Divestasi PLTU Picu Rugi Bersih TBS Energi (TOBA), tapi Prospek Bisnis Makin Kuat ke Depan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) mencatatkan rugi periode berjalan sebesar US$ 115,3 juta (sekitar Rp 1,9 triliun) pada semester I-2025 akibat pencatatan akuntansi dari divestasi dua PLTU miliknya. Namun, rugi ini bersifat non-kas (non-cash loss) dan tak mencerminkan pelemahan fundamental bisnis, melainkan bagian dari strategi transformasi menuju energi hijau.
Perseroan juga mencatatkan penurunan pendapatan usaha sebesar 31% menjadi US$ 172,2 juta atau sekitar Rp2.82 triliun, dibandingkan periode sama tahun sebelumnya US$ 248,68 juta.
TOBA sebelumnya melepas dua unit PLTU di Sulawesi Utara, yakni PT Minahasa Cahaya Lestari (MCL) dan PT Gorontalo Listrik Perdana (GLP), dengan raihan dana segar US$ 123,6 juta. Dana hasil divestasi akan diinvestasikan kembali ke sejumlah proyek berkelanjutan, termasuk PLTS Batam, PLTM Lampung, dan bisnis pengolahan limbah di Singapura melalui akuisisi Sembcorp.
Baca Juga
Saat Harga Melesat, Investor Ini Lepas Rp 91,12 Miliar Saham TBS Energi (TOBA)
“Divestasi ini menurunkan emisi karbon lebih dari 80% atau setara 1,3 juta ton CO₂ per tahun. Kami justru memperkuat kas dan mempercepat target netral karbon 2030,” ujar Direktur TOBA, Juli Oktarina.
Menurut analis NH Korindo Sekuritas, kerugian yang tercatat merupakan dampak standar akuntansi PSAK, di mana pendapatan masa depan dari skema proyek BOOT dicatat di awal. Karena itu, divestasi ini menyebabkan rugi akuntansi, bukan kerugian operasional. Pos keuangan TOBA tetap solid, dengan rasio DER di bawah 1x, debt to EBITDA 4,8x (masih jauh dari batas kovenan 6,5x), serta current ratio 1,37x.
“Rugi non-kas ini adalah konsekuensi logis dari transformasi bisnis yang berkelanjutan. Likuiditas TOBA tetap kuat dan membuka ruang ekspansi lebih besar ke sektor energi hijau dan pengelolaan limbah,” ujar analis NH Korindo, Leonardo Lijuwardi.
Baca Juga
Bahlil Percepat Perizinan KKKS Demi Genjot 'Lifting' Migas dam Wujudkan Swasembada Energi
TOBA tengah beralih dari bisnis berbasis batubara ke energi berkelanjutan dengan fokus pada proyek-proyek ESG dan sustainability. Kinerja jangka pendek yang fluktuatif dinilai sebagai hal wajar dalam proses transisi menuju model bisnis baru yang lebih ramah lingkungan.
Terkait pergerakan harga saham, TOBA justru berhasil mencatatkan kenaikan harga saham yang pesat mencapai 187,50% menjadi 187,50% sepanjang year to date (ytd), bahkan dalam sebulan terakhir penguatan harga sahamnya mencapai 58,62%.

