Tekanan Global dan 'Outlook' Moody’s Bayangi Pergerakan IHSG Pekan Depan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan awal pekan depan Senin (9/2/2026) diperkirakan dibuka dengan kecenderungan mixed hingga melemah terbatas. Proyeksi itu seiring pasar masih mencerna sentimen global dan dampak lanjutan dari outlook Moody’s.
Analis Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana menilai apabila tekanan jual mereda sejak awal sesi, bukan tidak mungkin IHSG mencoba melakukan technical rebound intraday, terutama jika tidak ada sentimen negatif tambahan dari pasar global.
Dari sisi teknikal, Hendra memandang IHSG saat ini berada di area yang cukup krusial. Level support terdekat berada di kisaran 7.850 hingga 7.900, yang menjadi area psikologis sekaligus teknikal penting untuk menahan tekanan lanjutan.
“Jika level ini mampu dipertahankan, peluang terjadinya technical rebound masih terbuka. Sementara itu, level support terdekat berada di kisaran 8.050 hingga 8.120, dan resistance lanjutan berada di area 8.250,” kata Hendra saat dihubungi investortrust.id Jumat (6/2/2026).
Baca Juga
IHSG Akhirnya Ditutup Anjlok 2,08%, Sebaliknya Saham NZIA dan LION Cetak ARA
Untuk pekan depan, Hendra menilai pergerakan IHSG diperkirakan masih akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan konsolidasi, menunggu katalis baru baik dari global maupun domestik.
Peluang rebound pada pekan depan tetap ada, terutama jika tekanan global mereda dan aksi jual mulai berkurang. Namun demikian, rebound yang terjadi berpotensi bersifat terbatas dan teknikal, bukan reli yang kuat.
“Risiko koreksi lanjutan masih perlu diwaspadai apabila IHSG menembus support 7.850, karena hal tersebut dapat membuka ruang pelemahan menuju area 7.700. Oleh karena itu, pasar masih akan sangat sensitif terhadap sentimen eksternal dan arus dana asing,” terang dia.
Sepanjang pekan ini, pergerakan IHSG cenderung berada dalam tekanan dengan volatilitas yang meningkat, ditutup melemah di level 7.935 setelah pada perdagangan Jumat, (6/2/2026) terkoreksi lebih dari 2%.
Ia memandang pelemahan ini mencerminkan kombinasi tekanan eksternal dan domestik yang datang secara bersamaan. Dari sisi global, koreksi pasar saham dunia terutama dipicu oleh sell off di sektor teknologi Amerika Serikat yang menekan indeks Asia dan emerging markets, termasuk Indonesia.
Baca Juga
Moody’s Turunkan Outlook Lima Bank 'Big Cap' RI, Gegara Risiko Kredibilitas Kebijakan
Sementara dari dalam negeri, sentimen negatif diperkuat oleh keputusan Moody’s yang menurunkan outlook Indonesia menjadi negatif, meskipun peringkat utang tetap dipertahankan di level Baa2.
“Penurunan outlook ini memunculkan kekhawatiran terkait konsistensi kebijakan dan efektivitas tata kelola, sehingga mendorong investor, khususnya asing, bersikap lebih defensif,” katanya.
Sentimen global yang paling berpengaruh terhadap IHSG pekan ini datang dari kombinasi penguatan dolar AS, koreksi saham teknologi global, serta ketidakpastian arah suku bunga global setelah bank sentral utama seperti ECB dan Bank of England memilih menahan suku bunga. Selain itu, fluktuasi harga komoditas juga memberikan pengaruh beragam.
“Di sisi domestik, selain outlook Moody’s, pasar juga masih mencermati arah kebijakan fiskal dan moneter ke depan, meskipun pergerakan rupiah relatif stabil dan bahkan menunjukkan penguatan tipis di pasar spot,” tuturnya.
Untuk perdagangan pekan depan, strategi yang dapat dipertimbangkan investor adalah tetap bersikap selektif dan disiplin. “Investor jangka pendek dapat memanfaatkan peluang trading buy pada saham-saham yang memiliki fundamental relatif solid dan didukung teknikal yang mulai membentuk area bottoming,” jelas Hendra.
Adapun beberapa saham pilihan yang dapat dicermati menurut Hendra di antaranya saham BRIS dengan strategi speculative buy dan target Rp 2.600, seiring prospek perbankan syariah yang masih positif dan valuasi yang mulai menarik. CMRY direkomendasikan trading buy dengan target Rp 6.200, didukung oleh fundamental konsumsi yang relatif defensif.
Selain itu, saham dengan target Rp 2.580 direkomendasikan untuk trading jangka pendek selama support teknikal tetap terjaga. Untuk sektor infrastruktur, JSMR menarik sebagai speculative buy dengan target Rp 4.000, terutama jika pasar mulai kembali mengapresiasi saham-saham berbasis proyek dan arus kas jangka panjang.

