Saham Emiten Teraffiliasi Boy Thohir Moncer Ditopang Reli Emas dan Hilirisasi Nikel, Bakal Berlanjut?
JAKARTA, investortrust.id – Kinerja saham-saham yang terafiliasi dengan pengusaha nasional Garibaldi Thohir atau lebih akrab dipanggil Boy Thohir tampil moncer sepanjang tahun berjalan, ditopang reli emas dan tema hilirisasi nikel.
Dengan total kapitalisasi pasar portofolio mencapai Rp 575,97 triliun per 24 Februari 2026, saham-saham yang dimiliki Boy Thohir mencatatkan pertumbuhan agregat 82,46% secara year to date (ytd) dan 98,37% secara tahunan (yoy).
Kenaikan signifikan terutama datang dari sektor pertambangan emas dan nikel yang tengah menikmati momentum harga komoditas global.
Baca Juga
Boy Thohir Ingin Indonesia Dihormati Dunia karena Kemandirian Ekonomi
Saham PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) menjadi kontributor kapitalisasi pasar terbesar, yakni Rp 134,70 triliun. Kinerjanya melesat 54,39% (ytd) dan 136,56% (yoy).
Secara sektoral, emas kembali menjadi instrumen lindung nilai (safe haven) di tengah ketidakpastian global dan volatilitas pasar keuangan. Tren suku bunga global yang mulai melandai serta meningkatnya permintaan aset defensif memperkuat sentimen terhadap emiten tambang emas.
Di sektor mineral strategis, PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) dengan kapitalisasi pasar Rp 95,04 triliun mencetak kenaikan harga saham 54,39% (ytd) dan 136,56% (yoy). Sementara PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) menguat 66,23% (ytd) dan 120,99% (yoy) dengan market cap Rp 92,75 triliun.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Muhammad Nafan Aji Gusta memandang, kinerja tersebut mencerminkan kuatnya tema hilirisasi nikel dan tembaga sebagai bagian dari rantai pasok baterai kendaraan listrik (EV).
“Permintaan global terhadap bahan baku baterai dan transisi energi hijau menjadi katalis jangka menengah-panjang bagi emiten berbasis mineral kritis,” ujarnya, Rabu (25/2/2026).
Batu Bara Solid
Di segmen batu bara, PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) melonjak 29,49% (ytd) dan 147,85% (yoy) dengan kapitalisasi Rp 82,58 triliun. Sementara PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) naik 28,32% (ytd) dan 17,76% (yoy) dengan market cap Rp 69,69 triliun.
Meski harga batu bara lebih stabil dibanding periode boom sebelumnya, fundamental emiten dinilai solid berkat efisiensi biaya dan diversifikasi ke energi baru terbarukan (EBT).
Baca Juga
Usai Cetak Rekor Baru, Saham Merdeka Gold (EMAS) kini Menuju Resistance Rp 9.375
“Valuasi saham bisa lebih atraktif jika AADI menjalankan strategi transisi energi sehingga meningkatkan eksposur pada investor institusi global. Ini bisa memberikan keuntungan bagi ADRO dan AADI,” papar Nafan.
Mirae Asset Sekuritas membidik target harga saham ADRO Rp 2.550 dari posisi Rp 2.360.
Di luar tambang, saham pembiayaan seperti PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN) naik 9,29% (ytd), mencerminkan pemulihan daya beli dan pembiayaan konsumtif. PT Provident Investasi Bersama Tbk (PALM) juga menguat 3,68% (ytd) dan 21,6% (yoy).
Sementara PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk (TRIM) terkoreksi 11,28% (ytd), namun masih melonjak 68,57% (yoy), seiring meningkatnya aktivitas pasar modal dalam setahun terakhir.
Baca Juga
Merdeka Gold (EMAS) Tuntaskan First Gold Pour di Tambang Pani Lebih Cepat, Produksi Resmi Dimulai
Adapun PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA) dan PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk (WOMF) masih mencatat koreksi tahunan, mencerminkan tekanan sektoral yang lebih spesifik.
Secara keseluruhan, analis menilai reli kuat saham berbasis komoditas, emas, nikel, tembaga, dan batu bara, menjadi mesin utama pertumbuhan portofolio Boy Thohir. Konsentrasi pada sektor dengan katalis global kuat serta dukungan kebijakan hilirisasi domestik dinilai mendorong kinerja saham tetap moncer di awal 2026.
“Jika tren harga komoditas dan tema transisi energi berlanjut, saham-saham di bawah portofolio ini berpotensi mempertahankan momentum positif dalam jangka menengah,” tutup Nafan.

