Ketidakpastian Global Bayangi Pergerakan Rupiah Pagi Ini Jadi Segini
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (27/2/2026) pukul 09.32 WIB menjadi Rp 16.784 per dolar AS, terdepresiasi 0,15%, seiring pelaku pasar global menanti katalis baru di tengah ketidakpastian kebijakan perdagangan dan arah suku bunga bank sentral AS.
Pergerakan rupiah terjadi ketika indeks dolar AS atau dollar index (DXY), indikator yang mengukur kekuatan dolar terhadap sejumlah mata uang utama, relatif stabil di level 97,7. Posisi tersebut tidak jauh dari level tertinggi 1 bulan yang sempat dicapai pada pekan sebelumnya.
Tekanan terhadap mata uang kawasan juga terlihat beragam. Dolar Singapura melemah 0,03%, peso Filipina turun 0,06%, yuan China terkoreksi 0,21%, dan euro Uni Eropa turun 0,01% terhadap dolar AS. Sebaliknya, yen Jepang menguat 0,19%, rupee India naik 0,04%, baht Thailand terapresiasi 0,09%, ringgit Malaysia menguat, dan dolar Hong Kong naik 0,01%.
Baca Juga
Rupiah Bergerak Menguat di Tengah Sentimen 'Risk On' di Pasar Ekuitas
Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro mengatakan pergerakan dolar cenderung mendatar karena investor masih menunggu sentimen baru setelah meredanya kekhawatiran terhadap kebijakan perdagangan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
“Ini karena investor masih menunggu katalis baru setelah kekhawatiran terhadap kebijakan perdagangan Presiden AS Donald Trump mereda, meski ketidakpastian tetap ada,” kata Andry.
Ia menjelaskan sentimen pasar juga dipengaruhi perkembangan pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran, yang menambah kehati-hatian pelaku pasar global. Di sisi lain, data klaim pengangguran awal dan lanjutan di AS tercatat di bawah perkiraan, mengindikasikan pasar tenaga kerja tetap stabil dan perusahaan masih mempertahankan tenaga kerjanya.
Kondisi tersebut mendorong pelaku pasar menyesuaikan ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga bank sentral AS. Andry mengatakan probabilitas pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Juni menurun signifikan.
“Probabilitas penurunan suku bunga sebesar 25 bps pada Juni turun menjadi 50%, level terendah tahun ini, sementara ekspektasi pemangkasan ketiga hingga akhir tahun hampir sepenuhnya hilang,” ujarnya.
Penyesuaian ekspektasi suku bunga ini berdampak langsung pada pergerakan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, karena suku bunga yang lebih tinggi di AS cenderung menarik arus modal kembali ke aset berbasis dolar.
Baca Juga
Dari sisi fundamental ekonomi, Indeks Harga Rumah S&P Cotality Case-Shiller 20 Kota di AS naik 1,4% secara tahunan pada Desember 2025, sejalan dengan laju November dan sesuai ekspektasi pasar. Meski demikian, pertumbuhan tahunan tersebut masih mendekati level terlemah dalam lebih dari dua tahun, yang menunjukkan pasar perumahan AS terus mengalami pendinginan.
Kenaikan harga rumah itu juga tertinggal dari inflasi konsumen yang mencapai 2,7% pada Desember. Secara riil, nilai rumah mengalami penurunan dalam setahun terakhir karena pertumbuhan harga nominal tertinggal sekitar 1,3 poin persentase dari inflasi.

