Mata Uang Asia Menguat, Cuma Rupiah yang Loyo pada Awal Pekan Ini
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Rupiah dibuka melemah pada Senin pagi (15/9/2025) pukul 09.02 WIB, tertekan arus keluar dana asing dan ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter global.
Data Bloomberg mencatat rupiah berada di posisi Rp 16.408 per dolar AS menjadikannya satu-satunya mata uang yang melemah di kawasan Asia pada awal perdagangan.
Baca Juga
Mata uang regional lain justru menguat. Yen Jepang naik 0,05% terhadap dolar Amerika Serikat (AS), yuan China menguat 0,02%, won Korea Selatan menguat 0,29%, ringgit Malaysia naik 0,44%, dan dolar Singapura naik 0,1%.
Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro memperkirakan pergerakan rupiah hari ini masih akan berada di bawah Rp 16.500 per dolar AS. “Pandangan kami, nilai tukar rupiah hari ini akan bergerak di kisaran Rp 16.340 hingga Rp 16.420," kata Andry dalam keterangannya, Senin.
Arus keluar modal tekan rupiah
Data Bank Indonesia (BI) mencatat transaksi periode 8–11 September 2025 menunjukkan investor asing melakukan jual bersih sebesar Rp 14,24 triliun. Rinciannya, Rp 2,22 triliun dilepas di pasar saham, Rp 5,45 triliun di pasar surat berharga negara (SBN), dan Rp 6,57 triliun di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Arus keluar modal ini menekan likuiditas dolar di pasar domestik dan memberi tekanan tambahan pada rupiah.
Selain itu, penurunan imbal hasil obligasi pemerintah 10 tahun (IDR) sebesar 5,2 basis poin ke level 6,3% pada Jumat (12/9/2025) ikut mencerminkan sentimen hati-hati investor. Imbal hasil obligasi pemerintah 10 tahun berdenominasi dolar AS juga turun 3,5 basis poin ke 4,9%, sejalan dengan ekspektasi pasar terhadap penurunan suku bunga Federal Reserve (The Fed) yang semakin kuat.
Baca Juga
Rupiah di Level Rp 16.468 per US$, Lesu di Akhir Perdagangan Kamis Sore
Indeks dolar AS tercatat stabil di level 97,6 setelah data inflasi AS sesuai perkiraan pasar. Inflasi konsumen naik 0,4% pada Agustus 2025, meningkat dari 0,2% pada Juli 2025. Data ini memperkuat keyakinan pelaku pasar bahwa The Fed akan memangkas suku bunga sebesar 0,25% pada pertemuan pekan ini untuk menopang pertumbuhan ekonomi.
Pelemahan rupiah meningkatkan biaya impor bagi pelaku usaha dan dapat mendorong inflasi dalam negeri. Namun, eksportir berpotensi diuntungkan karena pendapatan dalam dolar AS akan lebih besar bila dikonversi ke rupiah. Pasar keuangan domestik akan mencermati keputusan BI terkait suku bunga acuan bulan ini sebagai respons terhadap volatilitas nilai tukar.

