IHSG Babak Belur 8,40% Ytd, Berikut Faktor Pemicunya hingga Daftar Saham Undervalued
JAKARTA, investortrust.id – Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) telah mencatatkan penurunan sebanyak 8,40% year to date (ytd) tahun 2025. Bahkan, indeks telah mencapai level terendah baru lebih dari tiga tahun terakhir setelah ditutup terpuruk menjadi 6.485 pada penutupan perdagangan saham Kamis (27/2/2025).
Sedangkan pada penutupan perdagangan hari ini, IHSG rontok 120,73 poin (1,83%) menjadi 6.485, bahkan indeks sempat menyentuh level intraday 6.443. Penurunan tersebut juga sejalan dengan massifnya penjualan bersih (net sell) saham oleh pemodal asing bernilai Rp 1,87 triliun, sehingga total net sell ytd telah mencapai Rp 18,98 triliun.
Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana alias Didit menilai koreksi dari IHSG ini sejalan dengan bursa global dan Asia yg juga kompak terkoreksi. “Koreksi IHSG hari ini dibebani oleh emiten-emiten big cap khususnya perbankan setelah kemungkinan dikeluarkan kebijakan bank Himbara wajib untuk memberikan pendanaan program 3 juta rumah,” ungkap Didit kepada investortrust.id, Kamis (27/2/2025).
Baca Juga
Astra International (ASII) Usulkan Dividen Final Tahun Buku 2024 Rp 308 per Saham, Yield Segini
Sebagaimana diketahui, Ketua Satuan Tugas Perumahan sekaligus adik Presiden Prabowo Subianto, Hashim Djojohadikusumo, pada Rabu (26/2/2025) memberi sinyal bahwa pemerintah akan mewajibkan himpunan bank milik negara (Himbara) untuk memberikan pembiayaan bagi program pembangunan 3 juta rumah per tahun yang direncanakan oleh pemerintah.
Selain faktor tersebut, Didit mengatakan, penurunan indeks dalam beberapa hari terakhir juga dipengaruhi sikap investor yang cenderung wait and see terhadap Badan Pengelola (BP) Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara).
Pandangan hampir senada diungkapkan Pengamat Pasar Modal Panin Sekuritas Reydi. Menurut dia, peresmian Danantara juga sedikit banyak berpengaruh terhadap pergerakan IHSG beberapa hari terakhir. “Pasalnya pemerintah belum menginformasikan secara terang benderang mengenai kepastian hukum, sumber penganggaran dana, serta potensi perubahan perilaku dalam pembagian dividen pada emiten-emiten BUMN yang selama ini dikenal konsisten membagikan dividen setiap tahunnya,” ucap Reydi saat dihubungi investortrust.id Kamis, (27/2/2025).
Hal tersebut, ujar Reydi, berpengaruh terhadap perilaku investor saham jangka pendek untuk sementara menghindari emiten BUMN yang bakalan di kelola oleh Danantara hingga kepastian hukum dan alurnya lebih jelas. Hal ini bisa dilihat dari aksi jual saham-saham BUMN dalam beberapa hari terakhir.
Morgan Stanley
Berlanjutnya koreksi indeks dalam beberapa pekan terakhir hingga ke bawah level 6.500, terang Reydi, dikarenakan outflow dana asing yang massif setelah Morgan Stanley yang memangkas peringkat saham RI dari Equal-weight menjadi underweight dalam laporannya dalam indeks MSCI tempo hari.
“Mereka menilai secara garis besar pertumbuhan ekonomi di tanah air kalah menarik dari pertumbuhan ekonomi di China, sehingga valuasi saham China dinilai Morgan Stanley lebih menarik ketimbang Indonesia. MSCI terus mengurangi porsi saham di Indonesia dan pada tanggal 28 Februari mendatang akan ada kepastian hasil rebalancing dari indeks MSCI yang berpotensi mengakibatkan outflow asing akan tetap berlanjut,” terang dia.
Baca Juga
Morgan Stanley kembali Buang Saham MD Entertainment (FILM), Nilainya Jumbo
Morgan Stanley sebelumnya telah memangkas peringkat MSCI Indonesia dipicu ketidakpastian ekonomi dalam negeri. Morgan Stanley dalam riset yang diterbitkan pekan lalu mengungkap bahwa peringkat saham MSCI Indonesia dipangkas dari equal weight menjadi underweight.
Penurunan tersebut berbanding terbalik dengan Morgan peringkat indeks MSCI China yang justru dinaikkan dari underweight ke equal weight. Tren return on equity (ROE) di China lebih menguntungkan didorong upaya swadaya dari bawah ke atas (bottom-up self help) di sektor-sektor yang memiliki beban berat terhadap indeks.
Kondisi tersebut berbanding terbalik dengan ROE Indonesia yang justru menunjukkan penurunan akibat oleh memburuknya kondisi pertumbuhan siklus dalam negeri. “Indonesia menghadapi hambatan pertumbuhan. Valuasi relatif sedang terjadi penyesuaian, tetapi kemungkinan besar masih perlu ditingkatkan,” ujar Equity Strategist Morgan Stanley Jonathan Garner melalui risetnya.
