Target Kinerja dan Saham Astra (ASII) Direvisi Naik, Berikut Faktor Pendorong
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Astra International Tbk (ASII) bersiap memasuki titik pemulihan kuat tahun depan, seiring dengan ekspektasi perbaikan margin keuntungan sejumlah segmen bisnis, seperti otomotif dan jasa keuangan. Pemulihan ini mendorong BRI Danareksa Sekuritas merevisi naik target kinerja keuangan dan saham ASII.
BRI Danareksa Sekuritas dalam riset yang diterbitkan Rabu (12/11/2025) merevisi naik target pendapatan ASII tahun 2026 dari semula Rp 346,15 triliun menjadi Rp 350,60 triliun. Proyeksi laba bersih juga direvisi naik dari semula Rp 31,27 triliun menjadi Rp 32,86 triliun. Adapun proyeksi laba bersih tahun ini direvisi naik dari semula Rp 29,95 triliun menjadi Rp 31,56 triliun.
Baca Juga
Bedah Kinerja Lini Bisnis Astra (ASII) Kuartal III-2025, Agribisnis Tertinggi
Sejalan dengan revisi naik target kinerja keuangan tersebut, BRI Danareksa Sekuritas menaikkan target harga saham ASII dari Rp 6.700 menjadi Rp 7.450. Dengan harga penutupan Rp 6.525 terbuka kenaikan harga saham ASII lebih dari 14%. Target harga tersebut merefleksikan valuasi PE sebanyak 9,2 kali tahun depan.
“ASII diperkirakan telah mencapai titik terendah pada kuartal III-2025 dan akan pulih signifikan pada 2026 didorong oleh penguatan margin di segmen otomotif dan jasa keuangan,” tulis analis BRI Danareksa Sekuritas Sabela Nur Amalina dan Nashrullah Putra Sulaeman dalam riset yang dirilis hari ini.
Estimasi Kinerja Keuangan ASII
Sumber: BRI Danareksa Sekuritas
Dia melanjutkan, perbaikan margin diharapkan berasal dari peningkatan margin bersih otomotif dari perkiraan 4,8% di 2025 menjadi 5,3% di 2026, naik dari proyeksi sebelumnya 4,3% dan 4,8%. Kenaikan ini ditopang penguatan harga jual dan rebound penjualan kendaraan roda empat sebesar 4–5%, meskipun industri masih menghadapi tekanan perang harga kendaraan listrik (EV).
Mobil besutan Astra (ASII) dinilai memiliki daya tawar harga yang kuat berkat kekuatan merek dan portofolio hybrid yang menjadi alternatif menarik, dibandingkan kendaraan listrik murni yang saat ini mengalami tekanan harga paling besar. Apalagi, periode November–Desember diperkirakan menjadi musim puncak penjualan mobil dan diharapkan menjadi momentum pemulihan kinerja Astra.
Baca Juga
Peluang kenaikan saham ASII juga didukung berlangsungnya program pembelian kembali saham (buy back) dengan anggaran Rp 2 triliun untuk periode November 2025 hingga Januari 2026. Aksi ini menandakan keyakinan terhadap prospek kinerja dan komitmen dalam meningkatkan nilai bagi pemegang saham.
Terkait kinerja keuangan, Astra (ASII) membukukan laba bersih Rp 8,9 triliun pada kuartal III-2025, naik 4% secara kuartalan, meski turun 10% secara tahunan. Tambahan tersebut menjadikan total laba bersih selama sembilan bulan pertama 2025 mencapai Rp 24,4 triliun atau 82% dari target tahun penuh.
Kinerja positif terutama ditopang oleh segmen otomotif dan jasa keuangan dan menjadi penahan pelemahan di UNTR. Laba segmen otomotif naik 5% qoq menjadi Rp316 miliar, didukung penjualan mobil sebanyak 96.100 unit (+5% qoq). Sementara itu, laba jasa keuangan tumbuh 6% qoq menjadi Rp2,5 triliun dengan margin stabil.

