Michael Saylor dan Vitalik Buterin Beda Pendapat Soal Ancaman Kuantum di Tengah Pelemahan Bitcoin
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – CEO Strategy Michael Saylor menepis kekhawatiran bahwa komputasi kuantum akan menjadi ancaman serius bagi Bitcoin dalam waktu dekat. Menurutnya, komunitas keamanan siber global sepakat bahwa ancaman kuantum yang benar-benar kredibel kemungkinan baru akan muncul lebih dari satu dekade mendatang. Ia menegaskan, meskipun risiko komputasi kuantum masih menjadi perdebatan, ekosistem digital global akan memiliki cukup waktu untuk beradaptasi.
Komputasi kuantum merupakan ancaman besar bagi kriptografi karena dapat menghancurkan sistem kunci-kunci matematis yang mengamankan hampir setiap aset digital. Sementara komputer klasik membutuhkan waktu triliunan tahun untuk menebak kunci privat Bitcoin, komputer kuantum yang cukup kuat dapat menemukan kunci tersebut dari alamat publik dalam hitungan menit, sehingga memungkinkan penyerang untuk membongkar dan menguras dompet dengan bebas.
Saylor mengatakan, jika suatu saat terjadi terobosan kuantum yang benar-benar mengancam sistem kriptografi, maka akan ada respons terkoordinasi secara global. Peningkatan perangkat lunak, menurutnya, tidak hanya akan dilakukan pada protokol kripto seperti Bitcoin, tetapi juga mencakup sistem perbankan, infrastruktur internet, perangkat konsumen, hingga jaringan kecerdasan buatan.
“Perangkat lunak Bitcoin memang dirancang untuk berevolusi. Node, perangkat keras, dan dompet dapat ditingkatkan ketika ancaman nyata benar-benar muncul,” ujar Saylor dilansir dari Cointelegraph, Selasa (24/2/2026).
Ia menambahkan, konsensus global terkait respons hanya akan terbentuk jika ancaman tersebut benar-benar kredibel dan dirasakan bersama oleh pemerintah, perusahaan teknologi, serta lembaga keuangan.
Baca Juga
Ketidakpastian Tarif AS Berlanjut, Investor Bitcoin Siap-siap Hadapi Koreksi
Lebih lanjut, Saylor menyebut sektor kripto sebagai “komunitas keamanan siber paling canggih di dunia”. Ia menilai praktik seperti penggunaan otentikasi multi-faktor dan perlindungan kunci berbasis perangkat keras membuat standar keamanan kripto, khususnya Bitcoin, lebih ketat dibandingkan sistem transfer perbankan tradisional maupun perdagangan saham.
“Saya yakin komunitas kripto akan menjadi yang pertama menyadari ancaman itu, bereaksi, dan memimpin respons global,” katanya.
Di sisi lain, komputasi kuantum tetap menjadi topik sensitif di industri kripto. Teknologi ini digadang-gadang mampu memproses informasi jauh lebih cepat dibanding komputer klasik, sehingga berpotensi memecahkan kriptografi yang selama ini melindungi aset digital.
Perusahaan Saylor, Strategy, saat ini tercatat sebagai perusahaan perbendaharaan Bitcoin terbesar di dunia. Pada Senin lalu, perusahaan yang berbasis di Tysons Corner, Virginia, mengumumkan pembelian tambahan 592 BTC senilai sekitar US$ 39,8 juta. Dengan akuisisi tersebut, Strategy kini memegang 717.722 BTC yang diperoleh dengan total nilai sekitar US$ 54,56 miliar atau rata-rata US$ 67.286 per koin.
Namun, tidak semua tokoh kripto sepakat dengan pandangan Saylor. Salah satu pendiri Ethereum, Vitalik Buterin, sebelumnya menyampaikan kekhawatiran bahwa ancaman kuantum bisa datang lebih cepat. Mengutip platform peramalan Metaculus, Buterin menyebut ada sekitar 20% peluang komputer kuantum yang mampu memecahkan kriptografi modern muncul sebelum 2030, dengan estimasi median sekitar 2040.
