Target Kinerja Keuangan dan Harga Saham ANTM Direvisi Naik, Ini Sejumlah Faktor Pendorong
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) diprediksi bukukan kinerja lebih solid untuk tahun fiskal 2026 didorong pemulihan suplai emas dari PT Freeport Indonesia (PTFI) bersamaan dengan rata-rata harga jual emas serta nikel yang tengah resilien.
Faktor tersebut mendorong BRI Danareksa Sekuritas memilih untuk merevisi naik target harga saham ANTM menjadi Rp 4.800, dibandingkan proyeksi sebelumnya Rp 4.100 dengan rekomendasi dipertahankan beli.
Baca Juga
Cetak Rekor Tertinggi, Emas Antam (ANTM) Sentuh Rp 2,703 Juta
Begitu juga dengan proyeksi kinerja keuangan direvisi naik. Target pendapatan tahun 2025 direvisi naik dari semula Rp 89,76 triliun menjadi Rp 97,13 triliun dan target laba bersih direvisi naik dari semula Rp 7,94 triliun menjadi Rp 8,09 triliun. Begitu juga dengan target pendapatan tahun ini direvisi naik dari Rp 92,64 triliun menjadi Rp 102,56 triliun dana estimasi laba bersih dinaikkan dari semula Rp 7,91 triliun menjadi Rp 8,90 triliun.
Analis BRI Danareksa Sekuritas Naura Reyhan Muclis dan Andhika Audrey mengatakan, revisi naik target saham dan kinerja keuangan tersebut telah mempertimbangkan target kinerja manajemen ANTM. Disebutkan penjualan emas tahun ini diperkirakan kembali normal mencapai 38 ton, seiring dimulainya kembali impor emas sejak November 2025 dengan estimasi sekitar 10 ton.
Perusahaan menargetkan porsi emas impor mencapai 30% dari total volume penjualan sepanjang 2026-2027 atau turun dari proyeksi 64% pada 2025. Pasokan domestik diperkirakan meningkat sekitar 17% atau setara 7 ton didukung pemulihan suplai dari PTFI yang diproyeksi berada pada kisaran 15–20 ton.
Baca Juga
“Sejumlah kebijakan, seperti kewajiban pasar domestik dan pajak ekspor emas dinilai mendukung peningkatan pasokan emas ANTM,” tulisnya dalam riset yang diterbitkan beberapa hari lalu.
Selain emas, BRI Danareksa Sekuritas, ANTM mendapatkan angin segar dari bisnis penjualan bijih. Penjualan komoditas ini diperkirakan tetap menjadi penopang utama laba ANTM pada 2026-2027 dengan kontribusi sekitar 50–55% terhadap laba bersih tahun ini.
“ANTM mengantongi kuota RKAB bijih nikel sekitar 20 juta ton pada 2026 atau naik dari asumsi tahun lalu sebanyak 18 juta ton,” tulisnya.
Baca Juga
Krisis Greenland Memanas, Eropa Siapkan ‘Bazooka’ Dagang ke AS
ANTM, terang BRI Danareksa Sekuritas, juga bakal didukung kebijakan pemangkasan produksi nikel nasional menjadi 140 juta ton, sehingga diharapkan berimbas terhadap kenaikan harga bijih nikel ke kisaran US$ 50–55 per wmt.
Sementara itu, volume penjualan feronikel perseroan diprediksi tetap stabil di kisaran 10 ribu ton pada pada 2026-2027, meski menghadapi tekanan margin akibat mismatch harga acuan HPM terhadap harga realisasi.
Pada segmen bauksit–alumina, fasilitas SGA Mempawah berpotensi menyerap 3–5 juta ton bauksit per tahun pada 2026-2027.

