Meski Laba Tumbuh Melambat, Saham BBCA Tetap Menarik dan Direkomendasikan Beli
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Dua sekuritas ini mempertahankan rekomendasi beli saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), seiring rilis kinerja keuangan sepanjang 11 bulan 2025 atau hingga November 2025. Rekomendasi beli dan target harga saham menggiurkan dipatok, meski terjadi perlambatan kenaikan laba.
Mandiri Sekuritas dalam riset hariannya mempertahankan rekomendasi beli saham BBCA dengan target harga Rp 11.000. Begitu juga dengan BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli saham BBCA dengan target harga Rp 10.800.
Mandiri Sekuritas dalam riset harian kemarin menyebutkan bahwa pertumbuhan laba BCBA cenderung melambat, namun tetap stabil. Laba bank only BBCA tercatat tumbuh 4% secara tahunan (year-on-year/YoY), lebih rendah dari pertumbuhan 8% YoY pada periode hingga kuartal III-2025. “Perlambatan pertumbuhan laba tersebut dipengaruhi oleh efek basis tinggi (high base) pada kuartal IV-2025,” tulis riset tersebut.
Baca Juga
Laba 11 Bulan BCA Tembus Rp 52,7 Triliun Naik 4%, Pertumbuhan Kredit Melambat
Kondisi serupa juga terjadi pada pertumbuhan kredit. Hingga November 2025, pertumbuhan kredit BBCA tercatat sebesar 5% YoY, melambat akibat pembukuan kredit yang tinggi pada kuartal IV-2024, khususnya di segmen korporasi.
Meski demikian, kualitas aset BBCA tetap solid. Biaya kredit (credit cost) pada 11M25 tercatat sebesar 0,4%, yang merupakan terendah di antara kelompok bank besar (Big 4) serta sejalan dengan panduan manajemen.
Dari sisi profitabilitas, BBCA membukukan return on equity (ROE) sebesar 22,4% pada 11M25. Capaian ini masih menjadi salah satu yang terbaik di industri perbankan nasional, mencerminkan efisiensi dan ketahanan kinerja perseroan di tengah perlambatan pertumbuhan.
Sementara itu, BRI Danareksa Sekuritas menyebutkan bahwa laba bersih (bank-only) BBCA senilai Rp 4,4 triliun pada November 2025 menunjukkan penurunan 6% secara bulanan (month-on-month/mom), seiring melemahnya pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) dan pendapatan operasional lainnya.
Baca Juga
Penurunan laba secara bulanan dipicu oleh NII yang turun 3% mom serta pendapatan operasional lain yang merosot 15% mom. Meski demikian, secara tahunan (year-on-year/yoy), laba bersih BBCA masih tumbuh 4% berkat penurunan provisi yang mencapai 20% yoy.
Dari sisi margin, net interest margin (NIM) BBCA tertekan dan turun ke level 5,6%. NIM tersebut terkompresi 22 basis poin (bps) secara bulanan dan 39 bps secara tahunan. Penurunan ini dipengaruhi oleh penurunan imbal hasil aset berbunga (earning asset yield) sebesar 27 bps mom dan 43 bps yoy, meski sebagian tertahan oleh perbaikan cost of fund (CoF) yang turun 5 bps mom dan 4 bps yoy.
Sementara itu, rasio biaya terhadap pendapatan (cost to income ratio/CIR) tercatat meningkat menjadi 33,3%. Angka ini naik 178 bps mom dan 220 bps yoy, sejalan dengan penurunan laba operasional sebelum provisi (pre-provision operating profit/PPOP) sebesar 8% mom dan 4% yoy. Kenaikan CIR secara tahunan juga dipengaruhi oleh beban operasional yang meningkat 8%.
Baca Juga
Saham Emiten Grup Bakrie Melejit MDIA hingga BNBR Tertinggi, Bangkit dan Incaran Pemodal Kini
Dari sisi kualitas aset, biaya kredit (cost of credit/CoC) tercatat menurun ke level 0,2%, atau turun 15 bps mom dan 8 bps yoy. Hal ini mencerminkan tetap solidnya kualitas kredit BBCA. Likuiditas perseroan juga tetap terjaga.
Penyaluran kredit tercatat relatif datar secara bulanan, sementara dana pihak ketiga tumbuh 2% mom. Kondisi tersebut membuat rasio loan to deposit ratio (LDR) berada di level 76,8%, turun 150 bps secara bulanan dan 215 bps secara tahunan, serta tetap berada di bawah 80%.