Baca Juga
Satgas PASTI Bongkar Dugaan Penipuan Berkedok Trading Kripto dan Periklanan Digital
Dalam forum Devconnect di Buenos Aires, Buterin bahkan memperingatkan bahwa kriptografi kurva eliptik fondasi keamanan Bitcoin dan Ethereum berpotensi gagal sebelum Pemilu Presiden AS 2028. Ia mendorong transisi ke sistem kriptografi tahan kuantum dalam empat tahun ke depan.
Sejalan dengan itu, Yayasan Ethereum telah memasukkan kesiapan pasca kuantum ke dalam peta jalan keamanan 2026. Peneliti Ethereum, Justin Drake, pada Januari lalu mengumumkan pembentukan tim khusus Pasca-Kuantum, yang disebut sebagai titik balik strategi jangka panjang Ethereum menghadapi risiko kuantum.
Isu ini bahkan sempat dikaitkan dengan pergerakan harga Bitcoin. Sejumlah pelaku pasar berspekulasi bahwa kekhawatiran komputasi kuantum menjadi salah satu faktor di balik penurunan harga Bitcoin dari puncak di atas US$ 126.000 pada Oktober lalu ke kisaran US$ 64.000 saat ini.
Mitra Castle Island Ventures, Nic Carter, menilai kinerja Bitcoin yang “misterius” di bawah ekspektasi bisa dipengaruhi oleh kekhawatiran tersebut. Namun pandangan ini dibantah analis Glassnode, James Check, yang menegaskan bahwa meski rencana mitigasi kuantum penting disiapkan. Di mana, ancaman tersebut bukan alasan utama pelemahan harga Bitcoin belakangan ini.
Harga Bitcoin Jatuh Lagi
Harga Bitcoin kembali melemah dalam 24 jam terakhir. Berdasarkan data Coinmarketcap, Selasa (24/2/2025) pagi waktu Asia, Bitcoin diperdagangkan di level US$ 64.646,53, turun 4,34% dalam sehari dan menandai tekanan lanjutan setelah gagal mempertahankan area di atas US$ 67.000. Penurunan harga tersebut turut menekan kapitalisasi pasar Bitcoin yang kini tercatat sekitar US$ 1,29 triliun, terkoreksi 4,41% secara harian. Pergerakan ini terjadi di tengah lonjakan aktivitas perdagangan, dengan volume transaksi 24 jam melonjak 186,72% menjadi sekitar US$ 51,13 miliar.
Rasio volume terhadap market cap tercatat di kisaran 3,97%, mengindikasikan meningkatnya aksi jual dan perpindahan kepemilikan dalam waktu singkat. Sementara itu, Fully Diluted Valuation (FDV) Bitcoin berada di level US$ 1,35 triliun, mencerminkan valuasi maksimal jika seluruh suplai beredar.
Dari sisi suplai, Bitcoin yang beredar hampir mencapai batas maksimum, yakni sekitar 19,99 juta BTC dari total suplai maksimum 21 juta BTC. Adapun kepemilikan Bitcoin oleh entitas perbendaharaan (treasury holdings) tercatat sekitar 1,17 juta BTC, menunjukkan porsi signifikan masih dipegang oleh institusi dan korporasi.
Secara teknikal, grafik pergerakan harga 24 jam terakhir menunjukkan tekanan jual kuat sejak awal perdagangan, diikuti fase konsolidasi, sebelum kembali melemah mendekati area US$ 64.000. Pola ini mencerminkan sentimen pasar yang masih berhati-hati, seiring meningkatnya volatilitas dan ketidakpastian arah pergerakan jangka pendek. Pelaku pasar kini mencermati apakah area US$ 64.000 akan menjadi level penopang (support) terdekat, atau justru membuka ruang koreksi lanjutan apabila tekanan jual berlanjut dalam beberapa hari ke depan.

