Awal Ramadan, Harga Bitcoin Loyo dan Ini yang Harus Diantisipasi Investor
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Memasuki awal Ramadan 2026, harga Bitcoin (BTC) pada perdagangan Kamis (19/2/2026) pagi sempat berada di kisaran US$ 66.000, turun lebih dari 45% dari rekor tertinggi US$ 126.000 yang dicapai pada Oktober 2025. Tekanan ini menandai salah satu fase paling menantang bagi pasar kripto sejak siklus 2022.
Penurunan ini tidak hanya bersifat teknikal. Pada 5 Februari lalu, Bitcoin sempatmenyentuh area US$ 62.000, memicu likuidasi leverage senilai lebih dari US$ 2 miliar dalam sepekan. Dalam tiga bulan terakhir, dana keluar (outflow) dari ETF Bitcoin spot mencapai US$ 6,18 miliar, termasuk tekanan jual pada produk IBIT milik BlackRock yang sebelumnya menjadi penopang utama arus masuk institusional.
Korelasi Bitcoin dengan indeks saham teknologi (Nasdaq) kini lebih kuat dibandingkandengan emas, mematahkan sementara narasi “emas digital”. Kekhawatiran pasar terhadap valuasi sektor AI dan rotasi modal dari aset berisiko turut memperburuk tekanan di kripto.
Baca Juga
Tekanan Jual Mereda, Analis Nilai Bitcoin Berpeluang Pulih Akhir Maret
Analyst Reku Fahmi Almuttaqin menilai, tekanan saat ini lebih mengarah pada fasekonsolidasi dibandingkan pelemahan fundamental industri. “Untuk memulihkan tren bullish, Bitcoin perlu kembali menembus US$ 80.000 yang merupakan area MA 50-hari. Selama itu belum terjadi, pasar berpotensi bergerak dalam fase konsolidasi. Jika support US$ 65.000 kembali ditembus dengan volume signifikan, area US$ 55.000-60.000 dapat menjadi rentang harga berikutnya,” ujar Fahmi, Kamis (19/2/2026).
Tahun 2026 yang merupakan tahun pemilu paruh waktu (midterm) di AS juga berpotensi memperpanjang volatilitas. Secara historis, tahun midterm kerap diwarnai koreksi rata-rata sekitar 18% pada S&P 500 sebelum akhirnya mengalami pemulihan setelah Pemilu.
Baca Juga
Tekanan Jual Meningkat, Analis Waspadai Penurunan Harga Bitcoin di Bawah US$ 56.000
Dinamika ini dapat turut memengaruhi aset berisiko secara global, termasuk kripto.Meski demikian, sejumlah indikator fundamental industri tetap menunjukkan Penguatan. BlackRock, misalnya, telah memperbarui proposal ETF Ethereum spot untuk fitur staking, yang berpotensi membuka akses imbal hasil bagi investor tradisional melalui infrastruktur teregulasi. Di sisi lain, pertumbuhan adopsi Real World Assets (RWA), khususnya di jaringan Ethereum, terus berkembang dan berpotensi meningkat Kan permintaan aset kripto secara struktural.
Fahmi menambahkan bahwa dalam fase seperti ini, selektivitas menjadi faktor kunci. “Tidak semua aset kripto akan mampu bertahan dalam tekanan likuiditas. Aset dengan likuiditas besar, distribusi volume yang sehat, dan dukungan fundamental yang jelas memiliki peluangbertahan lebih tinggi. Fase konsolidasi panjang sering kali menjadi periode pembentukan fondasi sebelum siklus berikutnya," katanya.
Dengan tekanan harga yang masih berlangsung dan dinamika makro global yang belum sepenuhnya stabil, pergerakan Bitcoin dalam beberapa bulan ke depan akan ditentukan oleh kemampuan pasar mempertahankan area support krusial. Serta perkembangan sentimen global terhadap aset berisiko.
Sementara itu, menurut Analis Tokocrypto Fyqieh Fachrur, respons pasar kripto kali ini mencerminkan penyesuaian cepat terhadap sinyal kebijakan moneter AS. “Nada minutes yang hawkish membuat pelaku pasar kembali menghitung ulang peluang penurunan suku bunga dalam waktu dekat. Ketika ekspektasi pemangkasan mundur, aset berisiko seperti Bitcoin cenderung ikut tertekan,” ujarnya.
Risalah rapat Januari yang dipublikasikan Rabu (18/2/2026) waktu setempat menunjukkan beberapa pejabat The Fed menilai belum ada urgensi untuk kembali melanjutkan pemangkasan suku bunga. Sejumlah anggota bahkan membuka ruang untuk kenaikan suku bunga jika inflasi tetap bertahan di atas target 2%.
Dalam rapat 27–28 Januari, Komite Pasar Terbuka Federal (Federal Open Market Committee/FOMC) memutuskan menahan suku bunga acuan di kisaran 3,5%–3,75% melalui voting 10-2. Dua anggota yang berbeda pendapat, Gubernur Christopher Waller dan Stephen Miran, mendorong penurunan seperempat poin dengan alasan risiko pada pasar tenaga kerja.
Namun mayoritas anggota FOMC menilai pelonggaran lebih lanjut di tengah inflasi yang belum sepenuhnya stabil dapat melemahkan komitmen terhadap target inflasi 2%. Minutes juga mencatat adanya pembahasan mengenai kemungkinan “penyesuaian ke atas” suku Bunga apabila tekanan harga tidak mereda sesuai harapan.
Tekanan Makro dan Geopolitik
Bitcoin sempat meluncur dari sekitar US$ 68.300 ke bawah US$ 66.500 setelah minutes dirilis pada sesi perdagangan AS. Tekanan makin kuat di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik AS-Iran yang mendorong harga minyak naik lebih dari 4% dan menekan selera risiko investor global.
Fyqieh menilai faktor geopolitik turut memperbesar tekanan pada aset berisiko. “Ketika risiko geopolitik naik dan harga minyak melonjak, pasar cenderung masuk mode risk off. Itu biasanya membuat volatilitas kripto meningkat karena investor mengurangi eksposur,” katanya.
Di sisi lain, kembalinya likuiditas pasar Asia usai libur Tahun Baru Imlek juga membuat pergerakan harga lebih tajam. Peningkatan volume dan perputaran perdagangan dinilai memperbesar tekanan jual dalam jangka pendek.

