IHSG Berhasil Tembus ATH 8.022, Analis Ungkap Faktor Pendorong dan Target Selanjutnya
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) berhasil menyentuh level tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) 8.022. Sedangkan penutupan perdagangan sesi I menguat 66,95 poin (0,84%) ke level 8.003,13.
Rekor indeks tersebut ditopang ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga The Fed sebanyak 25 basis poin dan dilanjutkan dengan pemangkasan sebanyak 25 bps setiap kuartal dalam beberapa tahun ke depan.
Analis Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan, rekor IHSG didukung data ekonomi AS yang lebih baik dari perkiraan membuat optimisme penurunan suku bunga The Fed pada September terbuka lebar.
Baca Juga
Tegaskan Aksi Damai, Said Iqbal: Murni Gerakan Aspirasi, Tak Ada Kekerasan
“Bahkan Morgan Stanley memperkirakan bahwa FOMC akan memangkas suku bunga acuan sebesar 25 bps pada September dan diikuti dengan pemangkasan setiap kuartal sebesar 25 bps hingga ke level 2,75-3,0% pada akhir 2026,” ujarnya di Jakarta, Kamis (28/8/2025).
Sentimen positif juga datang dari sinyal bahwa Bank Indonesia (BI) akan melanjutkan tren penurunan suku bunga. Hal ini memberi angin segar terhadap sektor sensitif suku bunga, seperti perbankan hingga properti.
Pandangan positif juga datang dari Analisis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana. Menurut dia, indeks berpotensi menguat lebih lanjut, jika target resitance 8.008-8.017 bisa ditembus hari ini. Sedangkan penopang indeks hari ini juga datang dari aksi buruh yang berjalan kondusif.
“Kami mencermati terbukanya peluang penguatan, apabila resistance indeks 8.008-8.017 ditembus. Penopang utama datang dari saham big cap,” ujarnya hari ini.
Dorongan DCII dan DSSA
Terkait lompatan IHSG sesi I hari ini ditopang penguatan pesat saham big cap, PT DCI Indonesia Tbk (DCII) dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA). Harga saham DCII sempat menembus melesat 12,50% menjadi Rp 362.000, meski sesi I ditutup naik 7,68% menjadi Rp 346.450. Saham DSSA sempat melesat 5,26% ke level tertinggi baru sepanjang masa Rp 100.000, meski akhirnya ditutup naik hanya 3,89% menjadi Rp 98.700 akhir sesi I.
Kenaikan indeks juga didukung saham empat bank papan atas, seperti BBRI naik 0,48% menjadi Rp 4.150, BMRI naik 0,21% menjadi Rp 4.810, BBCA naik 0,60% menjadi Rp 8.350, dan BBNI menguat 0,90% menjadi Rp 4.490.
Baca Juga
Sedangkan sektor saham penyumbang utama pengutan IHSG intraday sesi I, yaitu saham sektor industri melesat hampir 2,81%, sektor teknologi naik lebih dari 2,59%, sektor kesehatan naik 1,65%, sektor energi 0,88%, sektor properti menguat 0,83%, dan sektor konsumer non primer 0,83%. Sebaliknya sektor yang bergerak di zona merah adalah infrastruktur 0,11%.
Di tengah rekor IHSG tersebut, tujuh saham ini berhasil catatkan penguatan hingga auto reject atas (ARA), yaitu saham KONI melesat 25% menjadi Rp 1.950, TEBE naik 25% menjadi Rp 1.750, OBMD naik 25% menjadi Rp 312, VOKS melesat 24,75% menjadi Rp 252, PGUN naik 24,75% menjadi Rp 2.470, JARR naik 24,72% menjadi Rp 1.665, VOKS melemsat 24,75% menjadi Rp 252. dan KETR naik 24,39% menjadi Rp 510.
Meski tidak ARA, saham ini juga catatkan penguatan mengesankan sepanjang sesi I, yaitu ATLA melesat 30% menjadi Rp 65, BSBK menguat 29,58% menjadi Rp 92, dan KMTR menguat 20,14% menjadi Rp 346.
Baca Juga
Bank Sentral Korea Selatan Tahan Suku Bunga di Tengah Meningkatnya Risiko Sektor Properti
Kemarin, IHSG ditutup melesat 30,42 poin (0,38%) menjadi 7.936 dengan penjualan bersih (net sell) saham oleh investor asing bernilai Rp 212,58 miliar. Net sell terbanyak melanda saham BBCA Rp 335,97 miliar, BMRI Rp 98,86 miliar, dan ADRO Rp 72,09 miliar. Kenaikan indeks kemarin ditopang penguatan saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dengan penguatan 10,42% menjadi Rp 9.800.
Sedangkan sektor saham penyumbang adalah sektor industri menguat 2,34%, material dasar naik 2,13%, properti 2,15%, infrastruktur 1,16%, dan transportasi 0,44%. Sebaliknya penurunan melanda saham sektor konsumer primer, keuangan, serta konsumer non primer.

