Tekanan Jual Meningkat, Analis Waspadai Penurunan Harga Bitcoin di Bawah US$ 56.000
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Harga Bitcoin (BTC) berpotensi melanjutkan pelemahan hingga Februari 2026, seiring terbentuknya pola grafik bearish dan meningkatnya aktivitas whale di bursa kripto Binance.
Berdasarkan pergerakan terbaru, Bitcoin diperdagangkan di kisaran US$ 67.570. Secara teknikal, aset kripto terbesar tersebut membentuk pola bear pennant pada grafik harian. Pola ini biasanya muncul setelah penurunan tajam yang diikuti fase konsolidasi dalam pola segitiga menyempit, dan kerap berujung pada pelemahan lanjutan.
Struktur tersebut terbentuk setelah aksi jual besar yang mendorong harga ke zona US$ 60.000. Saat ini, harga bergerak terkompresi di bawah sejumlah rata-rata pergerakan utama, mengindikasikan momentum yang masih lemah.
Melansir Cointelegraph, Rabu (18/2/2026) jika terjadi penembusan tegas di bawah level support pola tersebut, harga Bitcoin berpotensi turun hingga di bawah US$ 56.000 atau sekitar 20% dari level saat ini. Sebaliknya, apabila harga mampu menembus garis tren atas yang berdekatan dengan level Exponential Moving Average (EMA) 20 hari di kisaran US$ 72.700, maka skenario bearish dapat batal.
Baca Juga
Bitcoin Tembus US$ 70.000 di Tengah Pasar yang Masih Dibayangi Ketakutan Ekstrem
Tekanan jual juga tercermin dari meningkatnya rasio arus masuk whale ke Binance. Data dari CryptoQuant menunjukkan rasio arus masuk whale (rata-rata tujuh hari) melonjak ke rekor 0,619, dibandingkan 0,40 pada awal bulan. Rasio ini mengukur kontribusi 10 transaksi BTC terbesar terhadap total arus masuk ke bursa, yang kerap diartikan sebagai sinyal potensi tekanan jual dari investor besar.
Namun demikian, terdapat sinyal penyeimbang dari indikator sentimen pasar. Indeks Sentimen Fear & Greed milik Matrixport menunjukkan rata-rata pergerakan 21 hari telah turun di bawah nol dan mulai berbalik naik. Secara historis, kondisi tersebut kerap berkorelasi dengan pembentukan titik terendah jangka menengah yang relatif stabil.
Kendati demikian, analis menilai sinyal tersebut tidak serta-merta menutup peluang koreksi lanjutan, melainkan membuka kemungkinan terjadinya pemantulan sementara sebelum arah pergerakan berikutnya terbentuk.
Harga Bitcoin kembali terkoreksi dalam perdagangan 24 jam terakhir. Berdasarkan data CoinMarketCap, Rabu (18/2/2026) pagi, Bitcoin tercatat di level US$ 67.335,65 atau turun 2,21% dalam sehari.
Baca Juga
Jelang Rilis Inflasi AS, Koin Kripto Papan Atas Masih Lesu dan Bitcoin Turun di Bawah US$ 66.000
Sejalan dengan pelemahan harga, kapitalisasi pasar Bitcoin menyusut menjadi sekitar US$ 1,34 triliun, turun 2,2%. Meski demikian, volume perdagangan 24 jam justru meningkat 2,94% menjadi US$ 34,47 miliar, mencerminkan aktivitas transaksi yang tetap tinggi di tengah tekanan harga.
Rasio volume terhadap kapitalisasi pasar tercatat sebesar 2,55%, sementara fully diluted valuation (FDV) berada di kisaran US$ 1,41 triliun. Dari sisi suplai, total dan suplai beredar Bitcoin tercatat sekitar 19,99 juta BTC, mendekati batas maksimal 21 juta BTC, dengan treasury holdings sekitar 1,17 juta BTC.
Pergerakan grafik intraday menunjukkan tren menurun sejak malam hingga dini hari, dengan harga sempat menyentuh area di bawah US$ 67.000 sebelum stabil di kisaran US$ 67.300. Pelemahan ini memperpanjang tekanan jangka pendek yang masih membayangi pasar kripto global.

