Meski Target Laba Direvisi Turun, Saham SILO Tetap Direkomendasikan Beli
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO) mencatat kinerja kurang memuaskan pada paruh pertama 2025, sehingga sejumlah proyeksi laba dan target harga direvisi turun akibat penurunan volume layanan. Meski demikian, saham SILO tetap menarik dengan rekomendasi beli untuk jangka panjang.
SILO membukukan kenaikan pendapatan tipis 2% menjadi Rp 6,1 triliun pada semester I-2025 dipicu penurunan inpatient (IP) days -7% dan hanya outpatient (OP) yang naik 2%. Kondisi ini tidak mampu ditutup dengan kenaikan revenue intensity IP/OP masing-masing +3%/+8% yoy.
Baca Juga
Siloam (SILO) Punya Teknologi Bedah Lutut Pakai Robot, Pasien Pulih Sehari Pascaoperasi
SILO membukukan laba bersih Rp 457 miliar atau naik 42% yoy dan core profit turun 20% yoy menjadi Rp 575 miliar. Raihan tersebut baru mencapai 42% dari estimasi laba berdasarkan riset BRI Danareksa Sekuritas bernilai Rp 1,1 triliun untuk 2025.
Analis BRI Danareksa Sekuritas Wilastita Muthia Sofi dan Ismail Fakhri Suweleh mengatakan, manajemen menilai lemahnya volume juga dipengaruhi keputusan menutup sejumlah kerja sama dengan perusahaan asuransi akibat piutang tidak berkelanjutan dan permintaan diskon yang tinggi. Tanpa faktor ini, pertumbuhan pendapatan diperkirakan bisa mencapai 4-5% yoy, bukan hanya 2%.
BRI Danareksa Sekuritas juga menyebutkan dari sisi profitabilitas, operating margin (OPM) SILO tergerus 270 bps pada semester I-2025. Tekanan ini bersumber dari biaya obat meningkat terutama kenaikan kunjungan OP kemoterapi, beban gaji lebih tinggi akibat implementasi sistem NGS, dan depresiasi naik karena belanja modal alat medis dan pembayaran sewa ke FirstREITS yang dihitung sebagai persentase dari pendapatan 2024.
Baca Juga
Top Gainer Sepekan Didominasi Saham Lapis Dua, Ada ACST dan FITT
Dengan mempertimbangkan sejumlah faktor tersebut, BRI Danareksa Sekuritas memilih untuk merevisi turun target laba bersih SILO tahun ini dari semula Rp 1,08 triliun menjadi Rp 930 miliar. Proyeksi pendapatan juga direvisi turun dari semula Rp 10,52 triliun menjadi Rp 9,78 triliun. Margin kotor atau gross profit juga direvisi turun dari 51% menjadi 48%.
Revisi tersebut menjadikan target harga saham SILO dipangkas dari semula Rp 2.850 menjadi Rp 2.600 dengan rekomendasi tetap dipertahankan beli. Bandingkan dengan harga penutupan saham ini akhir pekan ini Rp 2.150, sehingga masih terbuka penguatan lebih mengesankan. Saham SILO juga telah turun terlalu dalam lebih dari 30% sepanjang ytd.

