Begini Prospek Saham Adaro Andalan (AADI) di Tengah Peluang Masuk MSCI Index dan Pemangkasan Royalti
JAKARTA, investortrust.id – Harga saham PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) berpotensi terkerek didukung dua isu utama, yaitu peluang masuk dalam MSCI Indonesia Index tahun ini. Persetujuan juga datang dari sentimen positif rencana pemerintah memangkas tarif royalty batu bara.
Analis Sinarmas Sekuritas Kenny Shan mengatakan,saham AADI sangat mungkin masih dalam perhitungan MSCI Index tahun ini didukung kapitalisasi pasar (market cap) besar mencapai Rp 59,78 triliun dan didukung free float besar. “Potensi masuk dalam perhitungan MSCI index bisa mendongkrak harga saham AADI tahun ini,” tulisnya dalam riset yang diterbitkan di Jakarta, pekan lalu.
Baca Juga
PUPS Rampung, Alamtri Resources (ADRO) Sisakan 15,37% Saham Adaro Andalan (AADI)
Terkiat kinerja keuangan tahun 2025, dia mengatakan, laba bersih AADI diproyeksikan turun menjadi Rp 722 miliar tahun 2025, seiring dengan asumsi penurunan rata-rata harga jual batu bara berkisar 5% tahun ini.
Sedangkan volume penjualan diperkirakan tetap stabil berkisar 65-66 juta ton. “Kami juga menilai bahwa AADI akan menjadi pemegang IUPK yang bakal diuntungkan, jika pemerintah menurunkan tarif royalty batu bara ke level 12%. Saat ini, AADI membayarkan royalty berkisar 23% dari total pendapatan,” terangnya.
Berbagai faktor tersebut mendorong Sinarmas Sekuritas menargetkan pendapatan AADI tahun ini menjadi US$ 5,26 miliar, dibandingkan perkiraan tahun 2024 US$ 5,61 miliar. Laba bersih juga diperkirakan mencapai US$ 722 juta tahun ini, dibandingkan proyeksi tahun 2024 senilai US$ 1,09 miliar.
Baca Juga
Boy Thohir Jelaskan Alasan Perubahan Nama Adaro Jadi Alamtri
Didukung dua isu tersebut, Sinarmas Sekuritas merekomendasikan beli saham AADI dengan target harga Rp 15.000. Target tersebut mengimplikasikan perkiraan PE tahun 2025 sekitar 10 kali. Target harga tersebut juga memperitmbangkan keberhasilan perseroan mempertahankan keuntungan dan dividen.
Dengan harga penutupan saham AADI level Rp 7.675 pada perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) akhir pekan lalu, terbuka peluang penguatan sebanyak 95% dalam 12 bulan ke depan.

