Bisnis Non-Menara Jadi Motor Baru Pertumbuhan Sarana Menara (TOWR)
JAKARTA, investortrust.id – PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) berhasil pertahankan pertumbuhan kinerja operasional yang tetap tumbuh hingga kuartal III-2025. Ekspansi ke bisnis non-menara dinilai menjadi penopang utama pertumbuhan jangka menengah perseroan.
Dilansir InvestingPro, Senin (26/1/2026), TOWR mencatat kenaikan pendapatan dan laba bersih secara kuartalan pada kuartal II-2025. Model bisnis berbasis kontrak jangka panjang menjaga permintaan infrastruktur digital dan membuat arus kas perseroan relatif defensif.
Baca Juga
Emiten Low Tuck Kwong (MYOH) Dirikan Anak Usaha, Tujuan Ini Diungkap
Pendapatan TOWR pada kuartal III-2025 mencapai sekitar Rp 3,2 triliun dengan laba bersih mendekati Rp 900 miliar. Margin EBITDA yang masih tinggi menunjukkan efisiensi operasional tetap terjaga meski laju pertumbuhan mulai melambat.
Secara kumulatif, pendapatan TOWR selama sembilan bulan 2025 mencapai Rp 9,69 triliun dengan EBITDA Rp 7,75 triliun. Catatan InvestingPro menilai stabilnya margin mencerminkan karakter bisnis infrastruktur digital dengan visibilitas pendapatan yang kuat.
Baca Juga
TOWR Gelar Rights Issue Rp 5,49 Triliun, Danai Protelindo Bayar Utang Jumbo
Di sisi lain, TOWR membagikan dividen interim sebesar Rp 6,87 per saham atau sekitar 15,6% dari laba hingga September 2025. Pembagian dividen tersebut menjadi sinyal kekuatan arus kas sekaligus keyakinan manajemen terhadap fundamental perusahaan.
Selain dividen, TOWR telah berhasil mengeksekusi rights issue senilai maksimal Rp 5,49 triliun untuk memperkuat kepemilikan di Protelindo. Aksi korporasi ini diarahkan untuk memperbaiki struktur permodalan dan menopang ekspansi jangka menengah. Seluruh dana rights issue dialokasikan kepada Protelindo yang menjadi pilar bisnis menara dan infrastruktur digital TOWR.
Baca Juga
Sarana Menara (TOWR) Bagikan Dividen Interim Rp 400 Miliar, Intip Jadwal Berikut
Meski fundamental masih terjaga, harga saham TOWR bergerak di kisaran Rp 535–560 per saham hingga akhir Januari 2026.
Dari sisi neraca, rasio utang terhadap ekuitas TOWR masih cukup tinggi, namun rights issue dinilai sebagai langkah disiplin finansial. InvestingPro menilai penguatan modal memberi ruang bagi perseroan menurunkan leverage secara bertahap tanpa mengorbankan ekspansi.
Ke depan, TOWR mengandalkan pertumbuhan bisnis non-menara seperti fiber dan infrastruktur digital pendukung. Strategi ini diproyeksikan menjadi sumber pertumbuhan baru di luar bisnis menara konvensional.

