Usai IHSG Tembus ATH 8.125, Bagaimana Arah Selanjutnya?
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali menorehkan rekor baru dengan menembus level tertinggi sepanjang sejarah (all time high/ATH) setelah catatkan kenaikan 85,162 poin (1,06%) menjadi 8.125,201 pada penutupan perdagangan Senin (23/9/2025).
Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana alias Didit menilai bahwa meski berhasil cetak ARA, tren penguatan IHSG masih berlanjut. “Seperti kami sampaikan sebelumnya, IHSG masih berada dalam fase uptrend. Kenaikan hari ini juga ditopang oleh tingginya volume pembelian. Jika mampu menembus resistance 8.126, target indeks berikutnya ke level 8.155. Meski demikian, investor perlu mencermati level support terdekat di 8.022,” ungkapnya kepada investortrust.id Senin, (23/9/2025).
Baca Juga
Top! IHSG kembali Cetak Rekor ATH ke 8.125 hingga Saham ARA Bertaburan
Senada dengan Didit, Pengamat Pasar Modal Indonesia, Reydi Octa, menyebut bahwa tren reli IHSG didukung oleh sentimen positif yang cukup kuat. “Proyeksi kenaikan IHSG ke level 8.155 sangat terbuka, apalagi jika faktor fundamental tetap mendukung. Pertumbuhan ekonomi domestik yang solid, inflasi yang terkendali, serta kebijakan pemerintah yang pro-investor menjadi katalis penting,” ujar Reydi saat dihubungi investortrust.id Senin, (23/9/2025).
Reydi menambahkan, rilis kinerja keuangan kuartal III emiten akan turut menentukan arah pasar selanjutnya. Hasil laporan keuangan yang positif diyakini bisa memperkuat arus dana masuk. “Selain itu, tren penurunan suku bunga global maupun domestik, serta aliran dana asing, akan terus menopang IHSG hingga akhir tahun," ucap dia.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menambahkan secara teknikal, IHSG masih menunjukkan pola uptrend. Menurutnya Indikator Stochastics K_D dan Relative Strength Index (RSI) memberi sinyal positif, sementara moving average (MA20 & MA60) juga bergerak naik, mengonfirmasi tren penguatan pasar.
Baca Juga
OJK Kaji Kenaikan Free Float Saham Jadi 10%, Begini Pandangan AEI
"Dari sisi katalis, prospek pemangkasan suku bunga oleh Bank Indonesia (BI) maupun The Fed diyakini menjadi angin segar bagi perekonomian domestik. Kebijakan ini sekaligus memberi momentum positif bagi pasar modal Indonesia yang tengah berada dalam fase reli," katanya.
Selain itu, Nafan menilai pelaku pasar juga mengapresiasi data terbaru M2 Money Supply (YoY) Agustus 2025 yang dirilis BI. Likuiditas perekonomian tumbuh 7,6%, lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya sebesar 6,6%. Pertumbuhan likuiditas ini menjadi sinyal bahwa daya dorong ekonomi semakin kuat.
"BI pun memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2025 dapat berada di kisaran atas proyeksi, yakni 4,6% hingga 5,1%. Proyeksi optimistis ini menambah keyakinan investor terhadap prospek pasar saham domestik," terangnya.

