Merespons Fenomena ‘Rojali & Rohana’, Unilever (UNVR) Ungkap Strategi Tingkatkan Penjualan
JAKARTA, investortrust.id – PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) mengungkap strategi perseroan untuk meningkatkan penjualan pada periode-periode berikutnya, di tengah marak fenomena ‘rombongan jarang beli (rojali) dan rombongan hanya nanya (rohana) pada pusat perbelanjaan (mall).
Direktur Keuangan Unilever Indonesia Neeraj Lal memandang, fenomena tersebut sudah ada jauh sebelum istilah Rojali & Rohana terkenal. Kedua istilah ini sebenarnya sama dan melekat dengan window shopping, yang sudah dikenalkan oleh bangsawan Eropa sejak abad ke-18.
Kegiatan melihat-lihat produk dari etalase toko atau ‘cuci mata’ sudah dilakukan di berbagai belahan dunia sejak dulu. Bagi sebagian orang, kegiatan ini bisa menjadi hiburan, bahkan bahan riset untuk menilai produk mana yang layak dibeli.
Baca Juga
Siapkan Dana Rp 2 Triliun, Unilever (UNVR) akan Buy Back Saham
Namun manajemen Unilever Indonesia menegaskan, fenomena window shopping tidak terlalu berdampak pada kinerja keuangan perseroan. “Poin pertamanya, sebagian besar dari portofolio kami sebenarnya tidak terlalu terdampak oleh hal seperti itu. Jadi penting untuk dipahami bahwa ketika kita bicara tentang window shopping, mal, dan sebagainya, sebagian besar dari portofolio kami tidak terdampak,” papar Neeraj dalam wawancara eksklusif secara virtual dengan wartawan, Kamis (31/7/2025).
Berdasarkan analisis manajemen, pembeli dengan karakteristik window shopping di pusat perbelanjaan, didominasi oleh pelanggan produk kecantikan dan perawatan pribadi. Pada portofolio bisnis ini, manajemen telah memahami kebiasaan konsumen yang datang ke mal untuk melihat berbagai produk atau mencobanya, namun pada akhirnya melakukan pembelian di tempat lain, bukan mal atau toko fisik.
Dengan begitu, Neeraj menegaskan, penting bagi perseroan untuk memastikan ketersediaan produk di toko-toko yang dikunjungi konsumen. Karena pengunjung di toko luring (offline) cukup padat, terutama untuk produk kecantikan dan perawatan pribadi.
Baca Juga
Laba Unilever (UNVR) kembali Tergerus di Semester I-2025, Nilainya Jadi Segini
Tetapi sama pentingnya bagi perseroan untuk memastikan juga ketersediaan produk di semua kanal, baik daring (online) maupun di e-commerce.
“Jadi, ketika konsumen memutuskan untuk berbelanja, entah itu di toko fisik atau secara online, kami harus memastikan ketersediaan secara fisik maupun digital. Agar produk kami bisa dijangkau dan dibeli kapanpun dan dimanapun konsumen memilih untuk berbelanja. Memang kenyataannya seperti itu sekarang,” sambung Neeraj.
Baca Juga
Lebih luas, dia menerangkan bahwa terdapat perpindahan atau pola belanja yang menyilang, di mana konsumen melihat-lihat di satu tempat lalu belanja di tempat lain. “Kuncinya adalah produk kami harus tersedia di keduanya dan mendukung perjalanan belanja konsumen,” tegasnya.
Pada akhirnya, tanggung jawab perusahaan adalah memastikan produk dengan merek-merek di bawah naungan Unilever, cukup menarik untuk dipilih dan dibawa ke kasir oleh konsumen.

