Revisi Perpres PLTSa Jadi Katalis, TOBA Siapkan Ekspansi Bisnis Waste to Energy ke Asia Tenggara
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Rencana terbitnya Peraturan Presiden (Perpres) terkait program waste to energy (WtE) atau Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) yang merevisi Perpres Nomor 35 Tahun 2018 tentang Percepatan Pembangunan Instalasi Pengelolaan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) akan menjadi katalis positif bagi sektor energi bersih di Indonesia.
Senior Vice President (SVP) Corporate Strategy & Investor Relations TBS Energi Utama (TOBA) Nafi Achmad Sentausa mengatakan, revisi aturan tersebut diharapkan mampu untuk membuka kembali jalan bagi proyek-proyek PLTSa yang sempat tertunda.
Baca Juga
Transformasi Hijau Berbuah, Bisnis Limbah TOBA Melonjak 1.048% di Kuartal III-2025
“Tentang revisi Perpres PLTSa yang menggantikan Perpres Nomor 35 tentu menjadi katalis positif bagi Indonesia karena membuka kembali jalan bagi proyek-proyek PLTSa yang sebelumnya sempat terhenti,” ujar Nafi di Jakarta, Seelasa, (28/10/2025).
Meski demikian, Nafi menegaskan, TOBA telah lebih dulu mempersiapkan langkah strategis di bisnis pengelolaan sampah sejak 2018, seiring keluarnya Perpres pertama. Namun, implementasinya baru terealisasi secara konkret pada 2023.
“Kami sudah mulai melirik bisnis pengelolaan sampah sejak tahun 2018, ketika Perpres pertama keluar, karena eksekusinya memerlukan waktu dan banyak faktor lain, baru pada 2023 kami masuk ke bisnis ini secara konkret di Singapura, dengan akuisisi pertama pada bisnis medical waste,” terang dia.
Pada tahun yang sama, TOBA mengakuisisi Arah Environmental di Indonesia, disusul dengan penyelesaian akuisisi CORA pada 2025. “CORA ini fokus pada bisnis domestik dan mengoperasikan teknologi energy from waste, yaitu mengubah sampah menjadi energi dalam bentuk uap (steam) yang disuplai ke kawasan industri di Singapura dengan kontrak jangka panjang,” tutur Nafi.
Baca Juga
TOBA Energi Fokus ke Limbah dan Energi Terbarukan, Begini Potensi Sahamnya
Lebih lanjut, Nafi menyebutkan, fokus utama TBS saat ini adalah memperkuat ekspansi regional. Perusahaan melihat peluang besar di Thailand, Vietnam, dan Malaysia, yang menawarkan potensi return menarik serta sesuai dengan keahlian yang telah dimiliki perseroan.
Terkait investasi senilai S$ 200 juta di CORA, Nafi menjelaskan, langkah tersebut merupakan bagian dari strategi jangka panjang TOBA dalam memperluas kapabilitas bisnis.
“Nilai tersebut mencakup pengembangan organik misalnya memperluas fasilitas daur ulang dan menambah kapasitas yang saat ini sudah kami miliki di Singapura, serta ekspansi inorganik melalui akuisisi bisnis sejenis di Asia Tenggara,” imbuhnya.
Dia menegaskan, visi jangka panjang TBS adalah membangun platform waste management terintegrasi yang mampu menjadi pemain utama di kawasan.

