TOBA Bertransformasi ke Energi Terbarukan dan ESG, Analis Soroti Kinerja Semester I-2025
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Tahun 2025 menjadi tonggak penting transformasi PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) dari perusahaan energi berbasis batu bara menjadi entitas yang fokus pada energi baru dan terbarukan (EBT) serta bisnis pengelolaan limbah. Langkah strategis ini mendapat sorotan positif dari para analis, meskipun berdampak sementara terhadap kinerja keuangan semester I-2025.
Transformasi TOBA sejatinya telah dimulai sejak beberapa tahun lalu, ketika perseroan menetapkan target netral karbon pada 2030. Upaya tersebut diwujudkan melalui pengembangan bisnis motor listrik, divestasi pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbahan bakar batu bara, serta investasi di pembangkit listrik mini-hydro dan tenaga surya.
Perseroan juga memperluas portofolionya dengan berinvestasi di sektor pengelolaan limbah medis. Langkah paling mencolok adalah akuisisi dua perusahaan pengelolaan limbah asal Singapura, yaitu Sembcorp Environment Pte. Ltd. pada Maret 2025 dan Sembcorp Enviro Facility Pte. Ltd. dua bulan setelahnya. Total nilai transaksi keduanya diperkirakan mencapai SGD414 juta. Akuisisi ini bertujuan memperkuat posisi TOBA dalam industri jasa lingkungan secara regional.
Analis pasar menyambut baik langkah tersebut karena dinilai menegaskan positioning TOBA sebagai perusahaan energi yang semakin ramah lingkungan dan lepas dari ketergantungan terhadap bisnis batu bara yang sangat dipengaruhi oleh siklus, cuaca, dan fluktuasi harga komoditas.
Rudy Setiawan, analis dari MNC Sekuritas, menyebut bahwa bisnis pengelolaan limbah bukan sekadar soal penanganan sampah, tetapi juga menyangkut potensi produksi energi. Ia berharap revisi Peraturan Presiden (Perpres) tentang pengelolaan limbah yang akan diterbitkan nantinya dapat mengatur harga energi dari limbah serta skema pembayaran yang terintegrasi.
“Bisnis pengelolaan limbah itu bukan hanya soal mengatasi atau mengurangi limbah, juga soal produksi energi. Semoga revisi Perpres pengelolaan limbah yang akan dirilis bisa mengatur harga energi yang dihasilkan dari pengelolaan limbah dan skema pembayaran yang terintegrasi,” kata Rudy Setiawan analis MNC Sekuritas dalam keterangan tertulisnya, Kamis (31/7/2025).
Menurut Rudy, jika regulasi baru tersebut resmi diberlakukan, TOBA berpeluang besar mendapatkan keuntungan karena model bisnis Sembcorp di Singapura telah terbukti berhasil. Mulai dari pengumpulan dan pemilahan sampah hingga skema pembayaran pelanggan, model ini dinilai dapat langsung diduplikasi di Indonesia, mengingat negara ini telah memasuki fase darurat sampah dengan komitmen kuat dari pemerintah untuk menjadikannya prioritas nasional.
Baca Juga
Divestasi PLTU Picu Rugi Bersih TBS Energi (TOBA), tapi Prospek Bisnis Makin Kuat ke Depan
“Bisnis model Sembcorp tinggal di duplikasi. Prospeknya tentu menjanjikan mengingat kondisi Indonesia yang sudah masuk fase darurat sampah dan pemerintahnya berkomitmen tinggi untuk menjadikan masalah ini sebagai prioritas nasional,” katanya.
Lebih lanjut, Rudy mencatat bahwa segmen pengelolaan limbah yang baru dikonsolidasikan pasca-akuisisi menyumbang 35% dari total pendapatan TOBA pada semester I-2025, serta memberikan kontribusi hingga 65% terhadap laba kotor. Hal ini menunjukkan bahwa skala dan profitabilitas dari bisnis ini cukup menjanjikan dan dapat menciptakan nilai ekonomi yang lebih signifikan dibandingkan model bisnis sebelumnya dalam jangka waktu yang lebih singkat.
Meski demikian, dampak dari transformasi besar-besaran ini terlihat pada kinerja keuangan awal. TOBA masih mengalami tekanan karena penjualan batu bara yang sebelumnya merupakan penyumbang utama pendapatan menurun signifikan. Dalam jangka menengah hingga panjang, eksposur terhadap fluktuasi harga komoditas akan semakin terbatas, seiring pergeseran fokus bisnis.
Pada semester I-2025, TOBA mencatatkan pendapatan konsolidasi sebesar USD172 juta, turun 31% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Perusahaan juga membukukan rugi bersih sebesar USD115,3 juta, berbanding terbalik dengan posisi laba bersih USD40,5 juta pada semester I-2024. Salah satu pemicu utamanya adalah penurunan penjualan batu bara dari 1,7 juta ton menjadi 0,7 juta ton, disertai penurunan harga jual dari USD83 per ton menjadi USD52,9 per ton.
Sementara itu Leonardo Lijuwardi dari NH Korindo Sekuritas menjelaskan bahwa kinerja ini tidak bisa semata-mata dianggap sebagai penurunan fundamental, melainkan konsekuensi logis dari aksi korporasi seperti divestasi PLTU dan akuisisi aset baru. Ia menekankan bahwa perubahan dalam laporan keuangan harus dilihat dalam konteks penyesuaian atas perubahan model bisnis.
Leo juga menambahkan bahwa kondisi serupa lazim terjadi dalam fase awal transformasi di berbagai industri. Oleh karena itu, penurunan kinerja keuangan di awal bukan cerminan dari buruknya prospek bisnis, melainkan bagian dari proses restrukturisasi yang bertujuan membentuk fondasi pertumbuhan jangka panjang.
Dengan transformasi ini, kontribusi pendapatan TOBA dari segmen batu bara berkurang drastis. TOBA kini tidak lagi hanya mengandalkan bisnis pertambangan dan pembangkit listrik batu bara, melainkan juga membangun portofolio bisnis berkelanjutan, termasuk kendaraan listrik dan pengelolaan limbah. Pada semester I-2025, porsi pendapatan dari segmen bisnis berkelanjutan TOBA mencapai 36%, meningkat tajam dari sebelumnya yang hanya di bawah 10%.

