Geo Politik Timur Tengah Penentu Gerak IHSG Pekan Depan, Deretan Saham Emas dan Migas Ini Menarik
JAKARTA, investortrust.id - Ketegangan geopolitik antara Israel dan Iran yang kembali memanas telah menjadi katalis utama penekan indeks harga saham dunia, termasuk indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada penutupan perdagangan akhir pekan ini.
Bahkan, serangan Israel ke berbagai fasilitas strategis Iran seperti pangkalan militer, gudang persenjataan, hingga lokasi pengayaan nuklir telah mendorong naiknya harga minyak dunia secara signifikan. Data per akhir pekan menunjukkan harga minyak global melonjak sebesar 12,7% ke level US$ 77,57 per barel.
Analis Pasar Modal sekaligus Founder Stocknow.id Hendra Wardana mengatakan, lonjakan harga minyak ini ini menimbulkan kekhawatiran baru akan terganggunya pasokan energi global, mengingat Iran sebagai produsen minyak mentah terbesar ke-9 di dunia dengan output hampir 4 juta barel per hari.
Baca Juga
IHSG Sepekan: Melesat 0,74% Terdorong BRMS hingga Net Buy Saham Rp 1,3 Triliun
“Dampaknya terhadap pasar saham domestik terlihat jelas, IHSG ditutup melemah sebesar 38,30 poin atau 0,53% ke level 7.166,06 pada perdagangan Jumat, 13 Juni 2025,” ujarnya kepada investortrust.id Minggu, (15/6/2025).
Hendra mengutarakan, tekanan datang terutama dari sektor perbankan dan teknologi, setelah saham-saham BBRI, BBCA, TLKM, dan GOTO mencatatkan koreksi signifikan.
Sementara dari sisi teknikal, menurut dia, IHSG kini berada di bawah moving average 5 hari (MA5) dan memperlihatkan sinyal negatif melalui pola sstochastic death cross, yaitu menandakan potensi berlanjutnya pelemahan jangka pendek menuju MA20 di area 7.081 hingga level psikologis kuat di 7.000. Apabila tekanan meningkat, area dinamis MA50 di 6.909 menjadi support kritis yang perlu dicermati investor.
Secara umum, Hendra mengatakan, dinamika pasar saham Indonesia dalam beberapa pekan ke depan akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan konflik di Timur Tengah bersamaan dengan respons pasar terhadap kebijakan suku bunga The Fed dan Bank Indonesia.
Baca Juga
Adu Kuat Kinerja 6 Saham Emiten Tambang Emas, Siapa Tercuan?
Dalam jangka pendek, dia memperkirakan, IHSG diprediksi bergerak dalam sideways cenderung melemah, dengan kisaran support berada di level 7.000 – 7.081, dan resistance jangka pendek di 7.175 – 7.240.
“Resistance lanjutan berada di 7.325 hingga 7.454, yang baru bisa ditembus apabila sentimen global membaik dan arus dana asing kembali masuk secara signifikan,” sambungnya.
Saham Pilihan
Di tengah peningkatan risiko geopolitik dan potensi tekanan terhadap konsumsi domestik akibat tingginya harga minyak, Hendra mengatakan, investor institusional cenderung melakukan rotasi portofolio ke sektor-sektor defensif dan komoditas, terutama energi dan logam.
Hal ini tampak dari lonjakan saham-saham seperti MEDC yang naik 9,38% dalam sehari, disusul ANTM yang naik 4,10% dan ELSA yang menguat 4%. “Sentimen harga minyak yang tinggi memberi dorongan terhadap kinerja emiten migas karena margin profit yang membesar dari kenaikan harga jual,” kata Hendra.
Selain minyak, menurut Hendra emas juga kembali menjadi perhatian utama sebagai instrumen safe haven. Prediksi sejumlah analis global memperkirakan harga emas bisa menembus US$ 3.700 per troy ounce jika eskalasi konflik terus berlanjut dan memicu krisis geopolitik yang lebih luas.
Baca Juga
Mirae Sekuritas: Harga Emas Bisa ke US$ 3.500, Saham 4 Emiten Ini Layak Dilirik
“Situasi ini menjadi katalis yang sangat positif bagi saham-saham emiten tambang emas seperti BRMS, MDKA, PSAB, ARCI, dan HRTA,” bebernya.
Di mana BRMS tercatat sebagai saham dengan net foreign buy tertinggi sepanjang pekan lalu, yakni sebesar Rp 742 miliar, menandakan adanya minat asing terhadap emiten yang memiliki eksposur langsung terhadap kenaikan harga emas.
“Apabila harga emas mendekati proyeksi tersebut, laba bersih emiten emas bisa melonjak signifikan, terutama yang memiliki biaya produksi rendah dan cadangan besar. Momentum ini perlu dimanfaatkan oleh investor domestik, khususnya dalam menyusun strategi sektor,” tuturnya.
Baca Juga
Dirut Amman Mineral (AMMN) Mundur jelang RUPST Besok, Ada Apa?
Melihat peta risiko global dan respons pasar saat ini, strategi yang disarankan bagi investor adalah tetap berhati-hati, namun tidak sepenuhnya menghindari pasar. Justru dalam kondisi seperti ini, sektor-sektor berbasis sumber daya alam (SDA) dan komoditas menjadi titik tumpu yang kuat.
Saham-saham seperti Rp ANTM dengan target jangka pendek Rp 3.500, MEDC dengan target Rp 1.500, ELSA dengan target Rp 545, dan MBMA dengan target Rp 535 menarik untuk dicermati baik dari sisi teknikal maupun momentum fundamentalnya. Saham-saham tersebut memiliki sensitivitas tinggi terhadap pergerakan harga komoditas dan saat ini berada dalam tren naik.
“Sementara itu, investor disarankan menghindari sektor-sektor yang sensitif terhadap kenaikan harga minyak dan inflasi, seperti transportasi dan manufaktur berbasis konsumsi energi tinggi. Untuk tujuan diversifikasi dan lindung nilai, saham-saham defensif seperti TLKM, ICBP, atau UNVR tetap bisa menjadi bagian dari portofolio jangka menengah, terutama jika pasar memasuki fase konsolidasi lebih dalam,” pungkas dia.

