Bagikan

Transformasi Energi TOBA Berbuah Hasil, Pendapatan Segmen Hijau Melonjak 738%

Poin Penting

Pendapatan bisnis hijau TOBA melonjak 738% menjadi US$164,1 juta pada 2025.
Segmen pengelolaan limbah menyumbang sekitar 41% dari total pendapatan.
Ekosistem motor listrik Electrum telah mengoperasikan 7.500 unit motor listrik.

JAKARTA, investortrust.id – PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) mencatat perkembangan positif pada kinerja operasional sepanjang 2025. Transformasi bisnis ke segmen bisnis hijau yang dimulai sejak tahun lalu membuahkan hasil yang ditunjukkan peningkatan pesat pendapatan tahun lalu.

Pendapatan dari sektor bisnis berkelanjutan, seperti pengelolaan limbah dan kendaraan listrik, meningkat signifikan hingga mencapai US$ 164,1 juta pada 2025 atau melonjak 738% secara year on year (yoy).

Kontribusi pendapatan dari segmen pengelolaan sampah meningkat pesatmenjadi 41% terhadap total pendapatan konsolidasian tahun lalu. Peningkatan ini mencerminkan percepatan pergeseran portofolio bisnis TOBA dari sektor batu bara menuju bisnis yang lebih berkelanjutan.

Baca Juga

TBS Energi (TOBA) Tuntaskan Transformasi ke Bisnis Hijau, Kinerja Optimistis Tumbuh

Langkah strategis ini dinilai penting di tengah tren transisi energi global. Ketergantungan penuh pada bahan bakar fosil tradisional menghadapi tantangan besar akibat ketidakpastian rantai pasok global dan tensi geopolitik yang dapat mengganggu stabilitas energi.

Analis Ajaib Sekuritas Rizal Rafly menilai bahwa pertumbuhan pendapatan dari sektor hijau menjadi indikator penting bahwa strategi transformasi bisnis TOBA telah berjalan sesuai rencana.

PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA)

“Peningkatan kontribusi dari bisnis hijau menunjukkan bahwa strategi diversifikasi yang dilakukan perusahaan mulai memberikan hasil. Segmen pengelolaan limbah saat ini menjadi salah satu penggerak utama kinerja, sementara kendaraan listrik dan energi terbarukan berpotensi menjadi sumber pertumbuhan berikutnya,” ujarnya di Jakarta, kemarin.

Dari sisi operasional, bisnis pengelolaan limbah melalui anak usaha CORA Environment terus memperluas kapasitas layanan di Singapura dan Indonesia. Secara keseluruhan, bisnis ini mengelola sekitar 970 ribu ton limbah setiap tahun serta melayani lebih dari 470 ribu pelanggan dan ribuan perusahaan.

Selain itu, Asia Medical Enviro Services (AMES) tercatat memproses sekitar 4.600 ton limbah medis di Singapura. Sementara ARAH Environmental mengelola lebih dari 11 ribu ton limbah medis dan domestik di Indonesia.

Baca Juga

TBS Energi (TOBA) Gelontorkan Rp 586 Miliar untuk Buyback Saham

Pada sektor kendaraan listrik, Electrum terus memperkuat ekosistem mobilitas listrik di Indonesia. Hingga akhir 2025, perusahaan telah mengoperasikan lebih dari 7.500 unit motor listrik dengan dukungan sekitar 364 stasiun penukaran baterai yang tersebar di berbagai wilayah operasional.

Di sektor energi terbarukan, proyek pembangkit mini hidro di Lampung dengan kapasitas 6 MW telah mulai beroperasi pada 2025. Selain itu, proyek pembangkit listrik tenaga surya terapung di Batam dengan kapasitas 46 MWp masih dalam tahap konstruksi dan ditargetkan mulai beroperasi pada akhir 2026.

Menurut Rizal, peningkatan kontribusi bisnis hijau ini berpotensi memperkuat profil pendapatan perseroan dalam beberapa tahun ke depan.

“Dengan semakin besarnya kontribusi sektor berkelanjutan terhadap pendapatan dan EBITDA, struktur bisnis TOBA menjadi lebih terdiversifikasi dan tidak lagi terlalu bergantung pada siklus harga batu bara. Hal ini berpotensi menciptakan pertumbuhan yang lebih stabil dalam jangka panjang,” kata dia.

Dicermati Pasar

Sejalan dengan perkembangan pesat tersebut, dia mengatakan, pelaku pasar mulai mencermati perkembangan bisnis hijau TOBA sebagai salah satu faktor utama yang dapat memengaruhi valuasi perusahaan ke depan. “Jika pertumbuhan segmen tersebut berlanjut, kontribusinya terhadap kinerja keuangan perseroan diperkirakan akan semakin signifikan dalam beberapa tahun mendatang,” terangnya.

Menurutnya, transformasi yang dilakukan perusahaan juga sejalan dengan tren global menuju transisi energi. Emiten dengan portofolio bisnis berkelanjutan dinilai cenderung memperoleh valuasi yang lebih tinggi dibandingkan perusahaan yang masih bergantung pada batu bara.

Baca Juga

PLTS 100 Gigawatt Jadi Motor Baru Ekonomi Hijau

Lebih lanjut, percepatan menuju energi terbarukan dinilai menjadi jawaban atas kerentanan sistem energi konvensional yang sangat bergantung pada jalur perdagangan internasional yang kompleks. Berbeda dengan bahan bakar fosil yang harganya fluktuatif akibat konflik antarnegara, energi terbarukan menawarkan peluang menuju kemandirian energi dengan memanfaatkan sumber daya domestik yang berkelanjutan.

Penguatan sektor hijau oleh TOBA dinilai tidak hanya memperkuat fundamental keuangan perusahaan, tetapi juga memposisikan perseroan sebagai pemain dalam upaya mewujudkan kedaulatan energi yang lebih tangguh.

“Valuasi premium memang dipengaruhi banyak faktor, tetapi arah transformasi jangka panjang perusahaan menjadi hal yang paling penting. Dengan likuiditas yang kuat, rasio keuangan yang tetap sehat, serta kontribusi sektor hijau yang semakin besar terhadap EBITDA, prospek jangka panjang perusahaan masih cukup menarik,” ujarnya.

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024