Geopolitik Memanas, Sekuritas Ini Rekomendasikan Investasi Emas
JAKARTA, investortrust.id – Kondisi geopolitik akhir-akhir ini memanas. Ketegangan di Timur Tengah meningkat secara dramatis setelah serangan udara Amerika Serikat terhadap fasilitas nuklir utama Iran pada akhir pekan lalu.
“Situasi saat ini sangat tidak pasti dan penuh volatilitas, dengan risiko nyata terjadinya konflik regional yang lebih luas atau kebuntuan yang berkepanjangan,” ungkap Chief Economist & Head of Research Mirae Asset Sekuritas dalam riset yang dikutip pada Selasa (24/6/2025).
Baca Juga
Begini Cara Mendapatkan Kripto Secara Pasif Tanpa 'Trading', Berminat?
Sebagai respons atas serangan tersebut, Iran mengancam akan melakukan pembalasan asimetris. Termasuk potensi serangan terhadap pangkalan AS, penutupan Selat Hormuz yang vital, sebagai jalur utama pengiriman minyak dunia, serta mobilisasi kekuatan proksi regional.
Awal pekan ini, Mirae Asset Sekuritas pun memperkirakan akan terjadi aksi jual besar-besaran di pasar saham global, dimulai dari pasar Asia, termasuk Indonesia. “Kami tetap berhati-hati terhadap potensi berlanjutnya aksi jual asing dan meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven, yang dapat menekan saham-saham berkapitalisasi besar seperti BMRI, BBRI, ASII, dan TLKM,” sambung Rully.
Dampak paling nyata dan langsung juga diperkirakan terjadi pada harga minyak, yang kemungkinan akan melonjak tajam. Kenaikan harga minyak dapat menghambat rencana bank sentral untuk menurunkan suku bunga. Jika inflasi yang dipicu oleh energi terus berlanjut, pemangkasan suku bunga yang diantisipasi bisa tertunda hingga akhir 2025 atau awal 2026.
Baca Juga
Cum Dividen Besok, Indonesia Kendaraan (IPCC) Tawarkan Yield Segini
Mirae Asset Sekuritas Indonesia juga memperkirakan apresiasi tajam pada Dolar Amerika Serikat (AS) dalam jangka pendek hingga menengah, yang kemungkinan akan memberikan tekanan tambahan pada Rupiah.
Sebagai respons hal tersebut, BI diperkirakan akan terus melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk menstabilkan Rupiah. Namun, ketidakpastian global yang berkelanjutan dan meningkatnya risiko geopolitik dapat menyebabkan volatilitas Rupiah tetap tinggi.
“Kami merekomendasikan peningkatan alokasi pada aset safe haven tradisional, termasuk emas dan USD, serta mengurangi eksposur pada saham-saham yang berisiko tinggi,” pungkas Rully.

