Pendapatan Segmen Energi Hijau Melesat 440%, Analis Sebut Transformasi TOBA Berada di Jalur Tepat
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) mencatatkan kenaikan pesat pendapatan segmen bisnis proyek hijau atau energi terbarukan sebanyak 440% sepanjang semester I 2025. Lompatan tersebut mengindikasikan transformasi bisnis yang digencarkan sejak dua tahun lalu sudah berada di jalur yang tepat.
Transformasi bisnis hijau ke energi hijau ini mendapatkan respons positif dari pelaku pasar saham. Hal ini ditunjukkan lompatan harga saham TOBA sepanjang year to date (ytd) lebih dari 181% menjadi Rp 1.125.
TOBA sebelumnya dikenal sebagai perusahaan energi dengan penyumbang utama segmen batu bara. Namun dalam beberapa tahun terakhir, perseroan merombak ulang model bisnisnya dengan berinvestasi pada bisnis masa depan dan memposisikan diri sebagai perusahaan yang fokus pada keberlanjutan (Sustainability Centered Business).
Baca Juga
TOBA Konsisten Genjot Energi Hijau, Meski Merugi Jumbo di Semester I-2025
Sejumlah segmen bisnis berkelanjutnya yang tengah digenjot TOBA adalah kendaraan listrik, energi baru dan terbarukan (EBT) hingga pengelolaan limbah dan mengubahnya menjadi energi. Segmen kendaraan listrik dengan menjadi penyedia ekosistem motor listrik dengan brand Electrum yang fokus pada pengembangan motor listrik hingga infrastruktur penukaran baterai.
TBS Energi (TOBA) menggarap linis bisnis ini sejak tahun 2021 bermitra dengan Gojek (GoTo Group). Seiring berjalannya waktu, kemitraan ini diperluas dengan menggarap ekosistem kendaraan listrik untuk segmen bisnis lainnya, termasuk bisnis logistik.
Kemudian, perseroan memperlebar sayap ke pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dan mini hidro (PLTM) sejak 2023. Pembangkit mini hydro berlokasi di Lampung dengan kapasitas 6MW yang telah mulai produksi sejak Januari 2025. TOBA juga sedang membangun PLTS dengan kapasitas 46MWp di Batam dengan target pasar kawasan industri. Di kedua pembangkit ini, TOBA memiliki partisipasi 49%.
Baca Juga
Divestasi PLTU Picu Rugi Bersih TBS Energi (TOBA), tapi Prospek Bisnis Makin Kuat ke Depan
Perseroan juga merangsek ke bisnis berkelanjutan pengelolaan limbah. TOBA memulainya dengan menggarap limbah medis dan kini melayani limbah secara umum. Yang paling menarik, perseroan tidak cuma mengumpulkan juga mengolah limbah menjadi sumber energi. Ekspansi TOBA dimulai dengan akuisisi Perusahaan pengelolaan limbah medis bernama Asia Medical Enviro Services (AMES). Perusahaan berbasis di Singapura ini memiliki pangsa pasar ~50% pada Agustus 2023.
Selanjutnya pada Desember 2023, TOBA juga mengakuisisi perusahaan asal Indonesia yang memiliki model bisnis pengelolaan limbah B3 medis, B3 komersial serta limbah domestik bernama ARAH Environmental. Perusahaan ini beroperasi di 15 Provinsi dan melayani lebih dari 5.000 pelanggan medis, industrial dan domestik. Terbaru, akuisisi perusahaan pengelolaan limbah berbasis di Singapura bernama Sembcorp Environment Pte. Ltd. serta Sembcorp Enviro Facility Pte. Ltd. pada Maret 2025 dan Mei 2025.
Katalis Jangka Panjang
Sementara itu, analis NH Korindo Sekuritas Leonardo Lijuwardi mengatakan, langkah strategis ini patut diapresiasi, karena berbeda dengan perusahaan yang bisnisnya berbasis batubara. “TOBA tidak mendiversifikasi ke sektor ESG dan sustainability related, tetapi merombak ulang model bisnis. Ini adalah transformasi yang bold,” ungkapnya.
