Wakil Menko Polkam Berharap Robeli Datang, Gantikan Rojali dan Rohana
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Wakil Menteri Koordinator bidang Politik dan Keamanan Lodewijk Freidrich Paulus berharap fenomena rombongan jarang beli (rojali) dan rombongan hanya nanya-nanya (rohana) di masyarakat segera usai. Fenomena itu diharapkan menjadi robeli atau rombongan jadi beli.
“Tampaknya akan datang dari Italia, Mas Italia, Robeli. Mudah-mudahan cepat datang ya mas Robeli,” kata Lodewijk, di Lanud Halim Perdana Kusuma, Jakarta, Jumat (8/8/2025).
Lodewijk mengatakan fenomena rojali dan rohana tersebut muncul karena efek dari pandemi Covid-19. Pandemi itu merupakan bagian dari five perfect storm yang menimpa dunia. Selain pandemi Covid-19, terdapat tekanan dari konflik, harga komoditas, naiknya biaya hidup, dan perubahan iklim.
Kembali ke persoalan Covid-19, Lodewijk mengatakan pandemi itu membuat pusat perbelanjaan kehilangan pengunjung. Efek itu belum sepenuhnya pulih dan memunculkan rojali dan rohana.
Sementara itu, di tengah scarring effect pandemi Covid-19 yang belum sepenuhnya pulih, masih terjadi konflik antarnegara. Konflik tersebut tidak hanya terjadi di Timur Tengah dan antara Rusia-Ukraina, melainkan merembet ke Asia. Thailand dan Kamboja merupakan dua negara yang belakangan berkonflik soal perbatasan.
Konflik yang terjadi di suatu wilayah memunculkan dampak terhadap harga komoditas. Faktor ketiga ini sangat berdampak ke sektor industri.
Baca Juga
Retret Kadin Indonesia untuk Wujudkan Pengusaha Militan dan Pejuang
“Sekarang yang punya batu bara pada tiarap juga sebetulnya. Jadi, fluktuasinya luar biasa,” kata dia.
Efek lain dari naiknya harga komoditas itu yaitu ke peningkatan biaya hidup. Lodewijk mengatakan kenaikan biaya hidup ini berkorelasi dengan rojali dan rohana.
Terakhir, Lodewijk mengingatkan terjadinya perubahan iklim. Meski begitu, Lodewijk optimistis dengan teknologi prakiraan cuaca yang dibuat Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
“Peran teknologi BMKG sudah bisa memberikan formulasi kapan boleh tanam, kapan tidak,” ucap dia.
Selain lima hal tersebut, Lodewijk mengatakan terdapat faktor tambahan yang membuat kondisi global tak menentu. Faktor tambahan ini yaitu munculnya sosok Donald Trump sebagai Presiden AS.
“Mungkin suka tidak suka kebijakan Trump itu berpengaruh juga kepada secara global walaupun katanya Presiden Trump itu politik strateginya undur-undur. Maju tekan kemudian mundur pelan pelan kan luar biasa kita ditekan (tarif resiprokal) 32% turun 19% mudah-mudahan bisa turun lagi. Efeknya luar biasa dan terasa,” kata dia.

