Bank Sentral Korea Selatan Tahan Suku Bunga di Tengah Meningkatnya Risiko Sektor Properti
Poin Penting
- Suku bunga ditahan di level 2,50% untuk pertemuan kedua berturut-turut, sesuai ekspektasi pasar.
- Pertumbuhan ekonomi direvisi naik menjadi 0,9% tahun ini, meski tetap terendah sejak 2020.
- Risiko utang rumah tangga dan harga properti di Seoul menjadi pertimbangan utama.
- Ekspektasi pasar: pemangkasan bunga pertama berpeluang terjadi pada Oktober.
SEOUL, investortrust.id – Bank of Korea (BOK) kembali mempertahankan suku bunga acuan di level 2,50% pada pertemuan Kamis (28/8/2025), menandai keputusan kedua berturut-turut tanpa perubahan. Langkah ini diambil di tengah kekhawatiran meningkatnya risiko ketidakseimbangan keuangan akibat lonjakan utang rumah tangga dan harga properti yang terus menanjak di Seoul.
Baca Juga
Bank Sentral Korea Selatan Pangkas Suku Bunga, Pasar Asia Jatuh Terimbas Tarif Trump
Keputusan tersebut sesuai ekspektasi mayoritas ekonom yang disurvei Reuters. Meski demikian, BOK merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun ini menjadi 0,9% dari sebelumnya 0,8%, namun laju itu tetap yang paling lambat sejak 2020.
“Gubernur Rhee Chang-yong menilai harga rumah di sejumlah wilayah Seoul masih naik dengan kecepatan tinggi. Hal ini memberi alasan kuat bagi dewan untuk menahan kebijakan,” ujar Kim Jin-wook, analis Citi Research, seperti dikutip Reuters. Ia memproyeksikan pemangkasan bunga sebesar 25 basis poin dapat terjadi pada Oktober mendatang.
Di sisi lain, kinerja ekspor Korea Selatan menunjukkan perbaikan dengan kenaikan dua bulan berturut-turut pada Juli, didorong oleh pengiriman chip dan mobil. Namun, ketidakpastian tarif AS tetap menjadi variabel utama yang membayangi outlook perdagangan negeri itu.
Kesepakatan AS-Korsel
Keputusan bank sentral ini muncul hanya beberapa hari setelah Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung bertemu Presiden AS Donald Trump awal pekan ini, yang menghasilkan serangkaian kesepakatan di antara kedua negara.
Kesepakatan itu mencakup komitmen investasi bernilai miliaran dolar dari perusahaan Korea Selatan, pembelian pesawat senilai rekor USD 50 miliar oleh Korean Air, serta kerja sama di bidang galangan kapal dan energi.
Baca Juga
Deal! Trump Tetapkan Tarif 15%, Korsel Janjikan Investasi Jumbo
Dalam perjanjian dagang Juli lalu, Seoul berkomitmen menanamkan investasi USD 350 miliar di AS, termasuk USD 150 miliar untuk industri perkapalan. Sebagai imbalannya, tarif “resiprokal” untuk ekspor Korea Selatan ke AS diturunkan menjadi 15% dari sebelumnya 25%, termasuk untuk produk otomotif.
Negara ini mencatat pertumbuhan yang lebih baik dari perkiraan pada periode April–Juni berkat ekspor bersih, dengan PDB naik 0,6% secara kuartalan dan 0,5% secara tahunan.
Menurut data terbaru Bank Dunia, ekspor barang dan jasa menyumbang sekitar 44% dari PDB Korea Selatan pada 2023, dengan AS sebagai pasar ekspor terbesar kedua setelah Tiongkok.
Catatan analis Bank of America menyebutkan bahwa dengan “berkurangnya hambatan perdagangan,” BOK kemungkinan akan merevisi proyeksi pertumbuhan PDB 2025 mendekati 1,0%, naik dari 0,8% sebelumnya.
Para analis memperkirakan BOK akan terbuka untuk memangkas suku bunga dalam tiga bulan mendatang, dengan potensi pemangkasan pertama pada Oktober. Mereka juga memperkirakan pemangkasan lanjutan pada paruh pertama 2026 untuk menstabilkan suku bunga di level 2%.
Inflasi di Korea Selatan, yang berada di 2,1% pada Juli, sedikit di atas target BOK sebesar 2%, dinilai mendukung potensi pemangkasan suku bunga.

