Bisa Tembus Level 9.000? Ini Syarat IHSG untuk Tutup Tahun dengan Rekor Baru
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Laju indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) sepanjang pekan ini mencetak rekor tertinggi barunya alias all time high (ATH) selama tiga hari beruntun, sekaligus menutup pekan dengan penguatan 2,83% ke posisi 8.394.
Pencapaian pertama tercapai pada 5 November, saat indeks naik 76,61 poin (0,93%) menjadi 8.318. Keesokan harinya, 6 November, IHSG kembali menguaat 18,53 poin (0,22%) ke level 8.337. Momentum berlanjut pada 7 November, dengan tambahan 57,53 poin (0,69%) dan menorehkan rekor baru di 8.394.
Pengamat Pasar Modal Reydi Octa menilai, reli IHSG yang menembus 8.378 mencerminkan meningkatnya kepercayaan investor terhadap stabilitas ekonomi nasional serta mulai masuknya arus dana asing meski masih terbatas.
“Reli IHSG yang menembus 8.378 menunjukkan kepercayaan tinggi terhadap stabilitas ekonomi dan mulai masuknya arus dana asing walau belum agresif,” kata Reydi saat dihubungi investortrust.id, Jumat (7/11/2025).
Menurut Reydi, peluang kenaikan masih terbuka hingga akhir tahun, terutama jika stabilitas ekonomi domestik dan global tetap terjaga. Ia menilai, level 9.000 sangat mungkin dicapai asalkan arus dana asing terus mengalir ke sektor perbankan, industri, dan energi.
“Penggerak utama dari momentum ini tentu dari BBCA, BBRI, BMRI, ASII yang menjadi acuan kepercayaan investor terhadap kestabilan ekonomi,” tambahnya.
Baca Juga
Rekor Tiga Hari Beruntun, IHSG Melonjak 2,83% hingga Asing Borong BBCA Sepekan
Namun, ia juga mengingatkan jelang tutup tahun, pasar berpotensi mengalami taking profit meski masih ditopang oleh tren window dressing. “Intinya kenaikan terdepan akan ditopang oleh saham-saham berfundamental solid,” tutur Reydi.
Senada, Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder Investment Education (IIE) Rita Efendy, menilai tren IHSG dalam jangka pendek masih positif. Menurutnya, ada kombinasi faktor yang menopang penguatan indeks.
“Arus beli asing kembali masuk ke bursa kita, kinerja emiten kuartal III 2025 yang rata-rata solid, terutama di sektor perbankan, komoditas, dan konsumer. Harga komoditas seperti batu bara, tembaga, dan nikel yang kembali naik juga memberi sentimen positif,” ucap Rita kepada investortrust.id.
Rita menambahkan, faktor lain yang ikut menopang reli IHSG adalah musim pembagian dividen. “Menjelang cum dividen beberapa saham yang sering memberikan dividen jumbo seperti ITMG pada 14 November 2025, serta bank besar seperti BRI, BCA, dan Mandiri yang sudah memberi sinyal rencana pembagian dividen interim,” jelas Rita.
Selain itu, masuknya saham konglomerasi seperti BREN dan BRMS ke dalam indeks MSCI Global Standard turut menjadi katalis positif. Meski demikian, ia mengingatkan pasar bisa memasuki fase konsolidasi menjelang akhir November hingga Desember. “Masih bisa menguat, tapi akan lebih selektif dan tidak seagresif awal kuartal IV,” imbuhnya.
Secara fundamental, Rita melihat peluang IHSG menembus 9.000 masih terbuka, namun tidak mudah. Untuk naik dari level 8.400 ke 9.000, IHSG membutuhkan tambahan kenaikan sekitar 7%, yang menuntut katalis kuat.
Beberapa faktor yang bisa mendorong ke arah itu antara lain pemangkasan suku bunga global yang dapat memperbesar foreign inflow, kenaikan harga komoditas lanjutan, serta aksi window dressing dari fund manager besar menjelang tutup tahun.
“Secara realistis, level 8.700-8.900 lebih mungkin tercapai dulu sebelum menembus 9.000, kecuali muncul sentimen positif tambahan seperti aliran dana MSCI,” ujar Rita.
Rita memaparkan, kenaikan IHSG saat ini banyak ditopang oleh sektor perbankan besar seperti BBRI, BMRI, BBCA, dan BBNI yang memiliki laba dan NIM kuat. Di sisi lain, saham energi dan komoditas seperti MEDC, ADRO, PGAS, HRUM, dan BREN terdorong oleh tren harga energi global.
Sektor consumer goods dan ritel juga ikut menguat, dengan UNVR, ICBP, dan GGRM menjadi penopang berkat peningkatan permintaan domestik menjelang akhir tahun.
“Singkatnya, momentum IHSG masih bullish, tapi menjelang akhir tahun potensi koreksi wajar bisa terjadi sebelum melanjutkan tren naik di 2026,” tandasnya.
Baca Juga
IHSG Terbuka Kembali Cetak Rekor, Tiga Saham Dipimpin INET Direkomendasikan Beli
Dari sisi regulator, BEI mengaku tetap percaya diri. Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI Irvan Susandy menegaskan prospek pasar modal masih sangat solid di sisa tahun ini.
“Optimis dong (IHSG 9.000),” tegas Irvan saat ditemui di Gedung BEI, Jakarta, Senin (3/11/2025).
Ia menilai, keyakinan itu ditopang oleh fundamental ekonomi yang kuat serta kinerja emiten yang terus membaik.
Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa juga menyampaikan pandangan serupa. Ia bahkan memproyeksikan IHSG tak hanya bisa menembus 9.000 pada akhir tahun ini, tetapi juga berpotensi mencapai 32.000 dalam jangka panjang.

