Laba Adaro Andalan (AADI) 2024 Naik Jadi Rp 19,56 Triliun, Berikut Penopangnya
JAKARTA, investortrust.id – Laba bersih PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) periode 2024 naik 5,85% menjadi US$ 1,21 miliar atau setara dengan Rp 19,56 triliun berdasarkan kurs jisdor per 31 Desember 2024.
Sebelumnya, anak usaha PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) tersebut membukukan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$ 1,14 miliar sepanjang 2023.
“Kami senang karena dapat melaporkan satu lagi tahun dengan kinerja yang memuaskan, dengan pencapaian yang lebih tinggi dalam volume pengupasan lapisan penutup, produksi, maupun penjualan,” ungkap Presiden Direktur dan Chief Executive Officer Adaro Andalan Indonesia Julius Aslan, Selasa (4/3/2025) malam.
Baca Juga
Begini Prospek Saham Adaro Andalan (AADI) di Tengah Peluang Masuk MSCI Index dan Pemangkasan Royalti
Laba bersih perseroan naik, di tengah penurunan pendapatan sekitar 10% (yoy) menjadi menjadi US$ 5,31 miliar akibat pelemahan harga batu bara. Pasalnya, Adaro Andalan (AADI) sebenarnya mencetak rekor produksi dan penjualan yang masing-masing naik 8% dan 7% atau sebesar 65,82 juta ton dan 68,06 juta ton. Jumlah ini melampaui target yang berkisar 61-62 juta ton.
Peningkatan kinerja operasional itu pun diopset dengan penurunan 17% pada rata-rata harga jual (average selling price/ASP) batu bara AADI. Dari total pendapatan US$ 5,31 miliar tersebut, Adaro Andalan mengeluarkan beban pokok pendapatan sebesar US$ 3,85 miliar yang juga turun yakni 8% (yoy). Penurunan beban, terutama karena biaya royalti kepada pemerintah yang dibayarkan Adaro Indonesia (AI) berkurang dibandingkan tahun sebelumnya, akibat penurunan ASP.
Dari segi operasional, Adaro Andalan (AADI) membukukan peningkatan sebanyak 7% pada pengupasan lapisan penutup menjadi 286,01 juta billion cubic meter (bcm), dan nisbah kupas 4,35x. Hal ini selaras dengan peningkatan biaya penambangan sebesar 3%.
Sementara itu, total konsumsi bahan bakar dan biaya bahan bakar, masing-masing naik 11% dan 6% pada 2024 karena kenaikan volume produksi. Sedangkan biaya kas batu bara per ton yang tidak termasuk royalti tahun lalu turun 8% (yoy).
Baca Juga
Simak Top 10 Saham Undervalued Sektor Energi, Ada AADI, ADRO, dan MEDC
Di sisi lain, beban usaha AADI tahun lalu tercatat relatif stabil sebesar US$ 316 juta dibandingkan US$ 312 juta pada 2023. Dalam perbandingan periode yang tersebut, Ebitda operasional AADI turun 19% (yoy) menjadi US$ 1,31 miliar. Margin EBITDA operasional Adaro Andalan tahun lalu pun tetap sehat pada level 25%.
Manajemen menjelaskan, keuntungan yang hanya terjadi satu kali sebesar US$ 323 juta yang didapatkan dari perolehan karena penjualan ADMR, tidak dimasukkan dalam perhitungan EBITDA operasional maupun laba inti.
Dengan demikian, angka-angka tersebut benar-benar mencerminkan kinerja operasional perusahaan. “Penurunan EBITDA operasional pada 2024 terutama diakibatkan pelemaham harga batu bara dunia, suatu kondisi yang tidak dapat kami kendalikan karena batu bara adalah komoditas yang bergerak mengikuti siklus. Namun, rekam jejak kami yang solid dalam mengarungi siklus batu bara adalah bukti resiliensi serta keahlian kami di sektor ini,” papar Julius.

