Harga Nikel Sentuh Level Tertinggi 9 Bulan, Saham Emiten Nikel bakal Lanjut Reli?
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Harga nikel global di London Metal Exchange (LME) melanjutkan reli dengan kenaikan 1,1% ke level US$ 17.003 per ton pada Senin (5/1/2026). Penguatan ini menandai posisi tertinggi harga nikel dalam sembilan bulan terakhir.
Reli harga nikel sejalan dengan narasi pasar terkait rencana Indonesia, sebagai produsen nikel terbesar dunia, untuk mengurangi pasokan guna menopang harga komoditas tersebut.
Baca Juga
Pinago Utama (PNGO) Bagikan Dividen Interim Rp 70,31 Miliar, Nilai per Saham Segini
Investment Analyst Stockbit Sekuritas, Theodorus Melvin, mengungkapkan bahwa Direktur Jenderal Mineral dan Batubara (Minerba) Kementerian ESDM, Tri Winarno, menyampaikan pemerintah membuka opsi penyesuaian produksi bijih nikel nasional pada 2026 menjadi di bawah 300 juta ton.
Angka tersebut lebih rendah dibandingkan estimasi realisasi produksi 2025 yang diperkirakan mencapai sekitar 319 juta ton. Sebagai perbandingan, target produksi bijih nikel nasional pada 2025 sendiri ditetapkan sekitar 220 juta ton.
Tri juga menegaskan adanya perbedaan antara target produksi nasional yang ditetapkan pemerintah dengan kuota produksi yang disetujui dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) perusahaan. Kuota RKAB umumnya lebih besar dibandingkan target nasional.
Baca Juga
Pemerintah Tolak Sebut Ada Pemangkasan Produksi Batu Bara dan Nikel
Lebih lanjut, kenaikan harga nikel dinilai berpotensi memberikan sentimen positif jangka pendek bagi emiten sektor nikel, seperti PT Vale Indonesia Tbk (INCO), PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL), PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), PT Central Omega Resources Tbk (DKFT), dan PT Pam Mineral Tbk (NICL).
Sentimen positif tersebut terutama berasal dari potensi peningkatan harga jual rata-rata (average selling price/ASP) serta margin laba perseroan. Dari sisi teknikal, analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana atau Didit merekomendasikan saham INCO dengan target harga Rp 6.050–6.250.
Sementara itu, saham NCKL ditargetkan di kisaran Rp 1.360–1.420, saham EMAS Rp 6.100–6.400, saham DKFT Rp 1.000–1.070, serta saham MDKA dengan target harga Rp 2.820–2.900.

