Simak Top 10 Saham Undervalued Sektor Energi, Ada AADI, ADRO, dan MEDC
JAKARTA, investortrust.id – Sebanyak 10 saham emiten yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) masuk daftar saham yang harganya berada di bawah nilai fundamentalnya alias undervalued. Dalam daftar tersebut ada PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO), dan PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC).
Berdasarkan catatan tim riset investortrust.id, hingga Jumat (3/1/2025), saham AADI memiliki price to earning ratio (PER) 2,93 kali dengan price to book value (PBV) 1,48 kali. Sedangkan saham ADRO memiliki PER 2,93 kali dengan PBV 0,61 kali. Adapun PER saham MEDC mencapai 4,89 kali dengan PBV 0,81 kali.
Emiten batu bara termal, PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), resmi melantai pada Kamis (5/12/2024) dan menjadi perusahaan ke-40 yang listing di BEI pada 2024. Adaro Andalan menetapkan harga IPO Rp 5.550 per saham, sehingga total dana yang diraup mencapai Rp 4,32 triliun.
Dengan kapitalisasi pasar (market cap) Rp 43,27 triliun saat itu, AADI tercatat sebagai emiten terbesar yang listing di BEI pada 2024. Per Jumat (3/1/2025), AADI menorehkan market cap Rp 61,1 triliun. Saham AADI ditutup melemah Rp 375 (4,60%) ke level Rp 7.850.
Baca Juga
PUPS Rampung, Alamtri Resources (ADRO) Sisakan 15,37% Saham Adaro Andalan (AADI)
Menurut manajemen AADI, sekitar 37,23% dana hasil IPO saham akan digunakan untuk keperluan pemberian pinjaman kepada anak perusahaan, PT Maritim Barito Perkasa. Dana tersebut akan digunakan untuk investasi dan aksi korporasi guna mendukung peningkatan aktivitas operasional.
Adapun 14,89% dana bakal dialokasikan untuk pembayaran kembali atas sebagian pinjaman. Sisanya akan digunakan untuk pembayaran kembali pinjaman kepada PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO). AADI membukukan pendapatan usaha US$ 2,66 miliar hingga semester I-2024, dengan laba periode berjalan mencapai US$ 920 juta.
Emiten tambang batu bara lainnya, PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO), juga menjadi salah satu saham undervalue di sektor energi. ADRO mencatatkan laba bersih US$ 1,18 miliar hingga September 2024, turun tipis 3% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya US$ 1,21 miliar.
Penurunan laba ADRO terjadi di tengah terpangkasnya pendapatan usaha sebesar 10,6% secara tahunan (yoy) menjadi US$ 4,45 miliar, dari US$ 4,98 miliar pada tahun sebelumnya.
AADI Bisa Bantu ADRO
Samuel Sekuritas menilai ADRO memiliki peluang pertumbuhan dari smelter aluminium yang dijadwalkan beroperasi pada akhir 2025 dengan kapasitas 1,5 juta ton per tahun. Proyek ini diharapkan mampu meningkatkan pendapatan perseroan di masa depan.
“Selain itu, spin-off AADI dapat membantu ADRO (pemilik 90% saham) mengumpulkan dana tunai dan mendapatkan green financing untuk ekspansi saham perusahaan ke depan,” jelas Samuel Sekuritas dalam risetnya.
Baca Juga
Medco Energi (MEDC) Ajukan Penawaran Tender Surat Utang Anak Usaha US$ 150 Juta
Terakhir, PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) juga mencetak kinerja positif hingga kuartal III-2024. Perseroan membukukan laba bersih US$ 273 juta, naik 12,8% dari periode sama 2023 (yoy) yang mencapai US$ 242 juta. Capaian tersebut didorong pendapatan US$ 1,78 miliar, naik 6,8% dari periode sama 2023 sebesar US$ 1,67 miliar.
Manajemen MEDC optimistis tahun ini mampu meningkatkan produksi minyak dan gas menjadi 145–150 ribu bph, yang menunjukkan prospek pertumbuhan positif. “Perseroan juga berencana memperpanjang kontrak di beberapa blok utama dan melanjutkan upaya pengurangan utang, yang diharapkan bisa meningkatkan kepercayaan investor,” papar manajemen Medco Energi Internasional.

