Bitcoin Jatuh Makin Dalam ke US$ 62.900-an, Tarif Trump dan Isu Iran Picu Gelombang Likuidasi Ratusan Juta Dolar
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Bitcoin melemah dan sempat turun di bawah level US$ 62.900 pada perdagangan Selasa (24/2/2026) siang waktu Asia, memperpanjang pelemahan sejak semalam di tengah sentimen negatif akibat kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump, serta kekhawatiran terhadap dampak kecerdasan buatan (AI) pada pasar keuangan global.
Kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar ini tercatat turun hampir 7% sepanjang pekan berjalan, diperdagangkan pada kisaran yang terakhir terlihat pada 6 Februari, ketika harga nyaris menyentuh US$ 60.000.
Wakil Presiden Kraken sekaligus host Trading Spaces, Matt Howells-Barby, menilai tekanan Bitcoin saat ini sejalan dengan pelemahan pasar saham. “Ketidakpastian terkait tarif yang diperbarui serta meningkatnya ketegangan geopolitik cenderung bersifat bearish bagi BTC dalam jangka pendek,” ujarnya melansir CoinDesk, Selasa (24/2/2026).
Howells-Barby menambahkan, US$ 60.000 menjadi level support kunci yang diawasi pelaku pasar. “Jika level tersebut gagal bertahan, ada potensi pergerakan menuju kisaran US$ 50.000-an,” katanya.
Baca Juga
Michael Saylor dan Vitalik Buterin Beda Pendapat Soal Ancaman Kuantum di Tengah Pelemahan Bitcoin
Tekanan juga datang dari pasar saham AS. Wall Street jatuh pada Senin setelah Trump menyatakan akan memberlakukan tarif sementara 15% atas impor dari sejumlah negara, meningkat dari 10% yang diumumkan sebelumnya, menyusul putusan Supreme Court of the United States yang membatalkan strategi tarif lama. Di saat yang sama, investor terus melepas saham-saham yang dinilai berisiko terdampak revolusi AI.
Dari sisi teknikal, sejarah pergerakan Bitcoin menunjukkan potensi koreksi lebih dalam. Secara historis, titik terendah pasar bearish utama baru tercapai ketika rata-rata pergerakan 50 minggu menembus ke bawah rata-rata 100 minggu (bear cross), seperti pada 2018 dan 2022. Saat ini, kedua indikator tersebut belum bersilangan, sehingga ruang penurunan dinilai masih terbuka.
Meski demikian, analis menekankan indikator teknikal bersifat lagging dan tidak menjamin hasil di masa depan. Pelaku pasar tetap mencermati perkembangan kebijakan global dan level teknikal krusial untuk menentukan arah pergerakan Bitcoin selanjutnya.
Baca Juga
Ketidakpastian Tarif AS Berlanjut, Investor Bitcoin Siap-siap Hadapi Koreksi
Secara terpisah, Financial Expert Ajaib Panji Yudha menyebut, Bitcoin (BTC) anjlok di bawah US$ 65.000 pada awal pekan ini, tertekan sentimen makro dan geopolitik. Tekanan muncul setelah Presiden Donald Trump menaikkan tarif global dari 10% menjadi 15%, meskipun Mahkamah Agung AS sebelumnya membatalkan penggunaan kewenangan darurat untuk kebijakan tersebut. Ketidakpastian perdagangan global kembali memicu aksi risk-off.
Selain itu, Trump menyatakan akan memutuskan dalam 10 hari apakah AS akan menyerang Iran, menyusul penolakan Iran terhadap proposal kesepakatan nuklir baru. Ketegangan di Timur Tengah turut memperburuk sentimen pasar.
Secara year to date (YTD), Bitcoin telah turun sekitar 24%, berbanding terbalik dengan emas (+20%) dan perak (+23%) yang menguat sebagai aset safe haven. Dari sisi derivatif, data Coinglass menunjukkan pasar kripto mengalami guncangan besar dalam 24 jam terakhir. Total likuidasi mencapai US$ 619,89 juta dan berdampak pada 164.178 trader. Likuidasi didominasi oleh posisi long sebesar US$ 523,47 juta, sedangkan posisi short tercatat US$ 96,41 juta.
Tekanan likuidasi besar pada posisi beli menunjukkan bahwa sebagian pelaku pasar sebelumnya masih mengantisipasi potensi rebound. Namun, kombinasi sentimen makro dan geopolitik mempercepat koreksi, sehingga memicu liquidation. Hari ini, Bitcoin berpotensi bergerak di rentang harga US$ 63.000 hingga US$ 67.000. Ethereum berpotensi bergerak di sekitar US$ 1.800 hingga US$ 2.000.

