Laju Harga Minyak Kian Terpuruk, Ini Pemicunya
JAKARTA, investortrust.id - Pergerakan harga minyak berjangka Brent turun 41 sen (0,5%) menjadi US$ 75,55 per barel pada 0149 GMT, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun 75 sen (1%) diperdagangkan pada US$ 72,41 per barel, Selasa (4/2/2025).
Riset Indonesia Commodity and Derivative Exchange (ICDX) memaparkan, harga minyak masih berada pada tren turun (bearish) tertekan oleh sentimen dari keputusan OPEC+ untuk tetap meningkatkan produksi sesuai rencana, dan ancaman tarif Trump.
"Meski demikian, proyeksi positif dari Vitol dan potensi gangguan pasokan minyak Nigeria membatasi penurunan harga lebih lanjut," tulis riset ICDX, Selasa (4/2/2025).
Wakil Perdana Menteri Rusia Alexander Novak pada hari Senin mengatakan bahwa OPEC dan sekutunya telah membahas seruan Trump untuk meningkatkan produksi, dan akhirnya menyepakati akan mulai meningkatkan produksi secara bertahap, dengan kenaikan bulanan sebesar 138.000 bph mulai 1 April, sesuai dengan rencana sebelumnya.
Selain itu, dalam pertemuan yang berlangsung pada hari Senin, kelompok produsen juga sepakat untuk mengeluarkan EIA dari sumber yang digunakan untuk memantau produksi dan kepatuhan terhadap pakta pasokan.
"Turut membebani pergerakan harga, Presiden AS Donald Trump pada hari Senin menyetujui untuk menangguhkan ancaman tarif 25% terhadap Meksiko dan Kanada yang akan berlaku pada hari Selasa selama 30 hari, namun tarif 10% pada impor energi dari Kanada, masih akan tetap berlaku mulai hari Selasa," ulas riset tersebut.
Baca Juga
Di sisi lain, tarif 10% terhadap China masih akan berlaku sesuai jadwal yaitu mulai pukul 12:01 ET pada hari Selasa. Bahkan, Trump memperingatkan bahwa ia mungkin akan menaikkan tarif lebih lanjut terhadap China apabila fentanil masih beredar di AS.
"Sementara itu, permintaan minyak global diperkirakan akan tetap pada atau sedikit di atas level saat ini hingga 2040, meskipun ada target pengurangan konsumsi energi berbasis fosil dan emisi CO2, ujar Vitol," urainya.
Baca Juga
Harga Minyak Dunia Menguat di Tengah Keputusan Trump Terkait Tarif Kanada-Meksiko
Pedagang minyak independen terbesar di dunia itu memperkirakan permintaan minyak akan naik menjadi hampir 110 juta bph pada akhir 2020-an, kemudian akan mencapai titik jenuh hingga pertengahan dekade berikutnya, sebelum turun menjadi sekitar 105 juta bph pada tahun 2040.
"Dukungan lainnya datang dari Nigeria yang pada hari Senin mengumumkan akan menolak izin ekspor untuk kargo minyak dari produsen yang gagal memenuhi kuota pasokan yang ditetapkan untuk kilang lokal, termasuk Kilang Dangote, yang terbesar di Afrika," paparnya.
Melihat dari sudut pandang teknis, ICDX memperkirakan harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level US$ 75 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level US$ 70 per barel.

