Investor Ritel China Makin Banyak Pakai AI untuk Trading Saham
SHANGHAI, investortrust.id – Investor ritel di China kini semakin mengandalkan kecerdasan buatan (AI), seperti DeepSeek untuk trading saham. Fenomena ini berbanding terbalik dengan tindakan keras pemerintah China tahun lalu terhadap perdagangan berbasis algoritma.
Dikutip dari Reuters, Selasa (11/3/2025), pelatihan online dan kelas trading berbasis AI semakin marak. DeepSeek yang dikembangkan oleh hedge fund High-Flyer, disebut telah mengubah cara pandang investor terhadap industri investasi China yang bernilai US$ 700 miliar.
Minat terhadap AI melonjak drastis setelah investor membayar 15.800 yuan (sekitar Rp 35,1 juta) untuk seminar trading dengan DeepSeek. Bahkan, kursus online tentang penggunaan AI dalam memilih saham dan menyusun strategi trading semakin menjamur di media sosial.
Baca Juga
Meski IHSG Turun, Asing justru Borong Saham Bank Papan Atas hingga Saham Emiten Prajogo Ini
"Menggunakan AI untuk memilih saham menghemat banyak waktu. DeepSeek juga bisa menulis kode trading untuk menentukan kapan waktu terbaik membeli dan menjual saham," kata seorang trader dari Hangzhou, Wen Hao.
Tahun lalu, dana investasi berbasis AI dianggap berbahaya dan disalahkan, karena memicu volatilitas pasar. Bahkan, pemerintah China sempat menindak tegas industri ini saat nilainya mencapai US$ 260 miliar.
Sementara perusahaan investasi besar, seperti BlackRock dan Renaissance Technologies telah lama menggunakan AI, munculnya DeepSeek membuka peluang baru bagi investor ritel China. Apalagi, dengan pelarangan ChatGPT di China, DeepSeek menjadi pilihan utama.
Optimisme terhadap AI semakin meningkat di tengah pemulihan pasar saham China. Goldman Sachs mencatat bahwa MSCI China Index mengalami awal tahun terbaiknya, sementara broker mulai mengembangkan model AI untuk platform mereka.
Baca Juga
"Dulu investor bertanya kepada manajer investasi, sekarang mereka bertanya kepada DeepSeek," kata Presiden Xiangcai Securities, Zhou Lefeng.
Namun, analis memperingatkan agar tidak terlalu bergantung pada AI. Larry Cao dari FinAI Research menilai bahwa jika terlalu banyak investor mengikuti strategi yang sama, pasar bisa menjadi tidak stabil.
Di sisi lain, CEO Baiont Quant, Feng Ji, percaya bahwa AI justru membantu meningkatkan efisiensi pasar. "Kami tidak merugikan investor ritel, justru kami menyediakan likuiditas dan membuat pasar lebih sehat," ujarnya.
Dengan makin meluasnya penggunaan AI dalam trading, industri keuangan China tengah memasuki era baru. Namun, tantangan terbesar ada pada cara bagaimana menghindari ketergantungan berlebihan pada teknologi tanpa memahami risikonya. (C-13)

