Gelombang Likuidasi Kripto Hapus Dana Rp 10 Triliun, Bitcoin Jadi Biang Keroknya?
JAKARTA, investortrust.id - Pasar kripto mengawali pekan ini dengan penurunan tajam, di mana gelombang likuidasi dalam 24 jam terakhir telah menghapus dana senilai US$ 620,5 juta atau setara Rp 10 triliun pada Senin (10/3/25).
Pasalnya Bitcoin telah turun di bawah US$ 80.000, menandai penurunan 14% dalam seminggu. Menilik data Coinmarketcap, Selasa (11/3/2025) pukul 06.00 WIB koin kripto nomor wahid ini tengah diperdagangkan pada US$ 79.468 dan terendah dalam empat bulan terakhir. Sementara Ethereum telah jatuh ke US$ 1.881, terendah sejak November 2023.
Aksi jual besar-besaran ini dipicu oleh anjloknya harga Bitcoin. Penurunan mendadak ini memicu margin call secara luas, memaksa para trader keluar dari posisi leverage mereka dan semakin meningkatkan volatilitas di seluruh pasar.
Berdasarkan data dari Coinglass (10/3/25), dalam 24 jam terakhir terjadi guncangan besar di pasar kripto dengan 225.381 trader mengalami likuidasi. Posisi long mengalami kerugian terbesar, dengan total likuidasi mencapai US$ 529,4 juta. Sementara itu, posisi short mengalami likuidasi sebesar US$ 91,1 juta.
Bitcoin menjadi pemimpin dalam gelombang likuidasi ini, dengan posisi senilai US$ 239,5 juta terhapus. Dari jumlah tersebut, US$ 205,6 juta berasal dari trader long yang terjebak dalam penurunan pasar, sehingga memicu aksi jual paksa. Likuidasi tunggal terbesar terjadi di Binance, di mana posisi BTC/USDT senilai US$ 32 juta terhapus.
Baca Juga
Sasar Klien Institusi, Bursa Singapura Bakal Rilis Bitcoin Futures di Tahun Ini
Analis Ash Crypto menyoroti tingkat keparahan gejolak pasar baru-baru ini dalam unggahan di X. “Likuidasi long Bitcoin di semua bursa melampaui kehancuran 3AC, Celsius, dan FTX,” tulisnya.
Namun ia mengaku masih optimis dengan kripto pada tahun 2025. Koreksi ini menurutnya merupakan bagian dari bull cycle.
I’m still Bullish on crypto in 2025,
— Ash Crypto (@Ashcryptoreal) March 10, 2025
These corrections are part of the
Bull Cycle. It’s a shame that all the
memecoins sucked liquidity from
Utility alts and they didn’t bounce
properly But I think once market
recovers and Bitcoin hits new ATH,
Utility tokens will pump hard.
Baca Juga
Perdana Menteri Bhutan Sebut Cadangan Bitcoin Menguntungkan Rakyatnya
Data dari CryptoQuant menunjukkan bahwa likuidasi long Bitcoin melonjak hingga 14.714 BTC pada hari sebelumnya. Sebagai perbandingan, 13.453 BTC terlikuidasi saat krisis Celsius, 1.807 BTC selama kehancuran FTX, dan 1.311 BTC saat runtuhnya Three Arrows Capital (3AC).
Gelombang likuidasi ini terjadi di tengah perjuangan Bitcoin yang menghadapi tekanan jual baru di pasar. Berlawanan dengan ekspektasi, perintah eksekutif Strategic Bitcoin Reserve yang dikeluarkan oleh Presiden AS Donald Trump justru memicu penurunan tajam dalam nilai Bitcoin.
Selain itu, ketakutan akan resesi yang semakin meningkat semakin memperburuk tren penurunan ini, menambah ketidakpastian di pasar.
Hayes memperkirakan bahwa jika Bitcoin gagal bertahan di US$ 78.000, maka level US$ 75.000 akan menjadi support kritis berikutnya. Ia juga menyoroti besarnya open interest (OI) dalam opsi Bitcoin di kisaran US$ 70.000 hingga US$ 75.000.
Dampak besar dari penurunan harag Bitcoin terasa di seluruh sektor kripto. Total kapitalisasi pasar kripto anjlok US$ 148 miliar, dengan Ethereum menjadi aset kedua yang paling terdampak, mencatat likuidasi sebesar US$ 108,5 juta.
Namun tidak semua whale mengalami kerugian akibat guncangan pasar ini. Lookonchain melaporkan bahwa seorang whale lain berhasil melakukan short Bitcoin berkali-kali selama penurunan harga baru-baru ini, menghasilkan laba belum terealisasi lebih dari US$ 7,5 juta.

