Tekanan Jual Mereda, Analis Nilai Bitcoin Berpeluang Pulih Akhir Maret
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id— Indikator on chain utama menunjukkan sinyal kapitulasi paling ekstrem pada Bitcoin (BTC). Tanda ini mengisyaratkan potensi terbentuknya titik terendah siklus harga, serupa dengan kondisi yang mendahului reli besar pada 2018.
Data terbaru dari Checkonchain mengungkapkan bahwa tekanan jual dari pemegang jangka pendek (short term holders/STH) telah turun ke level terendah sejak pasar bearish 2018. Metrik Short-Term Holder Bollinger Band menunjukkan osilator jatuh ke wilayah oversold terdalam dalam hampir delapan tahun terakhir.
Indikator tersebut mengukur selisih antara harga spot Bitcoin dan basis biaya rata-rata pemegang jangka pendek, yakni investor yang memegang BTC kurang dari 155 hari. Ketika osilator menembus batas bawah Bollinger Bands, hal itu menandakan harga Bitcoin diperdagangkan jauh di bawah harga beli investor baru, melampaui volatilitas historis normal.
Melansir Cointelegraph, Kamis (19/2/2026) secara historis, kondisi ini kerap bertepatan dengan titik terendah makro. Pada akhir 2018, sinyal serupa mendahului kenaikan harga Bitcoin sekitar 150% dalam satu tahun dan reli hingga 1.900% dalam tiga tahun. Pola yang sama juga muncul menjelang titik terendah November 2022, sebelum Bitcoin melesat sekitar 700% menuju rekor tertinggi di kisaran US$ 126.270.
Baca Juga
Industri Kripto Kian Diakui, William Sutanto Masuk Daftar Tokoh Berpengaruh Muda
Selain itu, data menunjukkan kerugian terealisasi di kalangan whale pemegang jangka pendek tetap rendah sejak puncak harga Bitcoin pada Oktober 2025 di sekitar US$ 126.000. Kondisi ini mengindikasikan investor besar yang masuk relatif baru belum menunjukkan tanda-tanda menyerah.
Sejumlah analis menilai metrik tersebut mencerminkan kelelahan penjual dan memperkuat peluang pembentukan dasar harga. Pandangan serupa disampaikan analis di platform kustodian kripto MatrixPort, yang menilai Bitcoin berpotensi mulai pulih pada akhir Maret.
Baca Juga
Perketat Manajemen Risiko 'Trading' Derivatif Kripto, Pintu Futures Sediakan Lima Fitur Berikut Ini
Dari sisi makro, dorongan likuiditas jangka pendek juga dinilai dapat menopang pasar kripto. Ahli strategi Wells Fargo, Ohsung Kwon, menyebut pengembalian pajak AS yang lebih besar dari biasanya pada 2026 berpotensi menghidupkan kembali perdagangan spekulatif atau YOLO trade. Arus dana ke saham dan Bitcoin diperkirakan dapat mencapai hingga US$ 150 miliar pada akhir Maret.
Masuknya likuiditas tersebut dinilai dapat menyerap sisa tekanan jual di pasar, sekaligus memperkuat dugaan bahwa Bitcoin tengah mendekati titik terendah siklusnya dalam beberapa pekan ke depan.
Berdasarkan data CoinMarketCap, harga Bitcoin melemah dalam perdagangan 24 jam terakhir. Bitcoin Kamis (19/2/2026) pagi ini diperdagangkan di level US$ 66.468,76, turun 1,53% secara harian.
Penurunan harga tersebut diikuti oleh penyusutan kapitalisasi pasar Bitcoin sebesar 1,52% menjadi sekitar US$ 1,32 triliun. Dari sisi likuiditas, volume perdagangan harian Bitcoin tercatat sebesar US$ 33,02 miliar, turun 5,2%, dengan rasio volume terhadap kapitalisasi pasar berada di kisaran 2,5%.
Grafik pergerakan harga menunjukkan tekanan jual meningkat sejak sesi malam hingga dini hari, mendorong harga Bitcoin sempat turun mendekati area US$ 66.000 sebelum bergerak terbatas. Sepanjang periode 24 jam, Bitcoin gagal mempertahankan momentum di atas level US$ 67.500, yang kini menjadi area resistensi jangka pendek.
Dari sisi suplai, total pasokan Bitcoin tercatat sekitar 19,99 juta BTC, mendekati batas maksimum 21 juta BTC. Sementara itu, suplai yang beredar berada di level 19,99 juta BTC, dengan kepemilikan treasury mencapai sekitar 1,17 juta BTC. Koreksi harga ini terjadi di tengah volatilitas pasar kripto yang masih tinggi, seiring pelaku pasar mencermati arah likuiditas global dan potensi tekanan lanjutan dalam jangka pendek.

