IHSG Anjlok 1,36% Hari Ini Dipicu Rupiah dan Saham Konglomerasi, Bagaimana Selanjutnya?
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) terpantau merosot tajam 141,56 poin atau turun 1,55% ke level 8.993,13 pada perdagangan Rabu (21/1/2026).
Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI) Azharys Hardian menjelaskan pelemahan IHSG dipicu kombinasi tekanan makroekonomi dan geopolitik global. Pasar merespons meningkatnya tensi geopolitik yang kembali memanas, diperburuk oleh sentimen negatif terkait ancaman kebijakan tarif baru dari Amerika Serikat yang memicu kekhawatiran terhambatnya arus perdagangan global serta potensi inflasi kembali meningkat.
Baca Juga
Net Sell Asing Memuncak, BBCA Terbanyak Sumbang Rp 1,72 Triliun
Dari sisi domestik, Azharys menilai tekanan makin dalam akibat melemahnya nilai tukar rupiah yang mendekati level psikologis Rp 17.000 per dolar AS. “Kondisi ini memberikan tekanan tambahan bagi emiten dengan eksposur utang valas yang tinggi maupun yang bergantung pada bahan baku impor,” ujarnya saat dihubungi investortrust.id, Rabu (21/1/2026).
Selain faktor global dan nilai tukar, pelemahan indeks juga dipengaruhi aksi jual pada saham berkapitalisasi besar. Azharys mengungkapkan sentimen negatif di sektor industri mencuat menyusul kabar pencabutan 28 izin perusahaan, termasuk beberapa anak usaha PT United Tractors Tbk (UNTR).
“Hal ini mengakibatkan saham UNTR menyentuh batas Auto Rejection Bawah (ARB). Dampaknya merembet ke induk usahanya, PT Astra International Tbk (ASII), yang sempat terkoreksi hingga 13% dan secara bobot sangat membebani pergerakan IHSG,” terangnya.
Baca Juga
BI Akui Pergantian Deputi Gubernur Pengaruhi Persepsi ke Nilai Tukar Rupiah
Pengamat Pasar Modal Reydi Octa menilai depresiasi IHSG lebih dominan dipengaruhi langkah investor global yang mengurangi eksposur terhadap aset berisiko. “Sentimen dikaitkan dengan ketegangan antara AS dengan Eropa mengenai isu Greenland, potensi tarif dagang, dan juga ketidakpastian suku bunga dengan keadaan global terkini,” ujarnya.
Reydi menilai tekanan yang bersifat eksternal umumnya cenderung jangka pendek, kecuali jika berlangsung lebih lama. Ia melihat aliran dana berpotensi bergeser menuju sektor-sektor defensif. “Aliran dana berpotensi akan bergerak ke sektor-sektor defensif seperti konsumer dan healthcare, safe haven seperti emas yang globalnya terus menguat, serta komoditas energi,” jelasnya.
Azharys turut menyebut sejumlah saham yang layak dicermati di tengah volatilitas pasar. PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dinilai menarik seiring tren kenaikan harga emas dunia sebagai aset safe haven di tengah meningkatnya tensi geopolitik. Selain itu, PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) dan PT Samator Indo Gas Tbk (AGII) juga menarik dipantau menyusul lonjakan signifikan harga gas alam dunia yang mencapai 28% secara intraday.

