Fenomena Rojali dan Rohana Bikin Penjualan Pakaian Jadi Turun 15%
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rombongan jarang beli atau rojali dan rombongan hanya nanya atau rohana, menjadi fenomena hari-hari ini. Fenomena ini terjadi di sejumlah pusat perbelanjaan dan disebut-sebut menjadi bagian dari penurunan daya beli masyarakat.
Ketua Umum Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) Budihardjo Iduansjah mengatakan fenomena rojali dan rohana ini menyebabkan penurunan terhadap penjualan pakaian jadi.
“Baju paling kena karena terdampak (toko) online tadi. Penurunan penjualan baju hampir 15%. Belum kembali dari masa Covid-19,” kata Budi, saat ditemui di Gedung SMESCO, Jakarta, Rabu (23/7/2025).
Meski demikian, Budi menjelaskan fenomena ini juga menaikkan penjualan bulanan usaha makanan dan minuman (FnB). Sektor usaha FnB sudah mengantisipasi fenomena rojali dan rohana itu dengan pendekatan khusus. Misalnya, dengan menawarkan makanan atau minuman kepada pelanggan yang duduk bergerombol.
“Yang paling untung rojali (dan rohana) ini FnB. Makanya retail FnB naik 5-10%, karena nongkrong dan keliling di mal itu kalau haus ya minum,” kata dia.
Baca Juga
Mendag Tak Ambil Pusing Maraknya Fenomena Rombongan Jarang Beli (Rojali) di Pusat Belanja
Budi berharap masyarakat dapat mengurangi fenomena rojali dan rohana ini. Salah satunya dengan tak membeli produk secara daring.
“Kalaupun beli online, belinya dari barang retail. Jangan (toko) yang nggak bayar pajak,” ujar dia.
Sementara itu, Asisten Deputi Perdagangan Dalam Negeri, Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga Kementerian Koordinator bidang Perekonomian Ismariny mengatakan asosiasi ritel telah bertransformasi untuk menghadapi fenomena penurunan daya beli masyarakat. Untuk itu, pengusaha ritel mulai berkolaborasi dengan tempat usaha restoran dan mengadakan pertunjukkan.
“Kalau hanya jualan produk saja, tanpa kolaborasi dengan restoran atau dengan pertunjukkan dan event, itu pusat perbelanjaan sangat sepi,” kata dia.

