Moody’s Turunkan Outlook Lima Bank 'Big Cap' RI, Gegara Risiko Kredibilitas Kebijakan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Moody’s Ratings mengubah outlook lima bank besar Indonesia dari stabil menjadi negatif, menyusul perubahan outlook peringkat sovereign Indonesia menjadi negatif, meski peringkat utang negara tetap dipertahankan di level Baa2.
Adapun lima bank tersebut ialah PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN).
Untuk kelima bank itu, Moody’s mempertahankan seluruh peringkat kredit utama, termasuk issuer rating, peringkat simpanan, utang senior tanpa jaminan, Counterparty Risk Ratings (CRR), Counterparty Risk Assessments (CRA), Baseline Credit Assessment (BCA), serta Adjusted BCA. Beberapa instrumen subordinasi dan program MTN milik PT Bank Mandiri Tbk dan PT Bank Negara Indonesia Tbk juga tetap dipertahankan.
Dalam keterangan yang dirilis Jumat, (6/2/2026), alasan utama perubahan outlook ini adalah meningkatnya risiko terhadap kredibilitas kebijakan Indonesia, yang tecermin dari menurunnya konsistensi, prediktabilitas, serta efektivitas komunikasi kebijakan dalam setahun terakhir.
Jika berlanjut, kondisi tersebut berpotensi menggerus fondasi stabilitas makroekonomi, fiskal, dan sektor keuangan yang selama ini menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia. Meski demikian, peringkat sovereign tetap dipertahankan karena Indonesia dinilai masih memiliki ketahanan ekonomi struktural, termasuk basis sumber daya alam dan demografi yang kuat.
Moody’s menegaskan penurunan peringkat sovereign Indonesia akan langsung berdampak pada peringkat kelima bank tersebut. Untuk BMRI, BBRI, dan BBCA, penurunan sovereign akan menurunkan BBCA dan Adjusted BCA mereka. Sementara untuk BBNI dan BBTN, penurunan akan dipicu oleh berkurangnya dukungan pemerintah. Selain itu, CRR dan CRA BMRI, BBRI, BBCA, dan BBTN juga akan ikut diturunkan apabila sovereign diturunkan.
Baca Juga
Moody’s Revisi 'Outlook' RI, Danantara Tegaskan Fondasi Ekonomi Tetap Kuat
Untuk Bank Mandiri, peringkat mencerminkan permodalan, pendanaan, dan profitabilitas yang masih baik, namun dibayangi risiko penurunan buffer modal, tekanan kualitas aset, serta eksposur tinggi ke sektor komoditas dan sektor berisiko. Profitabilitas diperkirakan tetap moderat pada 2026, dengan rasio modal cenderung menurun akibat dividen tinggi dan pertumbuhan aset tertimbang menurut risiko.
BRI dinilai memiliki profitabilitas, permodalan, dan pendanaan yang sangat kuat, meski risiko aset tetap tinggi karena eksposur besar ke segmen UMKM. Profitabilitas diperkirakan menurun pada 2026 akibat tekanan margin bunga dan biaya kredit, sementara likuiditas dan pendanaan diproyeksikan tetap solid meski ketergantungan pada pendanaan pasar meningkat secara terbatas.
Untuk BNI, peringkat mencerminkan permodalan yang kuat dan pendanaan stabil, namun profitabilitas relatif lebih rendah dibanding bank sekelasnya. Risiko berasal dari portofolio kredit restrukturisasi dan eksposur ke BUMN yang rentan, meski kualitas aset diperkirakan tetap relatif stabil.
BCA, di sisi lain, dinilai memiliki kualitas aset dan profitabilitas yang sangat kuat berkat dominasi di bisnis transaction banking, meski tetap menghadapi risiko dari pertumbuhan kredit yang cepat di segmen korporasi dan UKM.
Sementara itu, BTN menghadapi risiko aset yang lebih tinggi, ditandai dengan tingkat kredit restrukturisasi dan pencadangan yang relatif rendah, serta buffer laba dan modal yang terbatas. Namun, peringkat BTN mendapat dukungan pemerintah yang sangat kuat, mencerminkan peran sistemiknya dan mandat kebijakan di sektor perumahan, sehingga memperoleh uplift peringkat yang signifikan.
Selama outlook sovereign masih negatif, peluang kenaikan peringkat bank-bank tersebut dinilai terbatas, namun outlook dapat kembali stabil jika peringkat dan outlook Indonesia kembali membaik.

