Faktor Ini Picu IHSG Anjlok hampir 2% Hari Ini, Bagaimana Selanjutnya?
JAKARTA, investortrust.id - Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup koreksi tajam hampir 2% ke level 6.968,63 pada perdagangan Kamis, (19/6/2025). Koreksi signifikan ini dipicu oleh sentimen global, khususnya revisi proyeksi ekonomi Amerika Serikat oleh The Federal Reserve (The Fed).
Dalam rilis terbarunya, The Fed memangkas estimasi pertumbuhan ekonomi AS tahun 2025 menjadi 1,4%, turun dari proyeksi sebelumnya sebesar 1,7%. Untuk tahun 2026, estimasi pertumbuhan juga direvisi turun menjadi 1,6% dari 1,8%. Penurunan ini mencerminkan pandangan yang lebih hati-hati terhadap prospek ekonomi jangka menengah Amerika Serikat.
Baca Juga
IHSG Ditutup Anjlok 1,96% Dipicu Penurunan Tajam Mayoritas Saham, Kecuali Saham Ini
Tak hanya itu, The Fed menaikkan proyeksi inflasi tahun 2025 menjadi 3% dari sebelumnya 2,7%, yang mengindikasikan kekhawatiran terhadap tekanan harga yang lebih tinggi dan potensi penundaan pelonggaran suku bunga.
Pengamat Pasar Modal Panin Sekuritas Reydi Octa mengungkapkan walaupun The Fed masih menyampaikan rencana untuk penurunan suku bunga dua kali tahun ini, pasar tampaknya tetap cemas.
"Ketegangan geopolitik yang meningkat di kawasan Timur Tengah dan konflik yang terus berlanjut antara Rusia dan Ukraina menambah tekanan psikologis bagi pelaku pasar," ucap Reydi saat dihubungi investortrust.id Kamis, (19/6/2025).
Baca Juga
Waskita (WSKT) Catatkan Kontrak Baru Rp 1,4 Triliun hingga Juni
Tekanan jual menyeluruh terlihat di seluruh sektor, dengan penurunan paling dalam melanda saham sektor industry dengan penurunan sebesar 2,47% akibat aksi ambil untung pada saham-saham seperti ANTM, TPIA, dan BRPT. Disusul sektor transportasi juga terkoreksi cukup tajam atau turun 3,10%.
Menurut Reydi, ketidakpastian global membuat pelaku pasar cenderung bersikap defensif, memilih menjual aset berisiko dan menunggu kepastian arah pasar sebelum kembali masuk.
Cermati Emiten Defensif
Senada dengan Reydi, VP Marketing, Strategy & Planning Kiwoom Sekuritas, Oktavianus Audi berpandangan penurunan sesuai ekspektasi, seiring dengan beberapa sentimen eskalasi Israel-Iran yang diperkirakan berlangsung panjang, paska G7 yang sudah memberikan pernyataan tekanan kepada Iran.
Baca Juga
Terbuka Peluang IHSG kembali Jatuh ke Bawah 7.000, Simak 12 Saham Rekomendasi Mirae Asset
"Sehingga kekhawatiran pasar meningkat dan mendorong perpindahan asset, melambatnya potensi pemangkasan suku bunga, seiring dengan kekhawatiran dampak terhadap inflasi. Tercatat berdasarkan data CME FedWatch menunjukkan peluang pemangkasan FFR hanya sebesar 25 bps hingga Desember 2025. Hal ini berpotensi menekan daya beli dan demand kredit sehingga berdampak pada perlambatan ekonomi," terang Reydi kepada investortrust.id Kamis, (19/6/2025).
Audi melihat investor saat ini dapat memperhatikan emiten dengan kategori defensif dan tematik khususnya yang related dengan energi dan barang baku. Secara teknikal, ia merekomendasikan saham MEDC spec buy dengan support Rp 1.380 dan resistance Rp 1.525 dan saham AMMN spec buy dengan support Rp 7.500 dan resistance Rp 8.900.

