Tekanan Global Bayangi Rupiah dan IHSG Pekan Depan
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Rupiah dan indeks harga saham gabungan (IHSG) diproyeksi melemah pada perdagangan pekan depan seiring tekanan global, sentimen geopolitik, dan penilaian lembaga keuangan internasional yang memengaruhi pasar domestik.
Pengamat ekonomi dan pasar komoditas Ibrahim Assuaibi menilai kombinasi sentimen global, dinamika kebijakan moneter Amerika Serikat (AS), serta narasi fiskal domestik membentuk persepsi investor dalam jangka pendek.
“Nah, untuk dolar sendiri, trennya kemungkinan besar di 96.700 sampai 98.600. Kemudian rupiah minggu depan diperdagangkan di support Rp 16.750 per dolar AS dan resistannya di Rp 17.200 per dolar AS, itu minggu depan. Untuk IHSG, kemungkinan besar dalam perdagangan minggu depan masih akan memerah. Saya perkirakan indeks akan menuju 7.750,” kata Ibrahim di Jakarta, Minggu (8/2/2026).
Ia mengatakan tekanan eksternal memengaruhi pasar domestik, terutama nilai tukar dan saham, seiring ketidakpastian geopolitik dan kebijakan global.
“Jadi untuk minggu depan kemungkinan besar geopolitik, perang dagang, perpolitikan di Amerika, kebijakan Bank Sentral Amerika, The Fed sedikit diam. Hanya berfokus terhadap kebijakan Donald Trump yang memilih Kevin Walsh sebagai gubernur The Fed pada Mei. Itu yang dijadikan sebagai acuan,” kata dia.
Baca Juga
BI Catat Devisa Januari 2026 Alami Penurunan, Sebagian untuk Stabilisasi Nilai Tukar Rupiah
Menurutnya, faktor global turut memperkuat tekanan terhadap rupiah dan pasar saham domestik, termasuk keputusan Moodys dan penilaian lembaga keuangan internasional.
“Kita harus melihat bahwa pembekuan yang dilakukan oleh MSCI (Morgan Stanley Capital International), kemudian pemberan rating ini cukup luar biasa terhadap pasar modal Indonesia, kemudian rupiah juga mengalami pelemahan,” kata dia.
Ia menambahkan, perubahan pandangan lembaga keuangan global turut memperburuk sentimen terhadap aset Indonesia. Goldman Sachs, Nomura USP ini juga menurunkan peringkat saham di Indonesia. "Apalagi bersamaan kemarin Moodys menurunkan peringkat utang Indonesia," kata Ibrahim.
Tantangan Fiskal dan Prospek Pasar
Ibrahim menilai pertumbuhan ekonomi domestik belum cukup kuat menopang penguatan rupiah dan IHSG di tengah tekanan eksternal dan sentimen pasar yang masih rapuh.
“Walaupun pertumbuhan ekonomi 2025 cukup bagus, bahkan terbaik di Asia di 5,11%, tetapi pertumbuhan ekonomi ini belum bisa menopang penguatan IHSG dan mata uang rupiah,” kata dia.
Ia mengatakan narasi fiskal pemerintah turut memengaruhi persepsi investor, terutama terkait isu defisit anggaran yang mendekati batas psikologis pasar mendekati 3%. Namun, banyak pejabat berusaha menolak narasi defisit tersebut.
"Ini yang dianggap pasar bahwa pejabat-pejabat di Indonesia belum siap, tidak ada narasi tentang retorika fiskal, sehingga narasi fiskal tersebut menjadi pesimistis," kata dia.
Baca Juga
Rupiah Terdepresiasi 44 Poin, Melemah ke Rp16.886 per Dolar AS
Ia memperkirakan volatilitas pasar akan berlanjut hingga beberapa bulan ke depan seiring proses penyesuaian kebijakan dan dinamika global yang belum mereda.
“Rupiah kemungkinan ke Rp 17.200 per dolar AS. Nah, yang lebih parah lagi bahwa kita harus melihat kemungkinan besar permasalahan pembekuan oleh MSCI. Masih ada fluktuasi sampai April-Mei, IHSG masih akan mengalami pelemahan, bahkan kemungkinan besar akan menuju di 6.000," kata ibrahim.