Analis Pasar Modal sekaligus Founder Stocknow.id Hendra Wardana juga mengamini pandangan Reydi. Menurut Hendra, penurunan IHSG beberapa hari ini dipengaruh berlanjutnya tekanan jual saham oleh investor asing terhadap saham-saham big cap, seperti BBRI, BBCA, BMRI, dan BRIS.
“Salah satu pemicu utama tekanan ini adalah keputusan Morgan Stanley yang menurunkan peringkat saham MSCI Indonesia dari equal weight menjadi underweight. Lembaga ini menilai return on equity (ROE) saham-saham di Indonesia terus melemah, sementara pertumbuhan ekonomi masih stagnan,” kata Hendra kepada investortrust.id Kamis, (27/2/2025).
Keterpurukan IHSG juga diperparah oleh ketidakpastian pasar terhadap keberadaan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara). “Institusi yang digadang-gadang sebagai Temasek-nya Indonesia ini diharapkan mampu mengoptimalkan aset negara dan menarik investasi asing, malah menjadi boomerang bagi pasar saham,” terang Hendra.
Namun, masih banyak pertanyaan yang muncul terkait efektivitas dan transparansi pengelolaannya. Hendra memandang investor tampaknya masih ragu apakah Danantara akan benar-benar menjadi katalis positif bagi perekonomian atau justru menambah risiko baru bagi stabilitas keuangan negara.
Nilai Tukar
Sementara itu, Head of Marketing, Strategy and Planning Kiwoom Sekuritas Indonesia Oktavianus Audi Kasmarandana mengatakan, tekanan terhadap pergerakan indeks dalam beberapa hari ini dipicu berlanjutnya pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar AS. Tekanan tersebut menunjukkan respons negatif dari pelaku pasar, yang menangkap adanya ketidakstabilan dalam negeri.
Berdasarkan data, Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) dengan tercatat menyentuh level Rp 16.445 atau menembus level resistance di Rp 16.400. “Kami melihat pasar cenderung merespons negatif terkait pelemahan yang menunjukkan ketidakstabilan dalam negeri,” tegas Audi.
Baca Juga
Dari luar negeri, sentimen terkait kebijakan tarif Trump masih menjadi narasi kuat dan berdampak negatif terhadap pasar saham, baik di Indonesia maupun global. “Yang terbaru adalah tarif resiprokal sebesar 25% terhadap barang Uni Eropa,” sambungnya.
Pelemahan indeks juga dipengaruhi penurunan indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) Indonesia menjadi underweight. “Karena poin utamanya adalah penurunan EPS dan juga sentimen fluktuasi nilai Rupiah,” lanjut Audi.
Pilih Saham Blue Chip
Meski pasar saham masih menghadapi ketidakpastian, Audi mengatakan, saat ini sentimen yang dapat menopang IHSG adalah rilis kinerja kuartal I-2025, khususnya dari emiten dengan dividen tinggi. Jika memang memberikan hasil positif, pasar dapat kembali menarik.
Dia melanjutkan, pembalikan arah IHSG akan ditentukan empat faktor, yakni ketika kebijakan tarif AS sudah mulai mereda, serta kebijakan bank sentral yang lebih dovish dengan adanya potensi pemangkasan suku bunga.
Faktor ketiga adalah normalisasi nilai Rupiah, dan keempat adalah kinerja emiten sepanjang kuartal I-2025 yang masih bertumbuh atau di atas ekspektasi pasar. Di tengah sejumlah sentimen tersebut, Kiwoom Sekuritas Indonesia masih melihat peluang sejumlah saham dengan dividen tinggi. Kiwoom merekomendasikan buy saham SIDO dengan target harga Rp 670, trading buy saham PGAS dengan target harga Rp 1.760. Kemudian buy saham BRIS dan BBCA dengan target harga masing-masing Rp 3.400 dan Rp 10.400.
“Kami berpandangan dengan sentimen di atas, pemodal masih memiliki peluang untuk mendapatkan gain, asalah memilih saham secara selektif. Di antaranya melihat peluang menarik pada saham dividen tinggi, namun yang harganya terdiskon di pasar,” terangnya.
Sementara itu, Hendra mengatakan, meskipun sentimen negatif mendominasi, kondisi ini juga membuka peluang bagi investor yang jeli dalam mencari saham berfundamental kuat dengan valuasi yang sudah lebih murah.
Beberapa saham yang bisa dipertimbangkan untuk akumulasi antara lain EMTK dengan target harga Rp 600, PSAB di level Rp 290, dan ANTM dengan target Rp 1.745. “Sektor tambang, terutama emas dan nikel, bisa menjadi pilihan defensif di tengah ketidakpastian pasar,” jelasnya.
Dari sisi teknikal, Hendra mencermati IHSG kini berada dalam tren turun dengan kecenderungan menguji support psikologis di level 6.400. Jika level ini tidak mampu bertahan, tekanan jual bisa semakin besar. Namun jika ada sentimen positif yang muncul, rebound teknikal masih berpotensi terjadi dengan resistance 6.600.
“Dalam kondisi seperti ini, strategi terbaik bagi investor adalah tetap selektif dalam memilih saham, menghindari kepanikan, dan fokus pada saham dengan prospek jangka panjang yang kuat,” bebernya.

