Kebijakan The Fed hingga Rumor Menkeu Sri Mulyani Mundur Picu IHSG Terjun 6,12%, masih Ada Harapan?
JAKARTA, investortrust.id – Pasar saham Indonesia dilanda tekanan jual yang luar biasa tercermin dari penurunan indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga 5,02% ke level 6.146 hingga sempat terkena trading halt pertama selama 30 menit, Selasa (18/3/2025).
Usai trading halt pertama, IHSG kembali lanjutkan koreksi hingga akhirnya ditutup turun sebanyak 395,87 poin (6,12%) menjadi 6.076 pada penutupan sesi I hari ini. Penurunan dipicu pelemahan seluruh sektor saham sektor materal dasar 9,78%, sektor energi 6,24%, sektor material dasar 6,24%, sektor keuangan 3,86%, dan sektor teknologi 12,46%.
Penurunan ini terjadi di saat bursa regional mengalami penguatan, misalnya seperti Nikkei yang naik 1,39%, Hangseng yang naik 1,82% dan Shanghai yang naik 0,09%. Justru menunjukkan pergerakan yang lebih stabil. Lalu, apa penyebab utama anjloknya IHSG?
Baca Juga
Analis Ungkap Penyebab IHSG Anjlok 6% hingga Sempat Terkena Trading Halt Pertama
Analis Pasar Modal sekaligus Founder Stocknow.id Hendra Wardana menilai, secara eksternal, ketidakpastian kebijakan The Fed mengenai suku bunga menjadi faktor utama yang mempengaruhi sentimen pasar. Jika inflasi AS masih tinggi, maka pemangkasan suku bunga bisa tertunda yang membuat aset berisiko seperti saham menjadi kurang menarik.
"Selain itu, dalam tiga minggu terakhir, pasar saham AS kehilangan nilai signifikan, menambah tekanan pada pasar Asia, termasuk Indonesia. Investor global lebih berhati-hati dalam mengalokasikan dana, sehingga aliran modal ke pasar negara berkembang seperti Indonesia pun ikut terhambat," kata Hendra kepada investortrust.id Selasa, (18/3/2025).
Sedangkan dari dalam negeri, tekanan terhadap IHSG semakin kuat akibat berbagai faktor ekonomi. Sepanjang 2025, investor asing telah mencatatkan aksi jual bersih (net sell) sebesar Rp 26,04 triliun, termasuk Rp 1,77 triliun hanya dalam sepekan terakhir. "Hal ini menandakan kepercayaan investor asing terhadap pasar Indonesia sedang turun," ucap Hendra.
Selain itu, defisit APBN per Februari 2025 tercatat Rp 31,2 triliun, dengan pembayaran bunga utang mencapai Rp 79,3 triliun dalam dua bulan pertama. Kenaikan beban utang ini dapat menghambat belanja produktif pemerintah, sehingga ekonomi tidak mendapat dorongan optimal.
Hendra memandang sektor riil juga menghadapi tekanan besar, terlihat dari maraknya pemutusan hubungan kerja (PHK) serta meningkatnya kredit macet (NPL) yang naik menjadi 2,17% pada Januari 2025 dari 1,9% di 2024. "Ini menjadi indikator bahwa daya beli masyarakat melemah dan risiko perbankan meningkat. Di sisi lain, kurs rupiah yang terus melemah menambah tekanan bagi perusahaan yang memiliki eksposur utang dalam dolar AS," terang dia.
Isu Sri Mulyani
IHSG juga tertekan oleh aksi jual pada saham-saham berkapitalisasi besar yang menjadi penopang indeks. Saham DCII anjlok 20%, TPIA turun 19,92%, BREN melemah 15,46%, sementara saham perbankan seperti BMRI turun 5,98%, BBRI melemah 4,44%, dan BBNI terkoreksi 5,08%. Kombinasi pelemahan saham sektor perbankan dan konglomerasi dengan bobot terbesar dalam indeks menjadikan IHSG kehilangan daya tahan di tengah tekanan sentimen negatif.
Di samping itu, Hendra menilai rumor terkait pengunduran diri Menteri Keuangan Sri Mulyani yang beredar juga memicu rontoknya IHSG hari ini. "Sebenernya ada rumor spekulasi Menkeu Sri Mulyani Mundur, tapi saya belum berani kalau belum fix, cuma market mungkin respon itu salah satunya," imbuhnya.
Baca Juga
Sementara itu, dari sisi teknikal, IHSG masih berada dalam tren bearish dan berpotensi menguji level psikologis 6.000 dalam beberapa hari ke depan. Meski demikian, ada peluang pemulihan jika beberapa faktor utama membaik, seperti stabilitas kebijakan ekonomi pemerintah, kepastian arah suku bunga global, serta masuknya kembali dana asing ke pasar saham Indonesia. Namun, saat ini, pasar masih berada dalam fase penyesuaian dan menunggu kepastian lebih lanjut terkait kondisi makroekonomi.
Menurut Hendra IHSG yang anjlok lebih dari 5% menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia saat ini tidak dalam kondisi baik-baik saja. Investor asing mulai kehilangan kepercayaan akibat kombinasi faktor global dan domestik.
"Meski demikian, pasar saham bersifat siklikal. Jika kebijakan ekonomi lebih stabil dan investor melihat prospek keuntungan yang lebih menarik, bukan tidak mungkin dana asing akan kembali mengalir ke Indonesia, membawa IHSG kembali ke jalur pemulihan," bebernya.

