TBS Energi Utama (TOBA) Targetkan Pendapatan US$ 300 Juta dari Ekosistem Kendaraan Listrik
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) menargetkan pendapatan sekitar US$ 200-300 juta pada 2029-2030 dari pengembangan ekosistem kendaraan listrik (electric vehicle/EV). Saat ini, perseroan telah menjalin kerja sama B2B dengan Gojek dan Grab melalui brand Electrum.
“Berbicara EV ecosystem untuk guidelines ke depan, kami menargetkan sampai dengan tahun 2029-2030 mungkin sekitar US$ 200-300 juta dari sisi top line revenues,” ungkap SVP Corporate Finance & Investor Relations TBS Energi Utama, Mirza R Hippy dalam Punex Live 2025, Jumat (12/9/2025).
Baca Juga
Divestasi PLTU Picu Rugi Bersih TBS Energi (TOBA), tapi Prospek Bisnis Makin Kuat ke Depan
Electrum yang merupakan usaha patungan TBS dengan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO), tidak hanya fokus pada baterai EV, melainkan juga stasiun penukaran baterai (battery swapping stations) hingga perakitan kendaraan listrik roda dua (E2W).
Managing Director Investor Relations TBS (TOBA) Gita Sjahrir menuturkan, potensi bisnis Electrum bisa mencapai US$ 7 miliar per tahun dari penjualan motor listrik dan pengelolaan infrastruktur baterai. Lini bisnis ini bahkan tumbuh 90% sejak 2024 (ytd).
Electrum saat ini memiliki 5.400 unit E2W dan 320 stasiun penukaran baterai, melayani 170 juta kilometer perjalanan dan 18.500 kali penukaran baterai per hari.
Baca Juga
IHSG Ditutup Melambung 1,37% Jelang Akhir Pekan, 7 Saham Dipimpin PGLI Cetak ARA
Selain Electrum, TBS juga mengembangkan bisnis pengelolaan limbah dan energi terbarukan. Namun dalam masa transisi ini, perseroan masih menghadapi tekanan dari bisnis batu bara.
Pada semester I-2025, pendapatan konsolidasi TBS tercatat US$ 172,2 juta, turun dari US$ 248,7 juta pada periode sama tahun lalu. Penurunan ini dipicu melemahnya volume penjualan batu bara dari 1,7 juta ton menjadi 0,7 juta ton, serta harga jual rata-rata yang merosot dari US$ 83 per ton ke US$ 52,9 per ton.
Segmen pertambangan dan perdagangan batu bara menghasilkan pendapatan US$ 91,6 juta atau 53% dari total, lebih rendah dibandingkan kontribusi 82% pada tahun lalu.
Baca Juga
Penempatan Dana Rp 200 Triliun Dorong Transmisi Kebijakan Moneter Lebih EFektif
Alhasil, perseroan mencatat rugi bersih US$ 115,3 juta di paruh pertama 2025, terutama akibat rugi non-kas dari divestasi dua anak usaha PLTU, yakni PT Minahasa Cahaya Lestari (MCL) dan PT Gorontalo Listrik Perdana (GLP) yang selesai pada Maret dan Mei 2025.
Rugi non-kas dari divestasi itu sebesar US$ 96,9 juta, namun tidak memengaruhi arus kas. Justru, TBS memperoleh tambahan dana tunai US$ 123,6 juta.
“Penurunan ini mencerminkan komitmen TBS dalam mengurangi ketergantungan terhadap sektor batu bara dan mempercepat transisi menuju portofolio bisnis yang lebih hijau dan berkelanjutan,” ujar Direktur Keuangan TBS, Juli Oktarina.