Dia melanjutkan, masuknya TOBA ke bisnis pengelolaan limbah ini akan menjadi katalis jangka panjang untuk kinerja Perseroan. Pasalnya model bisnis ini sangat relevan untuk kondisi Indonesia yang sudah masuk pada fase darurat sampah. “Marketnya ada dan besar di Indonesia, karena sampah dan limbah jadi persoalan nyata. Pemerintah mencoba cari solusi dan game changer-nya nanti adalah Perpres Sampah. TOBA menjadi perusahaan yang menjadi beneficiary dari regulasi ini nantinya” tambahnya.
Sebagaimana diketahui, TOBA mencatatkan pendapatan dari segmen pengelolaan limbah pada semester I-2025 sebesar US$ 59,6 juta atau naik 831% year-on-year (yoy). Sementara untuk bisnis penjualan sewa kendaraan listrik pada periode yang sama mencapai US$ 3,4 juta atau menguat 13% yoy.
Baca Juga
TOBA Bertransformasi ke Energi Terbarukan dan ESG, Analis Soroti Kinerja Semester I-2025
Lonjakan pendapatan dari segmen pengelolaan limbah ini terjadi pasca Perseroan melakukan akuisisi terhadap Sembcorp Environment Pte Ltd pada Maret 2025 dan Sembcorp Enviro Facility Pte Ltd pada Mei 2025 dengan nilai total transaksi mencapai SGD414 juta.
Mengacu laporan konsolidasi per Juni 2025, TOBA mencatatkan pendapatan sebesar US$ 172,2 juta atau turun 31% yoy. Perseroana juga mencatatkan rugi periode berjalan mencapai US$ 115,3 juta dari sebelumnya untung US$ 40,5 juta pada periode sama tahun 2024.
Pandangan positif juga diberikananalis dari MNC Sekuritas Rudy Setiawan. Menurut dia, bisnis pengelolaan limbah bukan sekadar soal penanganan sampah, tetapi juga menyangkut potensi produksi energi. Ia berharap revisi Peraturan Presiden (Perpres) tentang pengelolaan limbah yang akan diterbitkan nantinya dapat mengatur harga energi dari limbah serta skema pembayaran yang terintegrasi.
Baca Juga
Tiga Saham Peternakan Ayam Ini Direkomendasikan Beli, Diramal Cuan Tertinggi Saham MAIN
“Bisnis pengelolaan limbah itu bukan hanya soal mengatasi atau mengurangi limbah, juga soal produksi energi. Semoga revisi Perpres pengelolaan limbah yang akan dirilis bisa mengatur harga energi yang dihasilkan dari pengelolaan limbah dan skema pembayaran yang terintegrasi,” kata Rudy Setiawan.
Menurut dia, jika regulasi baru tersebut resmi diberlakukan, TOBA berpeluang besar mendapatkan keuntungan karena model bisnis Sembcorp di Singapura telah terbukti berhasil. Mulai dari pengumpulan dan pemilahan sampah hingga skema pembayaran pelanggan, model ini dinilai dapat langsung diduplikasi di Indonesia, mengingat negara ini telah memasuki fase darurat sampah dengan komitmen kuat dari pemerintah untuk menjadikannya prioritas nasional.
“Bisnis model Sembcorp tinggal di duplikasi. Prospeknya tentu menjanjikan mengingat kondisi Indonesia yang sudah masuk fase darurat sampah dan pemerintahnya berkomitmen tinggi untuk menjadikan masalah ini sebagai prioritas nasional,” katanya.
Lebih lanjut, Rudy mencatat bahwa segmen pengelolaan limbah yang baru dikonsolidasikan pasca-akuisisi menyumbang 35% dari total pendapatan TOBA pada semester I-2025, serta memberikan kontribusi hingga 65% terhadap laba kotor. Hal ini menunjukkan bahwa skala dan profitabilitas dari bisnis ini cukup menjanjikan dan dapat menciptakan nilai ekonomi yang lebih signifikan dibandingkan model bisnis sebelumnya dalam jangka waktu yang lebih singkat.

