JAKARTA, investortrust.id - Nilai tukar (kurs) rupiah terkoreksi makin dalam hingga melewati level Rp 16.400 per dolar Amerika Serikat. Jisdor Bank Indonesia (BI) mencatat mata uang rupiah ditutup melemah 44 poin (0,26%) ke level Rp 16.431 per dolar AS.
 
Pada perdagangan di pasar spot valas, mata uang Garuda juga terperosok imbas menguatnya indeks dolar AS. Dilansir Yahoo Finance kurs rupiah bergerak melemah 81 poin (0,49%) ke level Rp 16.445 per dolar AS.
 
Presiden AS Donald Trump mengancam akan mengenakan lebih banyak tarif perdagangan global, setelah mengatakan tarif impor 25% terhadap Eropa akan segera berlaku. Namun, ia juga mengisyaratkan potensi perpanjangan tenggat waktu 2 Maret untuk bea masuk 25% terhadap Kanada dan Meksiko, hingga awal April," papar pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi dalam keterangan tertulis, Jakarta, Kamis (27/02/2025).
Sementara itu, DPR AS yang dikendalikan Partai Republik memberikan suara pada Selasa malam, untuk menyetujui paket pemotongan pajak dan langkah-langkah keamanan perbatasan senilai US$ 4,5 triliun. Ini untuk memajukan rancangan undang-undang (RUU) yang mencakup banyak prioritas terbesar Presiden Trump pada tahun 2025.
 
 
Ibrahim juga menjelaskan, pelaku pasar tetap fokus pada pembicaraan damai Rusia-Ukraina yang diinisiasi Trump. Trump mengatakan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy akan mengunjungi Washington pada hari Jumat, untuk menandatangani perjanjian tentang mineral tanah jarang. Sementara itu, pemimpin Ukraina mengatakan keberhasilan kesepakatan akan bergantung pada pembicaraan tersebut dan bantuan AS yang berkelanjutan.
 
 
Kekhawatiran Melambatnya Konsumsi Swasta
Ia memaparkan pula mengenai rilis data kepercayaan konsumen yang lebih lemah dari perkiraan untuk bulan Februari. Hal ini lantaran meningkatkan kekhawatiran atas melambatnya konsumsi swasta.
 
"Pengeluaran swasta merupakan pendorong utama ekonomi AS, dan kini menghadapi tekanan dari tarif Trump, inflasi yang tinggi, dan kenaikan harga pangan," kata Ibrahim.
 
Para pedagang bertaruh bahwa ekonomi AS yang mendingin akan memberi Federal Reserve lebih banyak dorongan untuk memangkas suku bunga, yang akan menjadi pertanda buruk bagi dolar. Imbal hasil US Treasury note juga turun karena gagasan ini, dengan ancaman tarif Trump yang cenderung menguntungkan dolar diperkirakan tidak akan banyak membantu.