Luncurkan Climate Transition Plan, TBS Energi (TOBA) Percepat Transformasi Bisnis Rendah Karbon
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) atau TBS resmi memasuki fase baru transformasi menuju bisnis rendah karbon. Fase tersebut ditandai dengan peluncuran identitas baru perseroan bertajuk TBS Redefine sekaligus memperkenalkan Climate Transition Plan, peta jalan strategis, untuk mencapai carbon neutrality pada 2030.
Climate Transition Plan menjadi komitmen terbuka TBS untuk menjalankan operasi yang sejalan dengan agenda keberlanjutan global. Dokumen ini mencakup target terukur, strategi transisi, serta indikator kemajuan yang dapat dipantau publik. TBS juga menegaskan bahwa risiko iklim kini dianggap sebagai risiko finansial, sehingga keberlanjutan menjadi bagian inti dari strategi jangka panjang.
Presiden Direktur & CEO TBS Dicky Yordan menjelaskan bahwa transformasi dilakukan melalui pengalihan portofolio dari batu bara menuju tiga lini baru: pengelolaan limbah, energi terbarukan, dan kendaraan listrik. “Logo baru TBS mencerminkan jati diri dan nilai perusahaan dalam berkontribusi terhadap lingkungan,” ujarnya.
Baca Juga
TBS Energi Utama (TOBA) Targetkan Pendapatan US$ 300 Juta dari Ekosistem Kendaraan Listrik
Director & CFO TBS Juli Oktarina menambahkan bahwa perusahaan menyiapkan investasi hingga US$ 600 juta sampai 2030 untuk menjalankan transisi bisnis. Pada tahun depan, bisnis pengelolaan limbah diproyeksikan menjadi kontributor terbesar dari lini usaha baru.
Transformasi ini telah terealisasi melalui divestasi dua PLTU berkapasitas 200 MW serta rencana penghentian tiga konsesi tambang batu bara paling lambat 2027. Di saat bersamaan, TBS memperluas bisnis waste management dengan mengakuisisi Asia Medical Enviro Services (AMES), ARAH Environmental Indonesia (ARAH), serta mengakuisisi penuh Sembcorp Environment Pte. Ltd. yang kini beroperasi sebagai CORA Environment di Singapura.
Pada sektor energi terbarukan, TBS telah mengoperasikan pembangkit listrik mikrohidro 2×3 MW di Lampung dan mengembangkan proyek Tembesi Floating Solar Power Plant berkapasitas 46 MWp di Batam. Melalui Electrum, perusahaan juga memperkuat ekosistem kendaraan listrik mulai dari perakitan, teknologi baterai, infrastruktur penukaran baterai, hingga pembiayaan hijau.
Baca Juga
Revisi Perpres PLTSa Jadi Katalis, TOBA Siapkan Ekspansi Bisnis Waste to Energy ke Asia Tenggara
Analis Phillip Sekuritas Edo Ardiansyah menilai langkah transformasi ini berdampak positif bagi saham TOBA. Menurutnya, investor semakin menghargai fokus perusahaan pada bisnis hijau. “Harga saham TOBA sudah naik 120% year to date, meski perusahaan sempat mencatat rugi akibat pencatatan divestasi PLTU. Jika kinerja kembali mencatatkan laba, peluang apresiasi investor semakin besar,” katanya.
Riset UOB Kay Hian juga menunjukkan bahwa emiten berbasis keberlanjutan memiliki valuasi premium. Waste Management Inc (PBV 8,6x), Republic Services Inc (5,6x), dan Clean Harbors Inc (4,6x) menjadi contoh di pasar global. Dibandingkan itu, valuasi TOBA masih relatif murah dengan PBV 1,94x, memberikan ruang kenaikan jika transformasi berjalan sesuai rencana.

