhan ekonomi hanya berkisar 4%. Kalau kita lihat antara 2014-2024, rata-rata cuma tumbuh 4,3%, termasuk karena faktor Covid-19,” kata Panangian.

