Adaro Andalan (AADI) Diproyeksi Cuan Besar, Target Harga Saham dan Laba Direvisi Naik
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Kenaikan harga batu bara global dalam beberapa beberapa pekan ini akan menjadi sentimen positif terhadap kinerja keuangan PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI). Kenaikan tersebut membuat target kinerja keuangan dan harga saham emiten ini layak direvisi naik.
BRI Danareksa Sekuritas merevisi naik target harga saham AADI dari semula Rp 9.850 menjadi Rp 12.400 dengan rekomendasi beli. Dengan harga penutupan Rp 10.350 pada perdagangan saham sebelum libur lebaran, terbuka kenaikan harga saham emiten ini hampir 20%.
Baca Juga
Konflik Global Dorong Batu Bara Kembali Dilirik sebagai Energi Alternatif
Revisi naik target harga tersebut merefleksikan dinaikkannya estimasi rata-rata harga jual batu bara AADI tahun 2026 dari semula US$ 56,3 per ton menjadi US$ 76,9 per ton. Begitu juga dengan ekspektasi rata-rata harga jual tahun 2027 direvisi naik dari semula US$ 56,3 menjadi US$ 71 per ton.
Target harga ini sejalan dengan asumsi harga batu bara Newcastle tahun 2026-2028 masing-masing US$ 130, US$ 120, dan US$ 110 per ton. Kondisi ini dipicu oleh potensi peningkatan permintaan batu bara di tengah konflik Timur Tengah. Kenaikan harga ini diperkirakan mampu untuk mengimbangi kenaikan biaya produksi akibat tingginya harga bahan bakar.
“Emiten ini menjadi pilihan utama di sektor batu bara, seiring proyeksi kenaikan laba dan valuasi yang semakin menarik,” tulis riset analis BRI Danareksa Sekuritas Kafi Ananta dan Erindra Krisnawan dalam riset yang diterbitkan di Jakarta yang beberapa waktu lalu.
Terkati volume produksi dan penjualan batu bara perseroan, Kafi dan Erindra mengatakan, AADI masih bergantung pada persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) dari Kementerian ESDM. Meski demikian, produksi dan penjualan diperkirakan masing-masing mencapai 70 juta ton dengan pertumbuhan moderat sekitar 1,9% yoy. Kenaikan didukung tambahan kontribusi dari MIP dan Balangan.
Baca Juga
Prabowo Tegaskan Pengusaha Batu Bara dan Sawit Harus Utamakan Kebutuhan Nasional
Tahun lalu, AADI mencatatkan kinerja operasional yang solid dengan volume produksi mencapai 68,7 juta ton atau naik 4% dan volume penjualan mencapai 71,9 juta ton atau tumbuh 6%. Peningkatan ini didorong kontribusi dari Balangan dengan kenaikan 14% dan MIP yang melonjak 42% yoy.
Seiring prospek tersebut, BRI Danareksa Sekuritas merevisi naik target laba AADI untuk 2026–2027 secara signifikan sebesar 44% hingga 84%. Laba bersih perseroan tahun ini direvisi naik dari semula US$ 750 juta menjadi US$ 1,37 miliar dan laba bersih tahun 2027 direvisi naik dari semula US$ 890 juta menjadi US$ 1,27 miliar.
Namun demikian, risiko penurunan tetap perlu dicermati, terutama terkait potensi persetujuan RKAB yang lebih rendah dari ekspektasi serta pelemahan harga batu bara global.

