Geopolitik Terus Memanas, Emas Jadi Primadona
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Harga emas menembus rekor baru melampaui US$ 4.800 per ons untuk pertama kalinya pada Rabu (22/1/2026) waktu AS, didorong meningkatnya ketegangan geopolitik global yang memicu perburuan aset aman oleh investor, termasuk setelah pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terkait Greenland.
Harga emas spot naik 1,6% menjadi US$ 4.838,91 per ons, setelah sempat menyentuh US$ 4.887,82 di awal sesi perdagangan. Sementara itu, kontrak berjangka emas Amerika Serikat untuk pengiriman Februari menguat 1,7% ke level US$ 4.844,20 per ons.
Lonjakan harga ini mencerminkan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap arah geopolitik dan kebijakan global. Ketidakpastian tersebut mendorong investor mengalihkan dana ke instrumen lindung nilai, terutama emas, yang secara historis dianggap lebih aman saat risiko meningkat.
“Ada sedikit kekhawatiran akan kehilangan peluang perdagangan ini dan saya pikir mengingat situasi geopolitik di dunia, ini adalah kondisi yang sempurna untuk kenaikan harga emas dan perak saat ini,” kata ahli strategi pasar senior RJO Futures Bob Haberkorn dilansir CNBC.
Baca Juga
Di sisi lain, pasar saham Amerika Serikat sempat menunjukkan pemulihan moderat setelah mencatat aksi jual paling tajam dalam tiga bulan terakhir. Pergerakan ini terjadi ketika investor mencerna pidato Donald Trump dalam Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum/WEF) di Davos. Dalam pidatonya, Trump menilai Eropa bergerak ke arah yang salah, tetapi menegaskan tidak akan menggunakan kekerasan untuk merebut Greenland.
Tekanan geopolitik tersebut muncul bersamaan dengan meningkatnya sorotan terhadap kebijakan moneter Amerika Serikat. Mahkamah Agung Amerika Serikat sedang mendengarkan banding menentang langkah Trump yang dinilai belum pernah terjadi sebelumnya untuk memecat Gubernur Federal Reserve (The Fed) Lisa Cook, sebuah kasus yang menguji independensi bank sentral negara tersebut.
Bank Sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuannya sepanjang kuartal ini dan kemungkinan hingga masa jabatan Ketua The Fed Jerome Powell berakhir pada Mei mendatang. Proyeksi tersebut didasarkan pada hasil survei mayoritas ekonom yang dilakukan oleh Reuters.
Kondisi suku bunga yang lebih rendah cenderung menguntungkan emas karena logam mulia ini tidak memberikan imbal hasil bunga. Ketika peluang imbal hasil aset berbunga menurun, daya tarik emas sebagai penyimpan nilai menjadi lebih kuat.
Sementara itu, pergerakan harga logam mulia lain menunjukkan dinamika beragam. Harga perak spot turun ke US$ 93,5 per ons, setelah sehari sebelumnya mencetak rekor tertinggi di US$ 95,87 per ons.
Baca Juga
“Kenaikan harga perak ke angka tiga digit tampaknya cukup mungkin mengingat momentum harga yang kita lihat, tetapi ini bukan pergerakan satu arah. Mungkin akan ada koreksi harga dan volatilitas bisa lebih tinggi,” kata ahli strategi komoditas ANZ Soni Kumari.
Di pasar platinum, harga melonjak 2,5% menjadi US$ 2.524,75 per ons, setelah sempat mencatat rekor tertinggi intraday di US$ 2.543,99. Sebaliknya, harga palladium turun 0,3% menjadi US$ 1.859,50 per ons, meski sebelumnya sempat menyentuh level tertinggi dalam sepekan.

