IHSG Ditutup Rebound 0,29% hingga Enam Saham Cetak ARA Dipimpin DCII
JAKARTA, investortrust.id – Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (25/2/2025), berhasil ditutup rebound sebanyak 19,09 poin (0,29%) menjadi 6.606. Pergerakan indeks dalam rentang 6.547-6.682 dengan nilai transaksi Rp 8,58 triliun.
Penguatan indeks ditopang penguatan empat sektor saham, seperti sektor teknologi 8,72%, sektor consumer primer 0,45%, sektor kesehatan 0,43%, dan sektor infrastruktur 0,08%. Sebaliknya penurunan melanda saham sektor consumer non primer 2%, sektor material dasar 0,84%, sektor industry 0,47%, sektor keuangan 0,18%, dan sektor energi 0,21%.
Baca Juga
Di tengah penguatan indeks hari ini, sejumlah saham berikut bukukan penguatan hingga auto reject atas (ARA), seperti saham PT Indal Aluminium Industry Tbk (INAI) menguat 34,43% menjadi Rp 164, PT Vastland Indonesia Tbk (VAST) naik 34,83% menjadi Rp 120, dan PT Wahana Pronatural Tbk (WAPO) melesat 34,43% menjadi Rp 164.
Penguatan hingga ARA juga melanda saham PT Lion Metal Works Tbk (LION) naik 24,42% menjadi Rp 540, PT Adiwarna Anugerah Abadi Tbk (NAIK) sebanyak 24,38% menjadi Rp 505, dan PT DCI Indoensia Tbk (DCII) melesat sebanyak 19,99% menjadi Rp 116.125.
Penguatan juga melanda saham PT Vastland Indonesia Tbk (VAST) naik 21,35% menjadi Rp 108 dan PT Adiwarna ANugerah Abadi Tbk (NAIK) menguat 20,69% menjadi Rp 490.
Baca Juga
Tangguh Di Tengah Tantangan Ekonomi, Timah (TINS) Raih Penghargaan Best Stock Award 2025
Sebaliknya saham dengan penurunan terdalam akhir hari ini, yaitu saham PT Bintang Samudera Mandiri Lines Tbk (BSML), PT Kobexindo Tractors Tbk (KOBX), PT Bank Permata Tbk (BNLI), PT Indomobil Sukses Internasional Tbk (IMAS), dan PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk (PACK).
Kemarin, IHSG ditutup anjlok dalam hingga 162,51 poin (2,41%) menjadi 6.587 diperparah penjualan bersih (net sell) saham jumbo bernilai Rp 1,63 triliun didominasi saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) Rp 663,11 miliar, PT Bank MandiriT bk (BMRI) Rp 300,34 miliar, dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) Rp 216,26 miliar.
Koreksi ini dipicu atas kejatuhan seluruh sektor saham, seperti sektor material dasar anjlok 3,45%, sektor consumer primer 3,26%, sektor industry 2,51%, sektor energi 2,62%, sektor consumer non primer 2,18%, sektor teknologi 2,12%, sektor property 1,73%, sektor infrastruktur 1,81%, dan sektor keuangan 0,73%.

