Bukan Karena Stock Split, Faktor Ini Disebut Jadi Pemicu Utama Lonjakan Saham DCI Indonesia (DCII)
JAKARTA, investortrust.id – Saham PT DCI Indonesia Tbk (DCII) menjadi sorotan utama dalam sepekan terakhir setelah mengalami lonjakan harga yang luar biasa. Dalam periode singkat, harga sahamnya melonjak hingga dua kali lipat, bahkan mencapai level tertinggi sepanjang masa di Rp 116.125 per saham pada perdagangan sesi II hari ini, Rabu (26/2/2025).
Berdasarkan data perdagangan saham BEI, saham DCII berhasil catatkan penguatan hingga auto reject atas (ARA) dalam limar hari beruntun. Saham DCII telah melesat dari level Rp 46.700 pada 18 Februari menjadi Rp 116.125 pada 26 Februari 2025 atau telah melambung 148,66%, bahkan saham DCII dihentikan sementara kemarin.
Lompatan harga tersebut kapitalisasi pasar (market cap) DCII melambung ke Rp 276,72 triliun kini bertengger sebagai emiten dengan kapitalisasi terbesar ke tujuh di BEI. DCII hari ini berhasil menyalip market cap PT Astra International Tbk (ASII) Rp 185 triliun, PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) Rp 209,34 triliun, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) Rp 247,65 triliun, dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) senilai Rp 275,45 triliun.
Baca Juga
Dahsyat! Market Cap Saham DCII Salip TLKM hingga DSSA sampai Otto dan Marina Makin Tajir
Analis Pasar Modal sekaligus Founder Stocknow.id Hendra Wardana menilai. kenaikan tajam DCII ini dipicu oleh euforia pasar terhadap rencana pemecahan saham (stock split) yang diumumkan oleh Presiden Direktur sekaligus pengendali terbesar saham DCII Otto Toto Sugiri pekan lalu.
Sebagaimana disebutkan dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), saham DCII mengonfirmasi telah mengajukan permohonan persetujuan prinsip untuk aksi korporasi tersebut melalui Surat Permohonan Persetujuan Prinsip dalam rangka Pemecahan Saham No. 004/DCI.ID/DIR/II/2025 tertanggal 19 Februari 2025.
"Fenomena kenaikan saham DCII ini bukan sekadar respons terhadap aksi korporasi semata, tetapi juga dipengaruhi oleh tren pertumbuhan industry data center yang semakin pesat di Indonesia," ucap Hendra saat dihubungi investortrust.id Rabu, (26/2/2025).
Baca Juga
IHSG Ditutup Rebound 0,29% hingga Enam Saham Cetak ARA Dipimpin DCII
Di mana, menurut Hendara, sebagai salah satu pemain utama di sektor ini, DCII diuntungkan oleh peningkatan kebutuhan infrastruktur digital dan layanan komputasi awan (cloud computing) yang menjadi fondasi utama dalam transformasi digital nasional.
"Selain itu, sentimen positif terhadap saham DCII juga diperkuat oleh keberadaan Danantara Indonesia, lembaga investasi nasional yang baru saja diluncurkan pada 24 Februari 2025 dengan rencana investasi sebesar US$ 20 miliar di berbagai sektor, termasuk pengolahan logam dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI)," terang Hendra.
Meskipun hingga saat ini belum ada konfirmasi resmi terkait investasi langsung Danantara di DCII, ekspektasi bahwa dana tersebut akan mengalir ke sektor data center telah menjadi katalis tambahan bagi kenaikan harga saham.
Namun, lonjakan harga yang begitu cepat juga mengundang perhatian regulator. BEI mengambil langkah penghentian sementara (trading halt) atas perdagangan saham DCII pada 25 Februari 2025 untuk memberikan waktu bagi investor dalam mempertimbangkan informasi yang ada sebelum mengambil keputusan investasi lebih lanjut. Langkah ini diambil setelah saham DCII mengalami empat kali auto reject atas (ARA) berturut-turut, yang menunjukkan adanya risiko volatilitas tinggi dan potensi aksi ambil untung (profit taking) dalam jangka pendek.
Baca Juga
Borong Saham Emtek (EMTK), Pemegang Saham Ini Gelontorkan Dana Rp 900 Miliar
"Ke depan, tantangan bagi DCII adalah bagaimana mereka dapat mengoptimalkan momentum ini untuk memperkuat ekspansi bisnis dan menarik investor strategis yang dapat mendukung pertumbuhan jangka panjangnya. Jika perusahaan mampu mengeksekusi rencana ekspansi dengan baik, termasuk memperbesar kapasitas data center dan menjalin kemitraan strategis, maka prospek bisnisnya akan semakin solid," ucap dia.
Di sisi lain, Hendra melihat investor perlu mencermati valuasi saham DCII yang telah mengalami lonjakan signifikan agar dapat mengambil keputusan investasi yang lebih bijak. "Dengan fundamental bisnis yang kuat, dukungan tren digitalisasi nasional, serta potensi masuknya investasi besar di sektor ini, DCII tetap menjadi salah satu emiten teknologi yang menarik untuk dipantau dalam beberapa waktu ke depan," tutur Hendra.

